[FF] STROBE EDGE (Part 1)


part 1

Title     :  Strobe Edge (Part 1)

Author : ♥

Genre :  Friendship, Romance, Family, School

Rating:   AG (All Age) / T

Cast     : GOT 7, Shin Raekyung

 

KETIKA PIKIRAN BERTENTANGAN DENGAN HATI, KAU TIDAK AKAN PERNAH MENDAPATKAN JAWABAN APAPUN

 – I’m in love with you, why are these words so hard. I keep hesitating to say over and over again. Why is it so hard just to write a simple letter? I keep writing and tearing it over and over again –

“kau menolak Jongwoon dan Changmin untuk pria seperti dia. Aiish jeongmal!”

“nugu?”

Nara menyipitkan matanya padaku, “Jackson. Jackson wang yang aneh yang kau sayangi itu”

Ku sipitkan mataku pada sahabatku, “dia tidak aneh! kau menolak Chanyeol, Hakyeon, Kyuhyun untuk… untuk…” aku diam sejenak, dan kemudian menyadari kalau Nara belum punya seseorang yang ia suka. Hmm.. setahuku, “ah eobsoyo” lanjutku pasrah

“nee eobseoyo. geundae, nan gwaenchanayo” ujar Nara sambil melibaskan rambut hitam panjangnya.

“nado gwaenchana”, aku melihat pria itu tersenyum dengan teman-temannya yang tengah asik bermain basket. Aku hanya bisa memandanginya dari kelas, “Nara-ya… nan jeongmal gwaenchanayo”

“waeyo?”

“aniya, nan gwaenchana”

 

Aku terlambat mengenalkan diri. Aku Choi Raekyung. Kelas 1A Jurusan Seni Modern di Seoul International High School. Menurut keluarga dan teman-temanku, aku adalah gadis yang sangat periang, sederhana, dan tidak pernah tidak punya teman dimanapun aku berada. Nilai akademik dan non akademikku juga bisa dibilang baik. Hanya saja kadang aku tertutup

Choi Youngjae, adalah oppa-ku. Ia 3 tahun lebih tua dariku, dan kuliah di Seoul National University. Hebat bukan! Orangtua kami sibuk bekerja diluar negeri, jadi oppa sangat menjagaku. Bukan berarti protektif, ia hanya mengawasiku dengan sangat baik. Pintar mengurusku, rumah, dan juga memasak. Hobby kami adalah makan makanan yang dibuat Youngjae oppa sembari menonton tv atau bermain gitar. Bagi oppa, aku adalah hidupnya, dunianya. Begitu juga bagiku. Oppa adalah segalanya.

Dua manusia tadi, Han Nara dan Park Jinyoung, adalah sahabatku semenjak Sekolah Dasar. Pertama. Jinyoung. Ia pria yang cerdas, ramah, dan sederhana, banyak perempuan di sekolahku yang sangat mengidolakannya. Lalu Han Nara, ia juga sebenarnya. Tapi untuk mendekati Nara tidak semudah itu yang kalian bayangkan meskipun kalian adalah perempuan. Ia tipe perempuan yang tidak pernah mau tahu urusan orang. Namun ia pernah menghajar beberapa pria yang selalu mengikutiku ketika kami sekelas di kelas 4. Sejak itu Nara terkenal dan banyak diincar pria. Seperti yang ku katakan, ia tidak tertarik. Dia suka menyendiri.

*

 *tiiiiiin*

Aku syok lalu berhenti dan menghadap ke mobil tersebut. Pria dengan jas rapi keluar dari mobil itu. Ia melepas kacamatanya.

TAMPAN SEKALI.

Ia mendekatiku dengan wajah datar. Kakiku terasa kaku, “kau…”

“nee?” jawabku pelan

KAU MAU MATI, HAH?” teriaknya dengan sekian oktaf dan membuat jantungku terasa mau lepas, “apa kau tidak lihat lampumu merah, Agassi!” imbuh pria ini sambil menunjuk lampu pejalan kaki.

“ah chuseonghamnida… aku tidak lihat”

“kau punya mata, seharusnya kau gunakan” ujarnya lagi padaku, lalu ia meninggalkanku dan kembali ke mobilnya. Ia melewatiku.

Jantungku mau lepas rasanya.

“Agassi kau tidak apa-apa?”

“aduh pria tadi kasarnya”

“hati-hati noona’

 

Berbagai macam respon setelah kejadian tadi membuatku ingin menangis saat ini juga. Aku hanya tersenyum dan mengatakan aku tidak apa-apa. Aslinya sih tidak!!! Lalu aku kembali berjalan pelan-pelan ke halte, menunggu bus untuk pulang. Sesampainya dirumah aku langsung masuk kamar dan menangis.

Menangis seperti orang bodoh.

“jeongmal babo cheorom”

 

Mendadak aku mengingat hal itu kembali…

Jackson, ini cake untukmu…’

‘ah nee, gomawoyo’

Namjoo adalah salah satu siswa di sekolahku. Ia cantik, baik, pintar, dan sopan. Banyak pria yang menyukainya. namun sejak kejadian yang tidak sengaja aku lihat itu, Namjoo menyukai Jackson. Ia menyukai pria yang aku sayangi –Jackson Wang-

Jackson menerima cake pemberian Namjoo, dan mereka memakannya bersama. Jackson memang orang yang baik dan ramah kepada semua orang. Walaupun ia sudah memiliki kekasih –Im Yoona- wanita yang kabarnya dua tahun lebih tua darinya, tapi aku tahu ia sangat cantik dan baik. Aku pernah melihatnya. Hari ini aku melihatnya menjemput Jackson, dan ia menjawab semua sapaan yang mengarah padanya

 

“YAA CHOI RAEKYUNG.. sampai kapan kau mau berkutat dengan imajinasimu. Cepat makan malam!!!” celetuk oppa dari pintu kamarku yang sedikit terbuka.

“oppa.. aku baru dimaki-maki orang, aku mohon, pending dulu emosimu” ujarku lelah

“MWORAGOO? SIAPA YANG MEMAKIMU? Guru yang dulu itu? Atau wanita sok cantik itu? Siapa, moyeon, siyeon…”

“Bukan mereka oppa. Hanya saja memang kesalahanku jika aku dimaki pria itu. Aku menyebrang tidak pada lampuku”

“KAU MAU MATI, HAH?”

Aku geram pada oppa, bisa-bisanya ia mengatakan hal dan nada yang sama persis dengan pria itu. Ku pelototi dengan wajah marah, dan oppa-ku mengatupkan mulutnya dan tersenyum

“Jackson menerima cake dari perempuan lain. To make it worst, aku melihat kekasihnya menjemputnya di sekolah tadi. Im Yoona itu begitu sempurna. Ini aku sempat merekamnya. Ah nan molla” aku mengisyaratkan oppa untuk mendekat dan melihat rekamanku

Youngjae oppa mengangguk, “Im Yoona yang kau maksud ini, teman seangkatanku, hanya beda jurusan saja. Dia memang terkenal sebagai model yang cantik dan ramah”

“MWORAGOO?? Mahasiswa SNU juga?” aku syok dan memandangi oppa dengan wajah lusuh

“setahuku ia sangat pintar dan juga anak orang kaya. Banyak yang menyukai kesederhanaannya” imbuh Youngjae oppa, seakan bangga pada temannya tanpa memperdulikan perasaan dongsaengnya yang sudah menciut seperti tikus curut.

Cantik. Pintar. Tinggi. Langsing. Cerdas. Kaya Raya. Ramah. Baik Hati. Sederhana

Matilah kau Choi Raekyung.

“kau akan baik-baik saja. Tidak usah khawatir” Oppa tersenyum

“nee nan gwaenchana”

“Kau akan ku jaga sampai kau menemukan pria yang baik dan bertanggungjawab padamu” oppa memelukku erat, dan bisa ditebak, aku kembali menangis

 

Sudah seminggu lebih setelah kejadian itu, dan aku mulai bersikap biasa aja. Aku yakin aku akan baik-baik saja. Hanya butuh waktu untuk meredakan otakku saja. Maaf saja karena Jackson adalah cinta pertamaku, jadi aku agak berlebihan seperti ini.

HEY, TOLONG JANGAN MEMANDANGKU SEPERTI ITU! WAJAR KAN!

——-

Ditaman aku melihat anak laki-laki sendirian duduk di bangku. Ia memegangi tasnya dan terdiam melihat air mancur yang ada di depannya

“adik kecil… kau menunggu siapa?” ujarku pada anak laki-laki yang begitu lucu. Mungkin umurnya 3 tahunan

Ia memandangku dan tersenyum lebar, “uri appa…” ujarnya pelan

“dimana appa mu?”

“bekerja. Kami janji bertemu disini” ujarnya begitu lucu.

Bertemu? Sepagi ini?

Mereka tidak satu rumah apa bagaimana?

Kok aku jadi bingung.

“noona punya makanan kecil, kau mau?” aku mengeluarkan lunch box-ku, lalu ia mengangguk dan tersenyum. Ia memakan sandwich buatan Youngjae oppa dan terlihat lahap

“noona mau kemana?” tanya anak lelaki ini sembari menatapku

KEMANA?

KEMANA YA?

AKU MAU KEMANA YA?

“AAAAKKK!!! aduh gawat aku telat. Makan dan minumlah ini, jangan mau diajak bicara apalagi diajak pergi orang asing ya” teriakku kaget, karena seharusnya hari ini aku masuk pagi-pagi. sedang ada acara di sekolahku.

“noona… chuseonghamnida, geundae, kau juga orang asing bukan?” ujarnya sambil tersenyum .

Aku baru sadar, ia benar dan aku tertawa , “tapi tenang aku bukan orang jahat. Astaga! Aku harus pergi. Na kkanda” aku berlari secepat yang aku bisa.

Dari kejauhan aku ada pria berjas hitam menghampiri anak itu dan ia berlari kearah pria itu. Ah itu pasti appa-nya.

“Syukurlah kalau begitu, anak itu aman” ujarku sambil menuju zebra cross

Pengendara motor sport yang ada di depanku melepas helm-nya, “kalau begini, malah kau yang tak aman”

“Jackson-ssi?” ujarku gugup, dan ia tersenyum

Ia memberikanku helm, “ayo berangkat bersama saja, menghemat waktu. 15 menit tidak akan cukup menuju sekolah”

“hmm…”

“kau seperti menjaga jarak denganku. aku tidak mau”

“menjaga.. jarak?”

“ayo berangkat”

“nee?”

“ayolah, Choi Raekyung” ujarnya dan aku semakin kaget. Aku mengambil helm dari tangannya, dan kami berangkat ke sekolah bersama

 

‘Now don’t avoid me anymore and come with me. Look at me don’t be so shy. Don’t be scared even though I’m not good at this either. I think we’ll be a hot couple. Let’s make our first day today. I want to hold your hand and walk around. We’re wasting time what do you want to do. Until when are you going to run from me, huh’

 

Raekyung… sekarang perasaanmu semakin besar.

Lalu kau akan menjauhinya bagaimana sekarang…

——

Aku memang selalu berangkat jauh lebih pagi dan memakan makananku di taman ini. Oppa selalu rajin ke kampus dan aku selalu berangkat bersamanya. Rasanya tenang dan bisa berpikir jernih sebelum belajar. Mau tidak mau harus seperti ini.

‘Aku masih harus begini hingga 2 tahunan ke depan. Sabar ya’

“noona… ingat aku?”

“ah kau… tentu aku ingat” aku mendekat dan tersenyum. Ia begitu ceria,

“beberapa hari aku menunggumu di pagi hari tapi kau tidak ada” ujarnya menggemaskan.

“mianhae, aku sedang sakit, jadi tidak sekolah. Namamu siapa?”

ia memperlihatkan nametag-nya yang tertulis IM JAEHYUN, “cho neun, Im jaehyun imnida”

“annyeong, cho neun Choi Raekyung imnida. Ini kartu pelajarku, jadi kau tidak usah takut padaku” ujarku sambil memperlihatku kartu pelajarku

“kau boleh memanggilku Leo”

“nee?”

“Im Leo hehe”

“arasseo”

“kenapa kau sakit noona?”

“aku telat makan, jadi…”

“apa kau sakit karena bekal makan siangmu kau berikan padaku?” tanyanya singkat, padat, jelas, dan benar-benar tepat, dan nada anak kecilnya yang sedikit menggelitikku.

“haha animnida… tugas dan ujian sedang banyak, aku jadi lupa makan” imbuhku mengalihkan perhatiannya., “kau harus jaga kesehatan ya Leo. Tetap sehat untuk appa-mu”

Sebenarnya saat itu aku tidak ada bekal dan dompet tertinggal. Nara dan Jinyoung tidak masuk karena ada urusan sekolah. Tugas rumahku banyak yang salah, dan yaa begitulah kenapa aku bisa stress dan akhirnya sakit. Tapi ini tidak akan ku ceritakan pada anak ini.

“ini sebagai gantinya, aku buatkan roti untukmu. Ah sebenarnya appa yang memasaknya hehe” ia terlihat begitu menyayangi appa-nya. Caranya menyebut nama appa dan senyumnya

“nee… gamsahamnida uri Leo. Ah!! Aku harus sekolah, maaf ya Leo. Oh iya, dua hari lagi, ayo bertemu disini” ujarku, lalu aku melihat jam, “jam 6:30 pagi. Jadi kita bisa sarapan disni’

“NEE!!” teriaknya semangat, “Raekyung noona, gomawoyo”

“na kkanda, Leo”

 

‘Jika aku punya adik, mungkin akan menyenangkan’

 

——–

 

*bruuuk*

Aku menubruk seseorang dan minuman isotoniku jatuh.

Seorang pria?

Ia menyamakan kepalanya padaku dan menatapku kesal, “YAA! FOKUS DENGAN APA YANG DI DEPANMU!” Ujarnya dengan nada marah yang tertahan

“ah chuseonghamnida…” aku membungkung berkali-kali

“ah… kau perempuan yang tempo hari kan?” pria ini macam memaksaku untuk melihat matanya

ASTAGA MATI KAU RAEKYUNG.

“ah pam.. paman… maaf aku tidak sengaja” aku membungkukkan badanku lagi. Aku takut

“paman? Aku setua itu?” ujarnya dengan nada yang mengesalkan dan membuatku syok

“ah animinida… chuseonghamnida” aku membungkuk lagi dan lagi. Aduh pinggangku

“lakukan hal dengan serius, kurangi minta maaf mu itu Agassi. Lain kali harus hati-hati”

“nee”

Ia berjalan melalui ku tanpa tersenyum ataupun menatapku

Setelah lumayan jauh paman itu kembali melihatku dari jauh.

ASTAGA TAMPAN.

Ia tersenyum padaku, lalu kembali melanjutkan jalannya menuju kantor yang cukup besar.

 ‘Apa aku terkena penyakit mudah terjatuh ya?’

Aku berjalan dengan langkah juntai ke halte bis.

“Jackson?” ujarku saat melihatnya sendirian duduk di halte

Ia tersenyum dan melambai padaku, “kau mau pulang?” tanyanya dan aku mengangguk, “rumahmu dimana?”

“arah bis 46-A” jawabku pelan. Ia mengangguk dan tersenyum. Ia menawarkan onigiri padaku, aku mengambil satu, “gomawoyo. Ah ini bukankah menu kantin?”

“nee, aku pernah mencobanya satu, dan ternyata enak. Jadi aku membelinya”

“oh…”

“lain kali kalau aku bawa motor, aku mau mengantarmu ya”

“mengantarku? kemana?”

“ke rumahmu, jika boleh”

“iya boleh”

“Raekyung.. aku duluan ya, bis ku sudah datang” Jackson berdiri dan tersenyum padaku.

 

Ternyata melupakanmu tidak semudah mengunyah onigiri ini.

Semakin dipikir semakin menyenangkan, dan rasanya ingin lagi dan lagi.

Bagaimana bisah sedrastis ini?

‘nan eottohkkae molla’

 

“Raekyung noona…” ujar seseorang dari sebuah mobil

Kaca mobil tersebut turun, “ah Leo-ya. Annyeong”

“kau mau kemana? Ayo ikut” ujarnya terbata-bata. Aku menggeleng karena aku sesosok pria disampingnya. Ayahnya kah?

“annyeong, cho neun Mark imnida. Ikutlah, aku banyak mendengarmu dari Leo” ujar pria yang bernama Mark itu.

 Apakah ia ayahnya Leo?

Berarti Leo bukan asli Korea?

Tapi name tag nya Im Jaehyun?

“Mark appa, boleh noona ikut kita?”

“sure. Masuklah, kami antar sampai rumah” jawab pria yang bernama Mark itu. Aku masih berpikir mengenai nama mereka

“noona, kajja…” pinta Leo lagi, dan akhirnya aku ikut dengan mereka.

*

“sudah sampai” ujar ayah Leo, mark, “ini rumahmu?”

“nee, jeongmal gamsahamnida, Jaehyunie, Jaehyunie appa do, gamsahamnida”

“using Leo suits me fine” ujar Leo dengnan bahasa inggris sambil tertawa dan aku tesenyum, “nee noona. Bye”

Aku tidak begitu percaya bahwa Mark adalah ayah dari Leo. Wajah mereka tidak begitu mirip. Mungkin mirip ibu nya. Paman Mark tampan sekali, aku sampai kaget

‘ish Raekyung, apa yang kau pikirkan. Ia sudah berkeluarga’

——

*bruuuk*

“aduh kakiku…” aku ditubruk seseorang dan aku terjatuh.

“sumimasen. Hontou ni…” ujar seseorang ini dengan bahasa, jepang?

Matilah aku.

“nan gwanchanayo” ujarku dan ia terlihat bingung, “I’m fine, daijobu” ia tersenyum dan meminta maaf lagi. Tapi sayang kakiku terlanjur sakit

“are you oke?” tanyanya dengan bahasa inggris

“yes, i’m fine sir. You can go”

“oke. Once again, i’m so sorry”

“it’s okay”

 

“hobby-mu menubruk orang, tidak fokus lalu jatuh, dan selalu bermasalah lalu minta maaf ya?” ujar seseorang disampingku

“paman galak?” ujarku syok saat melihat paman berdiri disampingku. Tiga kali bertemu, tiga kali juga aku terkena semprotannya

Ia tertawa, “apa aku segalak itu?” imbuhnya dan aku langsung cepat menggelengkan kepalaku. Ia tersenyum lagi, “aku sudah terbiasa mendengar kalimat seperti itu. Shinpai shinaide”

“nee?”

“haha artinya tidak usah khawatir” ujarnya menjelaskan dan aku tersenyum kecil, “kakimu tidak apa-apa?” ia memandang kakiku

Aku mengangguuk, dan aku undur diri dari hadapan paman ini.

“namaku Im Jaebum”

“nee?”

“namaku bukan Paman Galak. Aku Im Jaebum. Aku bekerja di kantor itu, The Next Innovation” ujarnya ketika aku hendak berbalik, “Kau sekolah di Seoul International High School ya?”

“nee, namaku Choi Raekyung, aku kelas 1”

“memangnya aku bertanya itu?”

“animnida. Chuseonghamnida”

“hahaha kau lucu sekali Raekyung. Mungkin kita akan sering bertemu”

“memangnya kenapa paman?”

“nan mollayo hahaha”

“ha?”

“boleh aku minta tolong?”

“kalau aku bisa, mungkin akan ku bantu”

“berhenti memanggilku paman. Umurku 26 tahun, panggil saja oppa”

“ah nee”

“kalau kau sering lewat depan kantor ini, mungkin aku akan sering melihatmu”

“kau bekerja disini kah?”

“iya kan tadi aku sudah katakan. Hmm, kakimu tidak apa-apa?” tanyanya lembut

“lumayan oppa hehe”

“mau mengobrol di kafe sebelah sana? Aku traktir sebagai ucapan maaf karena marah padamu”

“ah animinda. Itu salahku, chuseonghamnida”

“hahaha berhenti meminta maaf. Kau pikir ini hari apa?”

“hmm.. hari kamis kan? Soalnya ada pelajaran olahraga”

“mwo?”

“ah maaf maaf”

“hahaha Raekyung-ssi, just forget it. Ayo kesana”

“nee oppa”

 

Ia tidak seperti Paman yang kemarin-kemarin.

Galak, sombong, dan sangat menyebalkan.

Ia ternyata lembut, baik, ramah, dan menyenangkan.

Jaebum oppa mulai berubah.

Mark oppa juga menyenangkan. Sangat. Sangat.

Ia ayah yang sangat baik dan sempurna untuk Jaehyun.

Jaehyun yang lebih sering kupanggil Leo.

Leo seperti adikku sendiri, sangat menyenangkan.

Bersyukur mengenal mereka.

 

Sudah hampir tujuh bulan aku bertemu dengan Jaebum oppa. Mengobrol, jalan, makan, bahkan belajar dan mengerjakan tugas sekolahku. Ia sungguh pria yang menyenangkan. Kami sering bertemu juga. Entah dia menjemputku ke rumah atau ke sekolah.

Mark oppa dan Jaehyun atau Leo juga sudah menjadi bagian dari hidupku. Sudah sekitar enam bulan bulan, aku selalu bertemu dengannya di Taman. Tidak setiap hari namun paling tidak tiga kali dalam seminggu pasti bertemu di pagi atau sore hari. sekedar makan es krim, jalan-jalan, dan bermain-main.

Nara dan Jinyoung tidak pernah ku tinggalkan. Aku selalu pergi dengan mereka paling tidak Sseminggu sekali. Rutinitas sebagai sahabat tidak pernah ku lepaskan. Mereka segalanya untukku.

Jika sudah sore, biasanya aku akan makan malam atau menghabiskan waktu bersama Youngjae Oppa. Ia sibuk dan hanya bisa bersamaku ketika malam. Tidak apa-apa, asalkan kami masih bisa bersinergi dengan baik. Aku yakin aku akan baik-baik saja.

*

“selamat ulang tahun Im Jaehyun”

“xie-xie, thank you, arigatou, gamsahamnida hehehe” ujar Leo dengan suara super menggemaskan.

“hahaha bahasanya banyak sekali, maaf aku tidak bisa datang waktu itu. Aku ada ujian dan kelas tambahan”

“nee gwanchanayo. Mau kemana kita hari ini?” ia menggenggam tanganku begitu manja

Mark oppa muncul dan membawa es krim, “ini es krim untuk kalian. Mau kemana kita hari ini?”

“oppa, kau mengulang pertanyaan Leo, hahaha”

“geuraeyo? Ah mian haha”

“appa, ke taman bermain. Syuuuung~” ujar Leo sambil memainkan tangannya, super menggemaskan

Aku memeluk Leo, “aaakk kau jangan seperti ini, aku gemas sekali!”

“gemas itu apa noona?”

“hmm…” aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal, “bagaimana ya…”

“karena kau adalah anak yang baik, penurut, dan lucu. Itu disebut menggemaskan” ujar Mark oppa kepada Leo

“benarkah noona?” tanya Leo sambil menggelayuti tanganku

“nee! Ayo pergi sekarang” ujarku sambil menggendong Leo

“kajja~” teriak Leo senang

 

SEORANG AYAH MEMILIKI CARA YANG LAIN UNTUK MENJELASKAN SESUATU HAL YANG BAIK PADA ANAKNYA.

 

——

 

Minggu ini aku memasuki tahun kedua sekolahku, dan Leo berumur 4 tahun dua minggu lalu.

Mark sungguh seorang ayah yang baik. Aku takut jika aku disampingnya aku semakin menyukainya.

Aku dan Jackson sekarang berteman, mungkin bersahabat lebih cocok. Putus dengan Yoona unnie tidak lantas membuatnya bersedih. Mungkin ia menyembunyikannya dengan sangat baik. Dasar Jackson.

Tapi aku sepertinya menautkan perasaanku pada Jaebum oppa. Well umur kami memang terpaut 10 tahun. Aku 16 tahun dan dia 26 tahun. Hmm, beda jauh juga sebenarnya.

‘seleramu tua sekali, bocah!’Han Nara

Kalimat itu terngiang sekali dikepalaku. Dasar gadis menyebalkan. Dia selalu straight-forward dalam mengatakan apapun. Namun aku tidak peduli. Selama Jaebum oppa sepemikiran denganku, aku tidak bermasalah. Sepuluh tahun tidak masalah, jika aku kuliah nanti, aku bisa menikah, bukan? hahaha hal yang lebih mengagetkan adalah Jaebum oppa sudah memiliki anak, dan istrinya sudah meninggal. Aku syok setengah mati.

Awalnya ia mau bercerita, namun aku memilih untuk tidak mengetahuinya. Bukan karena tidak suka atau tidak mau, hanya itu terlalu privasi untukku. Jaebum oppa akan mengenalkanku pada anaknya suatu saat nanti. Setelah itu aku baru bisa bertanya hal yang lebuh jauh lagi

Mark oppa? Hmm ia selalu bisa membuat Leo menurut tanpa harus keras atau membentaknya. Leo anak yang sangat baik. Aku sangat amat menyayangi Leo seperti adikku. Namun terkadang ia bisa sangat manja dan sesekali ia memanggilku eomma. Mark kaget dan ia hanya meminta maaf. Seperti jadi istrinya Mark oppa sesekali tidak apa. Anehnya, aku merasa senang jika orang-orang menyangka kami adalah keluarga

Beberapa waktu terakhir aku menyadari sesuatu. Perasaanku lebih berat ke Mark Oppa. Aku pikir karena Leo adalah anaknya. Tapi ternyata bukan itu. Aku benar-benar jatuh cinta padanya. Bukan ke Jaebum oppa. Perasaan untuk Jaebum aku pikir hanya sekilas karena ia benar-benar seperti Youngjae oppa. Menjagaku dan ya menurut pandangan Youngjae oppa, ia benar-benar menyayangiku.

Sesosok pria yang sangat familiar termanggu sendiri di taman. Aku mendekati taman dan menghampirinya.

“Jaebum oppa?” tegurku

Ia bangkit dari tempat duduknya dan mendekat ke arahku, “aku menunggumu 4 jam disini. Kau dari mana?”

“4 jam? Bohong”

“kau bisa cek update di SNS ku last seen jam berapa” ujarnya untuk membuktikan ucapannya

Kemudian aku mengecek SNS-nya dan ada photo taman ini dan tulisan ‘menunggu’. Aku diam dan memandangnya, “mianhae. Waeyo oppa?”

“aniya. geunyang… geunyang…” Jaebum oppa kaget dan kurasa terperangah karena aku to the point padanya hari ini

“aku harus istirahat oppa. Kalau memang tiak ada hal lain, aku mau pulang”

ia menahan tanganku dan menarikku ke dalam pelukannya, “sebentar saja. Biarkan begini”

*DEG*

‘siapapun yang kau cintai, harusnya kau bisa konsisten dalam menjalani hidupmu. Bukannya aku mengaturmu. Namun jika kau terpaut pada dua pria sekaligus, itu sama saja kau menghancurkan perasaanmu. Lepaskan pria yang ikatan hatinya tidak terlalu terpaut padamu. Aku tahu kau sudah tahu siapa pria itu’

Setelah beberapa hari aku memikirkan kalimat Nara, aku sadar, aku memang menyukai Jaebum oppa, sangat. Bahkan menyayanginya. Namun keberadaan Leo dan Mark Oppa menjadi hal yang sangat penting di hidupku. Aku bahkan tidak tahu apa Mark oppa menyukaiku. Selama ini yang aku lakukan adalah bersama dengan Leo, dan sesekali kami bertiga bersama-sama layaknya keluarga. Seperti yang sudah ku katakan sebelumnya, aku merasa senang jika orang-orang menyangka kami adalah keluarga. Mungkin aku benar-benar mencintai mark Oppa. Aku bahkan tidak tahu itu salah tahu tidak, yang aku tahu, aku tulus mencintainya.

 

“mianhae oppa”

“kenapa sulit bagiku menghubungimu beberapa hari ini?” ujar Jaebum oppa seraya melepaskan pelukannya dariku. Tatapan matanya tajam namun lembut

Aku mundur selangkah dan menatapnya, “sekarang aku kelas 2 oppa. Beberapa bulan lagi menghadapi ujian untuk kelas 3. Jadi harus dicicil merangkum materi”

“ani… apa aku melakukan kesalahan padamu?”

“animnida. Nan gwaenchasseumnida” ujarku tanpa basa basi padanya

“lalu mengapa kau menjauhiku?”

“aku hanya sedang berusaha fokus oppa”

“kau yakin?” tanyanya lagi, dan aku tersenyum, lalu mengangguk, “jika ada waktu, datanglah ke kantor atau telpon aku, dan aku akan menjemputmu”

“nee”

“Raekyung-ah…”

“hmm?”

“Pertengahan bulan depan sepulangku dari Indonesia, kita makan malam ya. Aku ingin mengenalkanmu padanya”

“nee oppa”

“Na kkanda” ujarnya dengan senyum lalu pergi meninggalkanku. Senyum yang sangat aku sukai, senyum yang membuatku menyukainya, senyum yang membuatku sadar bahwa aku menyayanginya seperti aku menyayangi Youngjae Oppa.

“maafkan aku, Im Jaebum-ssi”

 

Begitu saja. Ya begitu saja. Aku yang bahkan merasa jahat Jaebum oppa.

Aku bingung entah bagaimana aku bisa dekat dengan Jaebum Oppa.

Bahkan sepertinya ia akan mengenalkanku pada seseorang.

Keluarganya? Anaknya?

Lalu sekarang aku tidak bisa melepaskan pikiranku dari Mark oppa

Mengapa perasaan manusia begitu mudah berbolak-balik?

 

AUTHOR

“jinyoung-ah… bagaimana Raekyung bisa berhubungan dua ahjussi itu dalam satu waktu” Nara yang merasa kesal dengan sikap Raekyung pun tidak berhenti menggerutu

“bukan itu yang aku khawatirkan, Nara. Jika ia tahu hal itu, aku yakin ia akan mental break down. Haruskah kita katakan?”

“andwaeyo!! Cukup kita berdua saja yang tahu. Jikalau ia tahu, biar dia yang melihatnya sendiri, atau mereka yang katakan padanya”

“geurasseo”

 

Rahasia besar yang ditutupi oleh kedua sahabatnya akan menjadi hal yang paling menyedihkan yang akan Raekyung rasakan. Cepat atau lambat ia akan menyadari semua.

—–

 “Mark appa… Raekyung noona, eodisseo?”

Beberapa hari ini Raekyung tidak muncul dan tidak ada kabar.

“mianahe. Nado mola. Neon… Raekyung noona bogoshippeoyo?”

“noona tidak menelponku. Apa terjadi sesuatu padanya, appa?”

“aku juga tidak bisa menghubunginya. Kemarin aku ke sekolahnya, namun ternyata ia hanya setengah hari. Jadi…”

“setengah hari?”

“ah saat appa kesana, ia sudah pulang”

“dirumah tidak ada?”

“eobseoyo”

“arasseo”

“you will be fine, boy”

“noona bogoshippeoyo” ujar Leo dengan sambil menatap photo Raekyung

 

Mark kagum dengan Raekyung. Selama ini Leo bukanlah anak yang bisa dekat dengan orang lain dengan mudah. Tapi Raekyung bisa membawa perasannya dan bisa menjadi sangat dekat.

Raekyung perempuan pertama yang bisa membuat Mark merasa lengkap sebagai ayah dan suami untuk pertama kalinya. Hal yang tidak pernah ia rasakan.

Akhirnya Mark menyadari, bahwa ia telah jatuh cinta pada Raekyung. Mencintai gadis yang umurnya terpaut sekitar 10 tahun darinya. Ia tidak menyadari hal penting sedang berkecamuk dipikirannya.

 

RAEKYUNG

*Few Days Later*

Hari ini Nara dan Jinyoung mendadaniku seperti wanita. Dress, rambut, dan ini itu. Alasan sederhana, hari ini aku akan makan malam dengan Jaebum. Itu mengapa mereka membuatku jadi seperti ini.

‘dasar dua manusia gila’

“Raekyung!” Jaebum oppa memanggilku di restoran tempat kami janji bertemu

Aku mendekat perlahan, “hai oppa apa aku terlambat?”

“tidak, biasa saja. Kau sangat sangat cantik” Jaebum oppa menggandeng tanganku. Entahlah, aku merasa sedikit canggung dengan apa yang ia lakukan.

HE TOUCHED MY HAND SOFTLY.

“itu mereka” ujar Jaebum oppa sambil menunjuk ke arah tengah, “ayo”

“nee?”

“Raekyung, aku ingin mengenalkan seseorang padamu…”

 

“APPA!!!”

Aku mendengar suara yang sangat amat khas di telingaku. Ku fokuskan mataku ke anak kecil yang sedang berlari ke arah kami.

ASTAGA.

“uri Im Jaehyun-ah” Jaebum oppa menggendong…

LEO? ITU LEO?

“appa bogoshippeo”

“nado uri aedul~”

AEDUL? MWORAGO?

 

Leo melihatku, lalu ia turun dari gendongan Jaebum oppa dan memeluk kakiku, “ah Raekyung noona!! bogoshippeo! Kau cantik sekali”

“Raekyung?” ujar seseorang, ku angkat kepalaku. Mark oppa ada di depan mataku.

“lho kalian sudah saling kenal?” Jaebum oppa memandang kami heran

Kakiku lemas rasanya.

“jadi Leo-ssi, Jaehyun-ssi, siapa appamu?” ujarku bertanya sambil memegang tangannya

“Mark appa! JB appa!”

“nee?”

APA MAKSUDNYA?

“Niga neomu bogoshippeo, noona. Ah neomu yeppeuda!” Leo terus saja menatapku. Mungkin karena aku tidak pernah memakai pakaian seperti ini dihadapannya.

Aku memandang mereka berdua meminta penjelasan. Mark oppa menepuk kepalaku.

“ayah kandungnya adalah Jaebum. Aku ayah angkatnya. Aku dan Jaebum adalah sahabat dari sekolah. Jadi…”

“aku tidak mengerti oppa…” aku memandang Jaebum oppa

“aku pun sebenarnya tidak mengerti. Tapi benar apa yang dikatakan Mark. Aku adalah ayah kandungnya dan Mark adalah ayah angkatnya. Bagi Jaehyun atau yang kau panggil Leo, kami adalah ayahnya”

“ige mwoya…”

“waeyo?” Mark oppa mendekatiku dan menatapku, “kau kaget?”

“nee, aku tidak tahu…”

“jadi kalian sudah saling kenal?” tanya Jaebum oppa. Raut wajahnya terlihat sangat bahagia.

aigoo, naega eottokhajji?

kenapa jadi begini?

“noona, niga neomu bogoshippeo” Leo benar-benar memelukku begitu erat. Kata-kata itu ia terus ulangi seperti kaset kusut

“Raekyung, neon gwaenchana?” Mark oppa memandangku, aku hanya bisa diam.

 

Aku menyayangi Mark oppa. Sangat menyayanginya.

Aku menyayangi Leo. Sangat menyayanginya.

Jaebum oppa menyayangiku. Tidak ia katakan, namun ia menunjukkannya.

Jaebum oppa serius saat bilang ia akan menungguku kepada Youngjae oppa.

Saat ini aku harus dihadapkan pada kenyataan yang sangat rumit..

Leo bukanlah anak kandung Mark oppa. Ia adalah anak kandung dari pria yang menunjukkan kesungguhannya menyayangiku, Jaebum oppa.

Tapi aku tidak menyayangi Jaebum oppa. Aku hanya sekedar kagum padanya.

Pria yang aku sayang adalah Mark oppa.

 

“chakkanman”

Aku berpura-pura menerima telpon dan akhirnya meminta izin untuk pulang karena ada urusan mendadak.

Sebelum aku pulang aku memandang lekat Mark oppa. Mata kami bertemu, kami saling diam. Ia adalah pria yang aku cintai sepenuh hatiku, benar-benar sepenuh hatiku. Untuk pertama kalinya, aku bisa merasakan seperti apa jatuh cinta yang baik dan mengarahkannya ke yang positive. Namun hasilnya negative.

Positif dan negative hasilnya akankah negative?

“Andwae! Andwaedagoo!!!” Leo menghalangiku dan bahkan mulai merengek ketika aku mau pulang. Para tamu di restaurant pun melihat kami.

Jaebum oppa berusaha menjelaskan dengan cara seorang ayah menjelaskan sesuatu hal kepada anaknya. Namun gagal. Leo akhirnya semakin menangis dan merengek ke Mark oppa, dan Mark oppa menasehati Leo juga, dan tidak begitu berhasil.

Aku berjongkok dan menyamakan tinggiku dengannya.

“Leo, kalau urusanku sudah selesai, aku akan menemuimu” ujarku sambil memeluknya

“andwae!!!” Leo tetap marah. Tatapannya benar-benar sama seperti Jaebum oppa. Aku baru sadar,

LEO BENAR-BENAR ANAK DARI JAEBUM.

Aku mengusap kepalanya, “kalau kau sayang padaku, jangan nakal ya. Kita akan bertemu lagi” aku memeluk dan mencium pipinya

Leo melepaskan pelukannya dan tersenyum, “NEE!! YAKSOKKHAE?”

“nee”

“kalau begitu noona boleh pulang” Leo mencium pipiku.

Jaebum oppa kaget melihat tingkah Leo yang begitu manja padaku. Kalau Mark oppa sudah mengetahuinya, jadi ia menganggap hal inii sangat biasa.

Aku melihat Mark oppa lagi dan tersenyum.

Tersenyum seperti ini kenapa rasanya sakit sekali ya.

Rasanya seperti dipukul. Sesak napasku.

“aku pulang ya Leo, Jaebum oppa, dan Mark oppa”

“see you later, noona”

 

**FEW DAYS LATER**

Keputusan yang diambil haruslah tepat. Resiko apapun harus ditanggung.

 

“Nara, Jinyoung…”

“waeyo?” jawab mereka bersamaan

“aku mau ikut Youngjae oppa ke Amerika”

“oh…” ujar Jinyoung dan Nara.

MWORAGOO” teriak Nara kaget, “YAA!! NEO MICHEOSO?”

“jangan teriak di kuping orang Nara-ya” pintaku sambil tertawa, “kau bisa membunuh orang dengan suaramu”

“hanya ikut kan? Kenapa teriak sih?” ujar Jinyoung

“aku akan pindah ke Amerika. Meneruskan sekolah dan kuliah disana, bersama orangtua ku” imbuhku. Air mataku pun menetes tidak karuan

“ia hanya pind… MWOGA??” Teriak Jinyoung, “YAA!! JINJJARO?”

“nee”

“aigoo, ige mwoya…” Jinyoung menggaruk kepalanya yang aku rasa memang gatal. Ia belum mandi hari ini

Nara memelukku erat, “yaa.. ada sesuatu kah?” lalu aku mengangguk kencang. aku menangis semakin kencang

“Leo, Mark, Jaebum~ mereka…”

Nara dan Jinyoung saling melihat.

“kau sudah tahu?” ujar Jinyoung sambil mengelus rambutku. Ku lepaskan pelukanku dari Nara, dan mereka tersenyum

“Leo adalah anak dari Jaebum oppa. Mark hanya sahabatnya Jaebum yang membantu menjaga Leo, atau Im Jaehyun” imbuh Nara sambil menggenggam tanganku yang sangat dingin.

“ternyata kalian sudah tahu juga. Bagaimana bisa?” kemudian aku menutupi wajah bodohku karena menangis

Jinyoung memandang ke atas pertanda berpikir, “saat kami sedang makan siang, kami melihat Leo, Jaebum hyung, dan Mark hyung makan di samping kami. Saat itu…”

 

**FLASHBACK**

“sudah selesai makannya?” tanya Mark pada Leo, dan ia mengangguk

Jaebum datang dan memberikan es padanya, “ku belikan es untukmu”

“yeaaaay! Thank you so much, Jaebum appa!” Leo melahap es krim nya dan tertawa, “Mark appa mau coba?”

Mark mengangguk dan membuka mulutnya. Leo menyuapi Mark dengan penuh kasih sayang.

“Leo masih sekecil ini ketika Nana harus pergi. Ia masih butuh ibunya” ujar Mark sambil memandangi Leo, “sebagai ayah, kesibukan kadang begitu menyita waktu”

Jaebum terdiam dan mendengar kata-kata Mark. Mark yang terlihat sedih membuat Jaebum menghela napas panjang.

“rasanya rindu sekali. Ketika menikah, bukan yang seperti ini yang diharapkan. Iya kan?” ujar Jaebum sembari sesekali menatap jalanan

“yes. She like a dream, so she disapear like a dream” Mark meneteskan air mata dan langsung menghapusnya. Ia takut Leo melihat

“kita menikah dengan harapan keluarga kita dapat bersahabat juga. Namun aku tidak mengerti, jadinya begini” mata Jaebum begitu merah

Leo menatap kedua appa-nya dan bingung, “appadeul, gwaenchana?”

“kami tidak apa-apa” ujar Mark sambil mencium rambut Leo

“Mark, terima kasih kau mau menjaga Leo, seperti kau menjaga anak kandungmu sendiri”

“Leo adalah anak kandungmu. Namun ia juga anakku. Jadi aku akan membantumu merawatnya, hingga kau menemukan wanita terbaik dan bisa menjaga kalian”

“kau juga ya Mark. Aku berharap kau menemukan masa depanmu lagi, dan menemukan kebahagian”

“xie-xie hahha” ujar Mark, “Leo sudah kenyang?” tanya Mark

“sudah. Appadeul, ayo makan di seberang sana. Apa itu enak?”

“enak haha ayo kesana” ujar Jaebum

**FLASHBACK END**

 

“begitu ceritanya” ujar Jinyoung pada Raekyung

“kau tidak marah?” tanya Nara

Aku menggeleng, “aku mengerti mengapa kalian diam saja. Aku sekarang tahu langsung dari mereka. Rasanya… Rasanya… sakit”

“kita obati bersama. Kau tidak perlu pindah. Kau jangan meninggalkanku sendiri dengan manusia hina ini’ ujar Nara sambil menunjuk Jinyoung. Aku tertawa.

Nara. Han Nara.

Seorang sahabatku sejak SD. Ia sangat menjagaku seperti ia menjaga adiknya. Aku berat meninggalkannya bersama Jinyoung. Bukan karena Jinyoung, namun aku tahu, hmm maksudku baru menyadari kalau Han Nara sangat mencintai Jinyoung dan memilih diam. Jinyoung bukanlah tipe pria yang peka akan situasi perempuan. Seberapa banyak wanita yang mengelilingi Jinyoung, Nara tidak pernah berkomentar dan hanya diam. Ia selalu tersenyum dan kadang bersikap galak. Apakah ia akan baik-baik saja?

___

Beberapa hari berlalu, akhirnya hari ini aku bertemu Leo, namun yang bersamanya adalah Jaebum oppa. Entahlah aku merasa berbeda jika Leo berada digenggaman Jaebum oppa. Selama ini yang aku lihat dan aku tahu adalah Mark oppa dan Leo adalah ayah dan anak

“Leo..” ujarku seraya menghampirinya

“Raekyung noona… waktu itu kau pulang lebih awal. Kami makan kepiting dan enak sekali. Iya kan, appa?”

“nee. Rasanya enak” imbuh Jaebum oppa sambil membukakan minum untuk Leo, “ini minum dulu”

“appa, nanti sebelum pulang apa aku boleh ke Mark appa sebentar?”

“nanti kita ke kantor dulu ya. Mark appa sedang di kantor”

“minggu tetap bekerja?” imbuhku

Jaebum oppa mengangguk, “kami sedang kejar target project agar kami bisa handle perusahaan. Aku baru pulang dari kantor jam 6 pagi. Lalu Mark menggantikanku, ia datang jam 5 pagi. jam 7 pagi tadi di sekolah Jaehyun ada rapat orangtua”

“yang datang bukan Mark oppa?” ujarku kaget.

“jika ada acara penting menyangkut Jaehyun, aku yang akan langsung datang. Biasanya aku dan Mark akan saling memberikan info tentang kegiatan Jaehyun”

“oh begitu”

 

Makan siang hari ini disponsori oleh dua pria menggemaskan. Ini adalah kenyataan. Hal yang kulihat adalah hal yang sebenarnya. Hubungan yang sebenarnya.Namun mengapa diriku merasakan kejanggalan?

 

“mau ikut sebentar ke kantorku setelah ini?”

“nee?”

“Jaehyun ingin bertemu Mark. Namun jika kau buru-buru, aku akan mengantarmu terlebih dahulu”

“aku ikut” ujarku lalu tersenyum

 

Sesampainya di kantor, Leo langsung berlari dan diikuti oleh jaebum. Aku memandang mereka dari jauh karena tidak ikut berlari. Dari balik pintu kaca, ku lihat Mark Oppa menggendong Leo dengan kasih sayangnya. Lagi-lagi membuat hatiku hancur berkeping-keping.

Kenapa cinta harus serumit ini?

“hey Raekyung, seminggu ini tidak bertemu hahaha” ujarnya sambil menyuguhkan jus tomat padaku

“tomat?” tanyaku dan Mark tersenyum

“kau hanya suka jus tomat” ujar Mark oppa

“dan tanpa susu” imbuh Jaebum oppa sambil tertawa

“appa, ayo kita ke taman bermain lagi seperti waktu itu” Leo merengek ke Mark Oppa, “JB appa deo, raekyung noona deo. Kajja”

“aku sedang mempersiapkan hal penting jadi tidak bisa dulu” ujarku mengelak

“akan kami tunggu sampai kau senggang” Mark oppa memandangku. Aku melihat Jaebum oppa dan ia juga mengangguk

“akan kuusahakan”

“YEAAAY JANJI?” Leo meloncat-loncat kegirangan

“hmm.. mungkin lama, lebih lama dari yang sekarang. Tapi jika sudah selesai, hmm, aku akan menemui kalian”

“NEE” semangat Leo

 

IF I LET YOU GO, I WILL NEVER KNOW.

 

**The day After Tomorrow**

Hari ini adalah keberangkatanku ke Amerika. Oleh karena itu aku mengatakan urusanku kali ini lama, karena aku akan ke Amerika beberapa tahun.

KEPUTUSANKU SUDAH TEPAT KAN?

“Nara, Jinyoung, jaga diri kalian baik-baik” aku memeluk mereka berdua di Bandara

“kau juga. Jaga kesehatanmu” Nara memberikan gelang kesayangannya padaku dan aku semakin menangis

“ini kan gelang kesa-“ mulutku dibekap oleh Nara, “gomawoyo”

“hati-hati Raekyung. Email kami jika sudah disana” ujar Jinyoung sambil menepuk bahuku

“Jinyoung, jaga Nara dengan baik”

“aku bisa menjaga diriku send-“

“aku akan menjaga Nara sampai kapanpun” ujar Jinyoung dan kami menatapnya.

Nara tersenyum mendengar kalimat Jinyoung. Jinyoung pun tersenyum, lalu membelai rambut Nara. Saat itu aku sadar, Jinyoung sangat menyayangi Nara tanpa ia sadari. Biarlah mereka yang memulai semua sendiri.

“aku berangkat. See you later~”

 

Mulai sekarang, aku akan berusaha keras memperbaiki diriku. Jika pada waktunya aku kembali dan bisa menemukan mereka, mungkin bagus. Setidaknya aku akan minta maaf pada mereka. Tidak masalah jika mereka membenciku, toh aku yang meninggalkan mereka.

Sesungguhnya aku tidak mau pergi, tapi aku harus. Aku hanya terus berharap bahwa cinta tidak harus selalu menjadi rumit karena keadaan.

 

——————————————————————-

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s