We Got Married (Last Part)

“mwo?? menikah?? sejauh itukah??” kiseop hyung kaget & jongkok memandang kami

“nee” jawab kami bersamaan

“kalian apa bisa mengurusnya? nara, kau mengurus dirimu saja tak bisa? & skg harus mengurus kibum & chulie. bagaimana nanti??” Ji Hoon ahjussi mengelus rambut nara

“ah, itu aku akan membantunya mengurus chulie, ahjussi, jgn khawatir” aku membela nara

“kau, apa yg kau bisa, kibum? kalian masak saja tak bisa. kalian sungguh, ah, molla” kiseop hyung menatapku miris

“geurae. kamarmu saja terkadang nara yg rapikan. hidup kalian belum matang” imbuh appa. ahjussi, hyung, & appa menceramahi kami. blm pasti di izinkan atau tidak, kami hanya diam mendengar semua fakta2 ttg kami. nara menangis dg menggendong chulie yg tertidur, aku yg hanya berpikir, kasihan chulie. tapi aku tak ingin berpisah dg mereka. aku terlanjur sayang pada chulie, & sangat mencintai nara

 

“menikahlah” mwo?? aku kaget mendengar ahjumma berkata menikahlah

“mwo??” “what??” “mwo?” “ahjumma?” “oemma??” kami semua kaget & melihat ke arah Chae Gyeong ahjumma

“menikahlah & jagalah chulie dg baik. beri dia nama yg bagus & siapkan kamar tuk dia tidur. aku lelah, ingin istirahat. nara, kibum, siapkan peralatan mandi & makan chulie, sudah jam 7” imbuh ahjumma sambil berjalan masuk ke arah kamar

“jjinja?? appa?? ahjussi? oppa??” yakin nara

“ah, aku ikut sajalah. yah, aku di dahulukan. haha” kiseop hyung mengacak-acak rambutku.

“yaa, baiklah. sekolah di utamakan juga” imbuh appa & Ji Hoon ahjussi

“ah, tapi jika sudah berkeluarga, sekolah & keluarga utama” imbuh kiseop hyung

“lakukanlah dg baik mulai skg. belajarlah bekerja sama, nara-ssi, kibum-ssi, arasso??” ucap ahjussi. kami langsung memeluk ahjussi & berlari memeluk ahjumma. ah aniyo, skg dia oemma & appaku. gamsahamnida

 

** 3 bulan kemudian **

 

Nara

“yaa! aku ingat 1,5 bulan yg lalu, bumie-ah” teriakku dari halaman depan. oh iya, 3 bulan telah berlalu. 1,5 bulan yg lalu kami menikah. appa & ahjussi membuat rumah kecil diantara rumahku & kibum. rumah yg masih butuh pengawasan orang tua. rumah kecil yg berisi aku, kibum, dan heechul alias chulie.  kami hidup sebagai siswa homeschooling, orang tua, anak, pekerja, dan peran rumah tangga. saat itu KISS heboh karena kami  mengundurkan diri, & menikah

 

“ingat apa?” jawab kibum singkat

“KISS yg terguncang saat kita menikah, & saat kita mengundurkan diri tuk homeschooling” aku tertawa jika mengingat semua hal itu

“aku yg repot, babo yeoja!!” yaa, saat itu kibum paling repot. lelaki yg mengincarku sangat banyak, mereka marah2 ke kibum. belum lg fans2 kibum yg menggila. tapi kibum pura2 tenang, walaupun saat itu dia yg paling stres. hahaha

“mianhae, uri kim kibum” aku mencium bibirnya kilat, dia kaget dan tertawa

“hahaha. arasso, uri Kim Nara” dia memelukku. mwo?? Kim nara?

“kim nara? ya!! na neun han nara. babo namja” aku memukul pelan kibum, tapi tatapan kibum miris. astaga menakutkan, aku langsung terdiam

“mwo?? waeyo??” tanyaku pada kibum

“your name was change. Kim Na Ra, just like my name. you got it. aigoo, kenapa lupa??” kibum menjitak kepalaku pelan, lalu memelukku

“omo? ah, mianhae, chagi. haha” aku melepas pelukan kibum & menyatukan telapak tangan tanda menyesal. aku terkadang lupa bahwa aku sekarang adalah istrinya, dan namaku adalah Kim Nara

“ah, ara, ara, kau itu ..” belum sempat kibum melanjutkan kata-katanya chulie menangis

 

“huwaaa…huwaaa…”

 

“woah, chulie menangis, bumie-ah. ppalli, ppalli” aku & kibum berlari ke dalam tuk melihat keadaannya. ternyata dia bangun tidur, kami sampai panik. kami tertawa melihatnya bangun tidur, senyumnya membuat kami hangat

 

Kibum Pov

nara menggendong chulie dg pebuh kasih sayang

“ya sudah, kita mandi saja ya chulie. mandi dengan oemma ya” nara mencium chulie

“mwo? mandi bersama” aku menarik tangan nara

“geurae, waeyo?” tanya nara

“ah, aniyo, hanya saja aku… eumm, aku..” aku ingin bilang aku ingin dekat denganmu. masa 1,5 mencium bibirmu saja belum pernah, apalagi melakukan hal yg lebih jauh lagi. tapi aku malu mengatakannya

“bagaimana kita mandi bersama” teriakku spontan. aku langsung terdiam, ini terlalu jauh di bandingkan menciumnya

“bagaimana chulie? bolehkah?” tanya nara pada chulie

“appa, appa, appa” jawab chulie, nara hanya tersenyum, dan memberikan handuk yg ada di pundaknya kepadaku

“ayo cepat, sudah sore” nara tersenyum malu, lalu berjalan ke arah kamar mandi utama

“yess” bathinku

“chakkanman, chagi-ah” aku merangkul nara & chulie. mandi bersama dengan istriku & anakku. di umur yg ke 17 ini aku mendapat hal yg sangat luar biasa & melakukan hal yg semuanya adalah yg pertama

 

mulai sekarang, tak hanya ada kau dan aku, kami. tapi ada dia, kami menjadi kita. aku, kibum, dan chulie. berharap semua bisa kami atasi. walaupun sangat tidak mudah, namun kami akan berusaha. masalah bagaimana kami kedepannya, kami hanya akan jalani semua dg baik. tersenyumlah chulie, senyummu membuat appa & oemma bahagia, arasso, chulie.

 

– FIN –

 

We Got Married (Part 3)

“mwo?? Kibum, Nara?? kalian sedang apa!!”

suara keras menghentikan kami sejenak. suara yg tegas dan tidak asing bagi kami. suara yg bisa membuat kami pernah  terdiam berjam-jam dulu, suara yg sangat berpengaruh di hidup kami, suara yg mungkin akan menjauhkan kami semua

 

“omo, appa?? oemma” “appa??” aku & kibum terdiam di keramaian. kami hanya menunduk, dan kibum masih memeluk erat chulie. orang sekitar kami hanya memperhatikan kami semua

 

ya Tuhan apakah ini akhir dari semua? tak bisakah berjalan seperti hari ini lagi tuk waktu yg lama? aku tak ingin jauh dari chulie. dan saat ini, kibum adalah cahaya di hatiku. haruskah berakhir di saat yg bersamaan??

 

** di rumah Nara **

Kibum

Braaakkk

“yaa!! kalian, apa-apan ini!” appa & ahjussi menggebrak meja, ! membentak kami. chulie sudah di amankan, di taruh kamar Nara di lantai 2. dia tertidur

“appa, dengarkan aku” Nara menangis. dia tak bisa di bentak

“Nara-ah, kau kenapa tak jujur. kalian..” ahjumma menangis memandang kami miris

“appa, kami bisa jelaskan. ahjussi, ahjumma, dengarkan kami” aku mencoba menghampiri mereka, tp nara menahanku

“chulie, namanya chulie, appa” nara berdiri & menjelaskan

“kami menemukan dia di lorong menuju rumah. kami melihat dia kelaparan & menangis, appa. apa kami jahat?” aku mencoba meyakinkan appa ku

“tapi kalian seperti keluarga tadi. aku melihat dari jauh sejak kalian keluar mall. tak sadarkah kalian begitu, ah, kalian tampak seperti ayah, ibu, dan bayi..??” ahjumma menunjuk-nunjuk kami sambil menangis miris

“aku ingin chulie jadi anakku! aku ingin dia jadi bagian dari hidupku, oemma, appa” Nara berdiri & dg lantang berbicara pada orang tuanya

“mwoo?? apa maksudmu” aku kaget & berbisik ke nara

“anak? oh, ternyata benar. chulie anak kalian kan? keterlaluan kau kibum!!” appa membentakku & mulai marah2. appa ku sangat tegas, ini yg aku takut dari appa

“aniyo, aniyo, kami menemukannya, ahjussi” Nara berlari ke arah appa & ahjussi, dan memegang lengan mereka

“kami sayang chulie, appa” imbuhku

“Nara-ah, kau anakku satu-satunya. kenapa??” Chae Gyeong ahjumma menangis. nara hanya terdiam

“chulie adalah bayi yg kami temukan. tapi kami sudah menganggapnya bagian kami. chulie anakku sekarang!! aku tak mau dia di ambil dari ku!! andwae, andwae!!” nara menangis, berteriak, dan berlari keluar rumah meninggalkan kami

“nara-ah” “nara-ah” “yaa! Han Nara” kami semua mencoba memanggil tapi tak di hiraunya

“kibum, kejar dia. tenangkan dia. ppalli!! ppalli!!” perintah appa padaku, aku pun langsung berlari mengejar nara. tapi dia tak ada. aku tau dia dimana, tempat yg biasa kami datangi jika sedang masalah

 

*sungai Han*

Nara

“aku hanya ingin memiliki chulie. apa aku salah, Tuhan?” aku merunduk, tiba2 ada orang yg mendekapku, suaranya bisa ku kenali

“aniyo, kau tidak salah. aku juga sayang padanya, nara” kibum dengan napas yg sedikit tersengal, mungkin dia berlari mencariku

“pasti setelah ini chulie akan di bawa pergi. pergi dari kita. andwae, andwae. bumie-ah, katakan sesuatu pada mereka!! please, i love him so much, bumie-ah” aku mencengkeram lengan kibum. dia memelukku erat

“sudah, tenangkan hatimu. setelah itu kita pulang. ara?” kibum menghapus air mataku. kami duduk tuk berpikir apa yg harusnya kami lakukan. lama sekali kami terdiam

“ah, kita menikah, kibum!! bagaimana??”

“mworagoo??? yaa!! babo nara. aigoo, jjinjaa!! how dare you say it now? we are high school student isn’t we?”  aku dapat ide, ide konyol yg membuat kibum berteriak keras karena kaget

“ara, ara, kan hanya status. kau cinta padaku bukan??” aku mendekatkan wajahku padanya, lalu kibum mendekatkan keningnya pada keningku, lalu memelukku

“saranghaeyo, jeongmal saranghaeyo, nara. bagaimana kita membiayainya? mengurus bayi tidak mudah, siapa yg nanti menjaganya ketika kita sekolah? kita masih…” aku melepaskan pelukan kibum, & menyentuh wajah kibum

“sekolah, benar. kita bawa dia. atau kita bisa homeschooling, jadi bisa tetap menjaganya. iya, benar, itu ide bagus kan, bumie??” aku exited dg ideku kali ini. tapi kibum hny diam memperhatikan, dan tersenyum padaku

“kau begitu menyayanginya ya, nara??” tanya kibum

“geurae. sejak saat itu, aku adalah ibunya, dan aku ingin anakku ada di sampingku, bumie-ah” aku tersenyum pada kibum, lalu menggengam tangannya

 

** 3 jam kemudian **

 

“wah, matahari muncul, sudah lama ya kita disini. kajja kita pulang, kita hadapi ya, calon istriku sayang” kibum menggandengku menuju rumah. aku tak tau bagaimana menjelaskannya. tapi saat ini Kibum & Chulie adalah lelaki yg sangat amat ku cintai setelah appa ku. aku tak ingin pisah dari mereka. aku akan mencoba yg terbaik

 

* di depan rumah nara*

kibum

“siap?” tanyaku pada nara

“nee, kajja!” tangannya semakin erat menggenggam tanganku

 

“yaa!! kalian berulah apalagi?” suara lantang, aku langsung tau dia siapa

“hyung??” “oppa??” aku & nara menjawab bersamaan

“kenapa bisa??” nara menunjuk kiseop hyung

“kemarin appa menyuruhku pulang & menjelaskan semuanya di tlp, aku baru sampai 2 jam yg lalu. dasar kalian, berulah setiap waktu. Kajja!!” Kiseop hyung menyeretku & nara bersamaan. dan kami hanya bisa diam, dan diam. di ruang tamu, aku lihat chulie menangis di gendong chae gyeong ahjumma, dia tambah menangis melihat kami. nara langsung berlari ke chulie & menggendongnya. berhasil, chulie diam, dan tersenyum. dia tertawa dlm dekapan nara

“appa, hyung, ahjumma, ahjussi, biarkan aku & nara menikah & menjaga chulie!! ku mohon” aku bersujud & memohon

“aku mohon, oemma. aku akan berusaha sekolah dg baik, & mengurus chulie dg baik jg” nara jg bersujud di sampingku & tangannya memegang kaki ahjumma

“mwo?? menikah?? sejauh itukah??” kiseop hyung kaget & jongkok memandang kami

“nee” jawab kami bersamaan

 

 

To Be Continued  😀

We Got Married (Part 2)

“mwo?? apa ituu ??” Kibum dan aku maju beberapa langkah

“Nara-ah!!! ituuu….” kibum teriak sambil menunjuk yg bergerak itu

“huwaaaaa, bumie-ah!!!”

 

kibum berbalik ke arahku bermaksud menutupiku agar tidak melihat sesuatu itu. tapi aku tetap memperhatikan sesuatu yg bergerak itu

 

“daa… daa.. daa…” mwo? bayi?

 

“omo ni, bumie-ah? itu bayi?” aku menepuk lengan kibum pelan

“mwoo?? ba..bayi siapa disini?” kibum perlahan mendekati bayi itu

“apakah asli? ah aniyo, dia manusia?” tanyaku

 

“babo yeoja!! ini bayi asli!! kotor sekali bajunya!” kibum berteriak dan memanggilku

“omo ni omo na. bayi ini namja yaa, ada *tak usah disebut*. celananya melorot. haha” aku tertawa

 

“yaa!! tak usah kau sebutkan!! itu milikku juga, nara!” kibum malu, dan menunduk. hahaha. aku jadi tidak enak. tapi aku terus tertawa kecil

 

Kibum

“omo ni omo na. bayi ini namja yaa, ada *tak usah disebut*. celananya melorot. haha” nara menunjuk-nunjuk bayi itu

“tak usah kau sebutkan!! itu milikku juga, nara!” hah, jeongmal babo yeoja. hampir saja aku salah tingkah, malu rasanya. untung sudah lama aku kenal dia, jika tidak, aku tinggalkan dia karena malu *pesshh*

 

**kresek kresek**

 

“mwo, bumie-aah. apa itu” nara mendekat padaku, lalu pegangan pada lenganku

“ya tuhan aku bisa jantungan begini terus” jujur aku juga kaget. aku ambil kerikil agar ku bisa melempar sesuatu yg bergerak itu. belum sempat aku lempar sesuatu keluar dari balik dinding

 

“meoong, meoong, meoong” mwoo?? kucing. astaga. berlari tunggang langgang hanya karena kucing?” aku menunjuk-nunjuk kucing itu

“omo?? kucing? kita menghindari kucing bumie-ah? hahaha” Nara tertawa, geli sekali. jujur aku juga geli. mengingat paniknya kami mendengar suara itu tadi

 

“daa… daa… daa…”

 

“mwoo?? bayi itu bicara lagi?” nara menatap bayi yang di hadapanku ini

“arasso. tapi kenapa dia disini sendirian??” aku menggendongnya, dia kurus, kasihan sekali

“omo, bumie-ah, lihat ada surat!!” nara mengambil surat di atas box kecil, dan membacanya

 

“siapapun yg menemukan anak ini, tolong jaga dia dengan baik. umurnya baru 1 tahunan. aku tidak bisa merawat anak ini. ku mohon, tolong jaga dia. tertanda ibu sang bayi. 15 maret 2010”  ternyata bayi ini di buang orang tuanya. kasihan sekali. nara membacanya sangat serius

“15 maret. hmm, kibum sekarang tanggal berapa??” tanya nara

“tanggal 15, ah, tanggal 16!!” jawabku santai

“mworago??” aku & nara saling lihat dan kaget

“ja jadi bayi ini hampir 2 hari tidak makan?? omo ni omo na. kasihan kamu, sayang” nara langsung merebut bayi ini dari gendonganku, memeluknya, dan mencium keningnya. sekilas dia seperti seorang ibu yg rindu pada anaknya. seperti seorang Nara yg berbeda. Nara yg sosoknya belum pernah ku temui

“ayoo kita cari makanan untuk dia. coba lihat ada makanan atau baju ganti tidak?? kotor sekali dia” aku mengambil bayi itu lagi dari gendongan nara. nara mengubek-mengubek box kecil itu

“adanya hanya baju, bumie-ah. berarti benar, dia tidak makan dari kemarin. kejamnya ibu itu” nara menggerutu sambil memakaikan baju itu ke bayi yg ku gendong

 

**20 menit kemudian**

 

“omo na, aegyoo~ , bumie-ah” sekarang bayi ini sudah rapi. jelas saja dia sudah di bersihkan pakai  20 tissue basah & 1 pak kecil tissue kering, di beri parfum Nara yang baunya semerbak seperti bunga, dan di bedaki hingga wangi

 

“mau di namakan siapa bayi ini. yaa setidaknya agar kita tidak bingung” tanyaku pada Nara. biasanya masalah nama dia ahli, karena dia hobby membuat cerpen, dan cerpennya selalu jadi favorit teman-teman

“Ryeowook? Heechul? Taemin? Minhyuk? yang mana yg menurutmu bagus. bagaimana kalo Ryewook? kita bisa panggil dia wookie?” ujar nara sambil menghitung nama dg jarinya yg dengan mudah dia dapatkan saat menutup mata kurang dari 5 detik

“bagaimana jika heechul saja? kita bisa panggil dia chulie? chulie, chulie, chulie?” aku meyakinkan nara agar memilih nama chulie. lebih mudah disebut

“ara, ara. ouww, uri chulie. uri chulie. chulie-ah” nara sepertinya sayang dengan chulie, bayi mungil temuan kami.

“kajja, kita ke taman. sekalian beli makan siang, dan susu bayi tuk chulie” aku menggandeng nara, dan menggendong chulie. kami bernyanyi di sepanjang lorong dan jalan menuju taman. aku merasa ini latihanku sebagai appa dan yeobo suatu saat nanti. menggendong anakku dan menggandeng istriku. hahaha

“mwoo?? apa yg aku pikirkan. Nara?? aish, sudahlah” bathinku

 

Nara

oh my gosh, we got a baby. not mine actually. but we found him today. we called him, chulie. he is cute isn’t it. but i think chulie is so familiar. his face, hmm, i don’t know but i love his face. so cute

 

“kau tau kibum. baru kali ini aku menggendong, memakaikan pakaian, dan mendandani bayi. sangat menyenangkan ya” aku mengelus pipi chulie, mencium chulie

 

“nado, babo yeoja. haha. yak, kita sampai di toko. kau ambil susu bayi, dan susu yg di lemari es, ambilah bubur instan, & makanan bayi. aku & chulie mengambil bbrp makan & minuman ringan, membeli botol susu, mangkuk, sendok, lalu termos kecil, dan meminta air panas tuk membuat susu, dan minuman chulie. arasso??” kibum memberi aba-aba apa yg harus aku beli, dan kau tau, saat mengatakannya kibum seperti seorang ayah yg berbelanja di toko bersama anaknya

 

** 30 menit kemudian **

 

“sudah kau bayar??” aku mengangguk

“kajja kita ke taman, dan cari tempat yg sejuk. kasihan chulie lapar” tanganku kembali di gandeng oleh tangan kibum yg jg penuh belanjaan. aku sih sudah terbiasa seperti ini

 

** di taman **

memasuki taman, aku merasa di perhatikan sekeliling. aku lihat diri dari atas sampai bawah, lihat kibum sampai atas sampai bawah, lihat chulie dari atas sampai bawah. tak ada yg aneh, mengapa mereka melihat kami begitu ya?

“yaa!! waeyo? ada yg salah!” kibum menegurku, dan chulie tersenyum padaku

“ah, aniyo. Kibum, chulie” aku mengelus pipi chulie

“mwo?? aha, arasso. kenapa kami begitu di perhatikan. kami berdua masih memakai seragam sekolah, bergandengan, membawa belanjaan, dan membawa bayi. aigoo~” bathinku. aku tidak bilang apa-apa pada kibum, nanti saja. lebih baik pede saja, bukankah aku ahli **fiuuh**

 

Kibum

“yaa!! waeyo? ada yg salah!” aku menegur nara yg sibuk melihat dirinya, diriku, dan chulie dari atas sampai bawah

“kenapa kau begitu feminim hari ini, babo yeoja?” aku menyenggol bahu nara dan dia tersenyum

“ah, aniyo. gwenchana. baru kali ini aku begitu dekat dg bayi. tak tau kenapa aku sayang sekali padanya. kau tau Kibum, suatu saat nanti aku jg jadi oemma. ini adalah latihanku” wajah nara tampak serius. dia mengutarakan padaku tentang apa yg tadi diam2 aku pikirkan

“geurae. wah, hujan, kajja ke gazebo itu. ppalli, nara” aku berlari sambil menggendong chulie, dan menggandeng nara

“sungguh, ini seperti drama2 yg selalu di lihat nara. entah kenapa aku ingin waktu yg seperti ini di pause saja, agar aku bisa latihan jadi appa dan yeobo yg baik” bathinku

 

** gazebo **

sudah jam 5 kami disini, menunggu hujan reda. Untung sepi. syukurlah, kami bisa membuat makanan tuk chulie

“ayo kita buat makanan. kau lapar chulie??” aku menurunkan chulie dari gendonganku. Aku dan nara sibuk membuat bubur & susu untuknya. chulie hanya bermain dengan gantungan tas boneka milik nara yg sengaja ia lepas

“taraaa, ayo kita minum susu dulu ya, chagi” nara menggendong chulie di peluknya dan meminumkan susu di botol perlahan. setelah susu habis, ia menyuapi chulie dengan bubur beras merah instan yg tadi ia beli. dia cekatan tuk pemula, sangat cekatan mungkin

“manisnya nara. kenapa aku baru sadar sekarang setelah 6 tahun bersahabat. pantas banyak sekali namja KISS yg menembaknya” aku melamun melihat nara sibuk bermain dg chulie dan tertawa, sambil menunggu hujan reda. akhirnya terlihat sisinya yang lain. “Tuhan, bolehkah aku menyukai yeoja ini? oemma, aku menemukannya. seseorang yang dulu pernah kau katakan akan menjadi oemma dari anak-anakku. bisakah aku memilihnya? bolehkah aku memulainya?” bathinku

 

 

To Be Continued 😀

We Got Married (Part 1)

aku adalah anak tunggal di keluargaku. appa & oemma juga anak tunggal di keluarga mereka

 

tetanggaku? ia anak kedua dari dua bersaudara. oemma-nya meninggal 6 tahun yg lalu di Amerika. appa-nya jg tidak menikah lagi. yang ada hanya kakak laki-lakinya. umurnya juga 3 tahun di atas kami.

 

itulah alasan utama kami sangat senang bertemu dengannya. dan sudah terlanjur menyayanginya

 

****

 

namaku Han Nara, dan Kim Kibum adalah tetanggaku. dia pindah sekitar 6 tahun yg lalu dari Amerika di samping rumahku. kami bersahabat sejak itu, karena kami saling terbuka. kami sekarang kelas 2 SMA di Korean International Social Study, dengan kurikulum berbahasa inggris. KISS masuk 5 besar sekolah terbaik di Korea Selatan.

 

ku jelaskan sedikit tentang kami, bukannya sombong atau apa. aku adalah pemegang nilai Sains terbaik pertama di KISS khusus SMP dan SMA. sedangkan Kibum adalah pemegang nilai Sains terbaik kelima setelah sunbae kami, Cho Kyuhyun, Kim Ryeowook, & Lee Donghae. Kibum jg selalu jadi juara pertama dalam ujian beberapa bahasa se KISS. sekolah kami terdiri dari SD, SMP, SMA, dan Penjurusan. apakah kami bangga? tidak. aku dan Kibum biasa saja

 

kami biasa berangkat dan pulang bersama. dan entah mengapa hari ini Kibum mengajak jalan kaki lewat jalan belakang. jalan ini adalah satu2nya jalan memotong bagi pejalan kaki ke rumah kami. memang agak jauh memang kalau jalan kaki, dan sepi. ada lorong panjang yg jarang di lewati orang2 karena sempit dan kurang cahaya. tapi bisa langsung ke pusat kota & taman kota. baru seperempat jalan, aku mendengar suara aneh.

 

“huuwaa huuwaa”

 

suara anak kecil menangis, makin lama makin keras

“yaa, bumie, tangisan itu kau dengar tidak?” aku bertanya pada kibum  yg berjalan di depanku

“tentu saja, aku tidak tuli, han na ra” kibum terus jalan ke arah sumber suara itu pelan-pelan

 

“huwaa huwaa”

 

makin lama makin kecil. kata Kiseop oppa (hyung-nya Kibum), jika ada suara dari jauh besar lalu makin besar dan ketika kita datangi lebih kecil pasti ada sesuatu. aku jadi merinding

“Nara, kenapa kau diam saja? bicaralah, aku jadi takut” Kibum menggoyangkan tanganku yg sedang pegangan di pinggangnya

“nee, ara. suaranya kenapa makin lama makin kecil yaa??” aku semakin menempel ke tubuh kibum

“geurae. yaa, nara-ah, kenapa disana gelap ?” kibum mempercepat langkahnya sambil menarikku

 

“bumie, bumie, bumie-ah” aku menarik-menarik baju kibum, dan kibum berhenti

“waeyo, nara?” dia berbalik dan menatapku

“kau dengar itu??” aku menelan ludah dan meyakinkan Kibum bahwa ada suara kresek kresek dari samping kiriku

“ah, aniyo. tak ada apa2 kok” kibum mulai jalan lagi dg menggandengku, dg langkah yg lebih cepat

 

*kreseek kreseek*

 

“tuh kan, ada suara” bathinku

 

*kreseek kresek*

 

“aigoo~~” bathinku lagi

 

*kresek kresek kresek*

 

“yaa, Nara. kau dengar bunyi tadi tidak?” kibum menggerakan tangan kananku dan berbalik menatapku

“yaa!! itu tadi yg bunyi, bumie-ah!!!” suaraku meninggi dan ada suara kresek-kresek lebih besar

“mwoo??” aku dan kibum sama-sama blank

“waaaa—-” aku dan kibum sama-sama berteriak dan lari menjauh

 

ah harusnya aku tak mendengarkan Kibum untuk lewat sini.

 

“ku kira sudah agak aman, nara!” kibum ngos-ngosan dan melepaskan genggaman tangannya dari tanganku. lalu memberiku sapu tangan tuk menyeka keringat

“omo ni, Kibum. Kim Kibum, i t u, a p a a” aku melihat sesuatu bergerak-gerak, merangkak

“mwo?? apa ituu ??” Kibum dan aku maju beberapa langkah

“Nara-ah!!! ituuu….” kibum teriak sambil menunjuk yg bergerak itu

“huwaaaaa, bumie-ah!!!”

 

 

To Be Continued  😀  😀