[FF] The Unspoken Words


unspoken words

Hey… Aku mencintaimu benar adanya.

Itu bisa selamanya.

Apa aku menunggu? Ya aku akan menunggu.

Namun perihal selamanya, aku rasa tidak.

Bukankah aku masih punya hidupku?

Sebaiknya seperti itu.

Kau datang tepat disaat aku sedang terjatuh. Kau membuatku tersenyum dan tertawa ketika aku bahkan tidak terpikir untuk melakukan itu.

Kau datang tepat disaat aku butuh teman. Kau membuatku merasa ramai. Benar bahwa kau tidak pernah memberikan perasaanmu padaku, namun perihal perasaanku kepadamu, sesungguhnya aku pun tidak tahu.

Kau hanya tersenyum, tertawa, melucu, dan semua kau lakukan atas dasar pertemanan dan kekerabatan. Kau adalah partner yang baik, yang sebaiknya harus aku hindari.

Kenapa?  Karena aku mulai terbiasa denganmu. Jika kau akan pergi, aku pasti sulit melepasmu. Ku rasa itu terbukti. Saat ini aku hanya bisa menangis.

A YEARS AGO.

“yaa noona.. kau bawa apa?” teriak Sanghyuk dari arah mesin absen. Ia melihat tas jinjingku yang cukup besar

Anak-anak lain mendekatiku, “unnie bawa apa? Ah makan enak” ujar Minyoung. Ia hoobae kesayanganku.

“pudding dan macaroni cheese, wanna?” ujarku saat berusaha mengangkat tas jinjingku yang cukup besar. Tatapan ‘cepat berikan’ sangat terlihat di bola mata Yoona dan Sooyoung.

“sini aku yang bawa” ujar Sanghyuk dan anak-anak lainnya mengikuti Sanghyuk seperti puppy yang siap untuk sarapan. Menggemaskan.

Ah iya, perkenalkan, namaku Han Nara, 23 tahun. Hobby ku adalah memasak, memanggang, dan membuat hiasan atau tulisan-tulisan lucu. Cita-citaku adalah memiliki cafe yang menyenangkan. Saat ini aku bekerja di Laboratorium IT di Kyunghee University sambil meneruskan kuliah magisterku. Sanghyuk, Minyoung, Yoona, Sooyoung, dan lainnya adalah asisten di Lab ini. Mereka hoobae-ku  dari berbagai jurusan di Kyunghee. Masih banyak teman-teman lain yang nanti akan ku jelaskan.

*ANOTHER DAY*

Aku adalah perempuan yang baru saja patah hati. Aku mencintai seorang pria yang mencintai perempuan lain. Leo –nama pria itu- sangat mencintai Yuri unnie. Sekarang Leo sudah tidak bisa bersama dengan Yuri unnie, karena ia sudah menikah dengan Chanyeol oppa.

Oh iya, Hakyeon ya? Aku putus dengannya. Kabar aku putus begitu booming karena tidak semua orang tahu hubungan kami. Ya aku dan Hakyeon biasa saja menanggapinya. Mungkin kami bukan jodoh. Setelah beberapa waktu, Leo datang kembali ke kehidupanku, ia mengajakku memulai semua dari awal. Ia bilang ‘bukankah setiap orang berhak mendapat kesempatan kedua?’. Tapi sesungguhnya  ia sudah menyia-nyiakan banyak sekali kesempatan dan aku tidak bisa mencintainya lagi. Tidak bisa, dan tidak mau tepatnya.

Aku menjalani hari-hariku begitu santai dengan Sanghyuk dan partner Lab ku lainnya. Selain itu perkuliahanku juga tetap harus ku fokuskan. Hampir semua teman lab sudah memiliki pasangan dan bahkan ada yang sudah menikah. Hmm lalu kenapa? Aku masih banyak waktu untuk mencari, setidaknya jika aku berumur panjang.

“noona… kau tidak apa-apa?” tegur Jin. Dia adalah salah satu hoobae-ku yang menangani  salah satu kursus di lab ini. Dia cuek dan terlihat tidak tertarik dengan hal lain selain apa pekerjaan, jaringan, dan kuliahnya.

“noona?” tegur Jin lagi dan aku tertawa, “kau tidak apa-apa?”

Aku mengangguk, “ya aku tidak apa-apa. Hanya teringat sesuatu hal, Jin. Ada apa?”

“tidak apa-apa. Ah iya Jurrasic Park, apa kau jadi menontonnya dengan Minyoung?”

“iya hari ini, mungkin malam dapat tiketnya. Mau ikut?”

“kalian berdua saja?” imbuhnya dan aku mengangguk, “boleh. Aku menyusul. Tolong pesankan tiket juga ya”

“oke”

 

Semua berawal dari itu..

Akhir-akhir ini anak-anak lain sering sekali seperti menjodohkanku dengan Jin. Jika aku dan Jin mulai dibuat bahan candaan, dia terlihat canggung dan hanya senyum-senyum. Aku tahu kalau dia tidak suka di ‘basa-basi’ kan seperti itu, dibercandai pun aku rasa juga tidak. Terkadang membuat kami jadi canggung. Ya aku hanya bisa diam tanpa membalas dan hanya bisa tersenyum atau tanpa ekspresi.

Kenapa? Karena Hyuk merubahku dan membuatku tak bisa melepaskan mataku darinya.  Perasaan yang aku rasakan pada Hyuk adalah perasaan yang bahkan aku tidak tahu. Perasaan ini tidak ku rasakan ketika aku mencintai Leo ataupun bersama Hakyeon. Semacam menyayangi namun tidak boleh melangkah lebih jauh dan tidak bisa memiliki.

Banyak yang merasa kalau Jin sebenarnya menyukaiku dan terlihat beberapa banyak yang mendukung, hanya saja, Jin terlalu polos terhadap perempuan jadi dia seperti itu. Beda hal dengan Hyuk yang pernah pengalaman berhubungan dengan perempuan selama 5 tahun. Aku pun kaget ternyata dia bisa setia seperti itu. Aku merasa nyaman dan menyenangkan jika dengan Hyuk. Tidak perlu mengobrol, hanya perlu melihatnya. Itu cukup bagiku. Sangat cukup.

“Nara noona… Jin oppa.. awawawaw” ujar Minyoung. Dia, Yoona, dan Hyejin suka sekali mengatakan itu. Anak-anak lain termasuk Suho oppa –yang tertua- pun suka seperti itu. Aku dan Jin benar-benar akan terlihat canggung. Apalagi beberapa waktu lalu kami menghadiri pernikahan partner kerja kami dan aku bersama Jin dengan motornya. Aku hanya berusaha biasa saja, walaupun terkadang di dekatnya nyaman. Mungkin karena parfum-nya. Entahlah.

“unnie… kau dan Jin terlihat baik jika bersama” ujar Younggi dan aku hanya tersenyum“kau tahu.. sebelumnya dia tidak setuju ketika kami semua mengobrol tentang pacar atau yaa seperti itu. Tapi kemarin lusa Jin mendadak bilang…”

“aku ingin mencari istri yang bisa multi tasking dan mengutamakan keluarga” serobot Sora, dan diangguki oleh Younggi, “lalu Suho oppa mengatakan ‘bukankah itu Nara sekali ya?’. Kami hanya tertawa dan kau tahu, Jin hanya tersenyum”

“Apa kau menyukainya?” imbuh Sora, aku menggeleng pelan, “terkadang kau terlihat menyukainya”

Lagi-lagi, aku hanya tersenyum.

Terlepas dari itu… hanya satu orang yang selalu ada dipikiranku.

HAN SANGHYUK.

Aku benci jika ia dipasangkan dengan Minyoung, tidak suka jika dekat dengan perempuan lain. Kenapa? Ya tidak suka saja. Tapi aku hanya bisa tersenyum atau tertawa jika ia mulai dipasang-pasangkan dengan Minyoung. Minyoung selalu berkelit dan tidak mau jika dijadikan bahan bercandaan dengan Hyuk. Hyuk aneh, sangat aneh. Terlepas dari itu, ia cerdas, baik, mudah bergaul, fokus pada masa depannya, humoris, dan sederhana.

HUMORIS dan SEDERHANA.

Mungkin itu yang membuatnya berharga dimataku.

Aku harus bagaimana?

Tidak mungkin aku jujur padanya mengenai apa yang aku rasakan padanya. Aku hanya tidak mau mengulangi kesalahanku yang dulu. Dulu aku merasa bodoh karena terus bertahan dan memperjuangkan orang yang salah. Aku memang tidak tahu Hyuk yang terbaik atau tidak. Bukan karena dia lebih muda dariku, namun mungkin ada hal yang masih harus ku telaah lebih jauh lagi.

“waaah Sanghyuk, Kangjoon, Jin, dan Seungjo resign ya tahun ini. Ah aku tidak sabar melihat pengukuhan wisuda kalian” ujar Yoona dan yang lainnya. Mereka begitu antusias. Aku pun. Namun jika memikirkan aku tidak bisa melihat Sanghyuk, hatiku langsung hampa. Perasaanku gundah gulana dan aku tidak tahu harus bagaimana. Menangis. Hanya itu yang aku bisa.

AUTHOR

Nara hanya bisa diam ketika teman-teman lainnya bertingkah seperti itu. Setiap nama Jin terucap bersamaan dengan namanya, yang dipikirkannya ‘apa Hyuk tidak merasakan apa-apa?’ atau ‘aku tidak. Hyukie jangan ikut-ikut mereka menggodaku’ atau ‘aku tidak bisa dengan Jin’.

Han Sanghyuk.

“aku pikir Jin menyukai Nara unnie. Tapi ia terlalu cuek” ujar Yoona sambil mengunyah dimsum-nya.

Suho tertawa, “mau bagaimana lagi, sifatnya memang begitu”

“menurut Suho oppa, bagaimana? Apa mungkin Nara unnie yang malah menyukainya” imbuh Younggi, dan Suho hanya tersenyum

“aku rasa biasa saja. Nara noona peduli pada semua orang” ujar Minwoo

“ah Suho hyeong.. kau selalu begitu” ujar Woobin, “selama ini aku mengenalnya diperkuliahan, dia memang bukan tipe yang tertarik pada wanita”

“siapa yang tidak tertarik dengan wanita?”

“JIN?” seru Yoona dan lainnya

“hahaha ah tidak, temannya Younggi kok” ujar Suho , lalu yang lainnya tertawa

“oh” Jin duduk di mejanya dan kembali berkutat dengan guide book untuk mengajarnya.

Mereka semua hanyamengelus dada memperhatikan sikap Jin yang selalu begitu.

Kim Seok Jin.

Nara memang sedikit tidak peka. Dia juga sangat takut menyukai orang lain karena ia masih memikirkan sakitnya masa lalu yang pernah ia alami. Namun keinginnan untuk berhubungan dan mencoba dari awal dengan orang lain memang tidak bisa dipungkiri.

Nara menjadi sangat hati-hati. Ia tidak mau seperti dulu. Tidak mudah percaya pada orang lain dan tidak akan bercerita mengenai perasaannya pada orang lain.

“jangan lupakan kami. Sering main dan tolong bawa makanan yang enak dan banyak” ujar Minyoung dan Yoona serempak

“hahaha iya iya” ujar Kangjoon

“ah nanti akan ku bawakan keringatku saja. Malas membawakan kalian makanan hahaha” ujar Hyuk dengan nada mengejek

“oppa pelit sekali kau”

“kalian diluar sana bekerjalah yang baik. Fokus pada tujuan kalian” ujar Nara menasehati semuanya. Perasaannya sudah tidak karuan

“nee noona, doakan kami” ujar kangjoon

Hyuk mendekati Nara dan tersenyum, “noona.. terima kasih banyak atas dukungannya selama ini”

Selesai Hyuk mengatakan kalimat itu, semua mata tertuju pada Nara dan Hyuk.

Dukungan? Selama ini?

“haha aku tidak melakukan apa-apa. Kalian semua lakukan yang terbaik ya” ujar Nara. Suaranya benar-benar menahan tangis.

“hey ayo kita foto. Lengkap kan?”

“iya 16 orang. Oke”

“one two three…”

Itu adalah foto terakhir yang diambil sebelum mereka berempat resign. Foto Nara berdampingan dengan Jin dan Hyuk. Foto yang membuat Nara menangis semalaman.

Weekend kelabukah?

*Few Months Later*

Sekitar dua minggu lalu Surat Keputusan Tesis Nara sudah keluar. Ia bertekad menyelesaikan tesisnya secepat yang ia bisa. Ia hanya ingin cepat lulus dan fokus ke dunia kerja yang sesungguhnya. Mungkin diluar sana akan ada Hyuk lainnya.

“sebentar lagi ‘selamat datang februari’ hahaha”

“dan sebentar lagi ‘selamat tinggal Nara unnie’ huhuhu” imbuh Minyoung dengan nada sedih

“kau sudah mengajukannya ke atasan?” ujar Woobin dan Nara mengangguk

“awalnya beliau menolak dan ya kalian tahulah, dia menahanku agar tidak resign karena aku memegang banyak tanggung jawab. Tapi aku ingin fokus ke tesisku dan harus bersiap dengan dunia baru” jelas Nara dan semua mengangguk

“lalu ahjumma itu?” tanya Suho oppa dan kami semua tertawa (ahjumma yang dimaksud adalah atasan kami lainnya. Dia baik namun terlalu banyak menuntut dan membuat kami pusing dengan sikapnya yang terlalu bossy. Oke lupaan saja)

“aku bekerja tidak ada hubungannya dengannya hahaha” imbuh Nara dan Suho melihat tatapan sedih dimata Nara.

Nara adalah gadis yang baik. Sesungguhnya Suho merasa kalau Hyuk dan Nara ada sesuatu, hanya saja ia tidak minat untuk membahas.

‘mengapa kalian tahan perasaan itu’

Kalimat itu yang selalu memenuhi pikiran Suho dulu, dan bahkan sampai sekarang.

Hari ini Nara datang ke gedung sebagai mantan pegawai Kyunghee

“akhirnya aku resign juga setelahbertahun-tahun menetap disana hahaha” ucap Nara pada Suho dan ia tertawa

“noona kau selama ini kemana saja? Sebulan ini chat-mu jarang aktif dan sulit dihubungi. Jahatnya” gerutu Minyoung. Nara langsung memeluk hoobae kesayangannya ini

Sora mendekat ke arah Nara, “setelah kau resign, seminggu kemudian Younggi pun pergi. Sepi tanpa kalian”

Ah iya, Younggi yang sudah menikah lebih memilih untuk fokus ke tesis dan keluarga kecilnya dahulu. Jadi ia memilih melepaskan tanggung jawab pekerjaan ini.

“Jin oppa! Kangjoon oppa!Seungjo oppa!” teriak Hyejin

Semua menengok ke arah Hyejin melihat dan mendapati tiga teman mereka datang berkunjung.

“kalian apa kabar?”

“sudah lama ya”

“ah kalian tampak keren”

Semua itu adalah ucapan teman-teman dan tentu saja Nara saat melihat mereka. Tapi Nara tidak melihatnya. Ia tidak datang katanya, tepatnya tidak bisa datang.

SANGHYUK.

Nara yang kecewa terlihat oleh Suho. Suho yang melihat kekecewaan itu pun memanggil Nara dan bicara empat mata di ruangan.

“Nara kau ada apa?” ujar Suho tersenyum

Nara tertawa, “aku? Ada apa? Ah tidak apa-apa kok. Memangnya aku kenapa? Ayo ke depan, kan sedang ada…” Nara berdiri dari kursi hendak keluar

“Sanghyuk tidak datang karena ada lembur dikantornya”

Ucapan Suho berhasil membekukan gerakan Nara. Namun Nara segera berbalik dan tersenyum, “ya maklum kan dia termasuk baru haha ayo oppa kita ke…”

“kau memendamnya saja?”

“nee?”

“perasaanmu yang sebenarnya?”

Nara sangat kaget dengan apa yang baru saja dikatakan Suho. Namun ia tersenyum dan bersikap biasa aja. Nara ahli menyembunyikan perasaannya. Suho merasa ia tidak yakin ketika mengatakan perasaan Nara pada Hyuk. Namun Suho tahu bahwa ada seseuatu diantara mereka

“Suho oppa, ppalli kajja” ujar Nara sambil tersenyum. Lalu Suho tersenyum dan berjalan keluar bersama Nara menemui teman-teman yang lainnya

*FEW WEEKS LATER*

“jadi selama ini kau menyukai Hyuk oppa?” ujar Minyoung dengan wajah yang sangat syok. Ia hanya bisa diam. Ia merasa bersalah karena selama ini ia yang menjadi biang karena menjodoh-jodohkan Jin dan Nara. Jin yang akhirnya menyayangi Nara dan terlihat sedikit memberanikan diri.

Ya… beberapa waktu setelah hari itu, teman lab yang ia temui pertama adalah Minyoung dan ia menceritakan semuanya. Minyoung hanya bisa terus meminta maaf. Nara tidak mungkin menyakiti Jin dengan menghindarinya.

Jin pria yang baik dan ia ingin percaya bahwa Jin bisa menjadi seseorang yang akan membimbing Nara di masa depan nanti.

BOHONG.

Itu adalah harapan Nara. Namun hatinya masih untuk Hyuk. Hyuk bekerja sangat fokus, ia pun tidak kembali ke kekasihnya yang dulu. Di lubuk hati Hyuk, sebenarnya ia menganggap Nara adalah perempuan yang spesial, ya ia menyayangi Nara. Tapi Jin terlihat serius pada Nara dan ia hanya tidak ingin merusak pertemanan mereka.

Ketika logika dan perasaan berusaha menyatu, saat itulah hati menunjukkan jati dirinya.

*Hari Kelulusan Han Nara*

“kalian…”

Betapa kagetnya aku ketika aku melihat tim lamaku di Lab berkumpul disini. Semuanya, lengkap. Termasuk  Sanghyuk, Kangjoon, Jin, dan Seungjo.

“Nara unnie selamat ya”

Minyoung dan perempuan lainnya memelukku. Kemudian mataku tertuju pada satu mata.

HAN SANGHYUK.

“kalian berempat datang?” ujarku sambil tersenyum dan Kangjoon tertawa

“tentu kami datang ke sidang noona kesayangan kami, hahahaha”

“selamat Nara noona” Hyuk mendekat ke arahku dan tersenyum. Ia menyalamiku, dan aku menggapai tangannya.

Untuk sesaat aku tidak bisa berhenti tersenyum dan tatapanku pada Hyuk benar-benar tidak bisa lepas

“Jin oppa khusus datang untukmu, dia cancel perjalanan ke luar kota lho unnie” ujar Sooyoung dan yang lainnya tertawa.

Oh iya, kecuali Minyoung yang mengetahui perasaanku pada Hyuk, dan Suho oppa yang memilih diam tanpa melanjutkan pembicaraan dahulu. Sesungguhnya aku hampir menceritakan perasaanku pada Suho oppa, dan ya aku merasa Suho oppa menyadarinya. Jadi aku tidak perlu memikirkan kalimat yang pas untuk jujur.

“Nara selamat ya” ujar Jin, tanpa embel-embel panggilan noona. Aku tersenyum dan mengangguk, “semoga bisa lebih baik lagi untuk karir dan hidupmu” imbuhnya sembari memberikan bunga yang sangat cantik.

Semua semakin heboh dan tertawa. Aku semakin terpuruk dengan apa yang terjadi

‘kenapa jadi begini?’

Sudah beberapa minggu berlalu sejak sidang magisterku. Aku memiliki rezeki lebih dan akhirnya membuka café mungilku sendiri di sekitar tempat tinggalku.

Teman-teman sering berkumpul dan bermain. Aku sama sekali tidak kehilangan mereka.

SANGHYUK.

Meskipun rumahnya sangat jauh, ia tetap menyempatkan waktu untuk datang.

JIN.

Ya ia juga datang. Entahlah, aku sedang tidak ingin membicarakan apapun mengenai ini.

Aku ingin fokus ke toko yang aku bangun ini. Aku sangat bersyukur, tokoku ramai. Offline ataupun online-nya. Pegawaiku juga orang-orang yang baik dan aku selalu memiliki teman-temanku  yang sering datang ke cafe untuk membantu.

*In Rainy Day*

“hai Jin…” ujarku saat aku melihat Jin tergopoh-gopoh karena kehujanan

“annyeong. Noona aku mau coklat panas” ujarnya sambil mendekati mejaku. Aku meminta pegawaiku untuk membuatkan cokelat panas untuknya

“tumben sekali datang disaat hujan deras? “ ia diam. Aku pikir ia sedang banyak masalah. Sudah hampir 30 menit ia diam

“unnie.. kami sudah selesai. Kami tunggu di lantai dua ya” ujar hyesong, salah satu pegawai kesayanganku. Aku mendekatinya dan meminta semua pegawai pulang saja. Masalah toko biar aku dan Jin yang mengurus. Akhirnya toko tutup dan hanya ada kami berdua

“ada sesuatu kah? Mau cerita padaku?” ujarku menepuk bahu Jin. Ia menggenggam tanganku dan menempelkan tanganku ke pipinya. Aku kaget tapi aku tidak menarik tanganku karena aku merasa ia sedang butuh teman

“waeyo?”

“tahun depan…” ujar Jin sambil menatapku, “aku mohon”

“ada apa?”

“aku mohon tunggu aku tahun depan. Aku ingin menikahimu noona”

“mworagoo?” aku syok setengah mati dengan apa yang ia katakan, “Kim Seok Jin, jangan bercanda masalah seperti ini ya”

“aku tidak bercanda. Kau sudah tahu sifatku kan” tanyanya dan aku mengangguk, “tentu saja aku tidak bercanda atau melakukan lelucon”

“kalau hanya karena anak-anak sering meledek kita, pasti kau hanya terbawa perasaan. Tenang saja”

“animnida noona”

Aku diam memandang Jin yang terlihat frustasi. Aku mencoba serius dan menganggapnya benar ingin menikahiku, “sejak kapan?”

“nee?”

“menyukaiku? Setelah diledek?”

“sebelum yang lain meledekku. ketika akhirnya kita bisa bicara berdua. Ketika kau menegurku di lift. Ketika kau tertawa saat menelpon keluargamu. Ketika kau peduli terhadap lingkungan. Aku tidak tahu sejak kapan sepertinya. Mianhae”

“Jin…”

“Aku tidak butuh pengakuan orang lain karena kita berhubungan. Aku hanya ingin memastikan bahwa aku memiliki kesempatan itu. Beri aku kesempatan untuk membahagiakan dan menjagamu Nara. Ketika kuliah, aku hanya berharap kalau aku bisa lebih berani memandangmu. Setiap mereka menjodohkanku padamu, aku sangat senang dan hanya bisa tersenyum. Tapi kau terlihat biasa saja. Aku tidak berani”

“aku pikir itu hanya bercanda dan aku tidak serius menanggapinya”

“aku tahu karena ejekkan itu kita jadi canggung. Tapi kalau selalu berusaha untuk tidak canggung padaku. Maaf aku membuatmu merasa aneh”

“kau bertahan sampai saat ini?”

“sampai saat ini, aku mencintaimu. Ya benar aku mencintaimu. Aku cinta padamu dalam diam dan doaku. Hingga aku memiliki keberanian dan uang yang lebih untuk membelikanmu apa saja yang kamu mau”

“uang? kau menganggapku sebagai wanita yang hanya membutuhkan uang?”

“aniya.. agar masa depan lebih terjamin. Itu saja” ujarnya parau. Aku hanya bisa memandangnya. Ia terdiam menatap gelas minumnya. Ia tidak berani menatapku

Aku berdiri dan agak menghadap tubuhnya, “boleh aku bercerita sedikit mengenai masa laluku?”

“mengenai masa lalumu yang disakiti seorang pria tak bertanggungjawab itu?” ujar Jin dan aku semakin kaget. “aku tahu bahwa aku tidak peka, cuek, dan terlihat tidak peduli. Tapi percayalah, aku tahu masa lalumu. Oleh karena itu aku semakin percaya kalau aku menyerahkan hatiku untukmu dan kau menerima hatiku, aku yakin bahwa aku akan baik-baik saja”

“Jin..”

“iya?”

“apa kau serius mencintaiku? Mau bertanggungjawab dan serius akan hidupku?”

“kau pikir aku berani mengutarakan hal ini hanya main-main? Aku serius!”

“baiklah”

“nee?”

“cobalah cari cara agar aku bisa jatuh cinta padamu. Jangan melalui orang lain, harus melaluimu Jin. Aku serius”

“Nara…”

“Saat ini aku sedang terfokus pada seseorang dan sesuatu, bantu aku mengalihkannya padamu. Kau harus sabar padaku, dan aku juga akan berusaha membuka perasaanku”

“aku akan mencobanya. May I Love You, Han Nara?”

DEG. DEG. DEG.

HAN?

Aku tetiba mengingat Hyuk. Han Sanghyuk.

“Nara?”

“yes.. I’ll try”

“jika pada jangka waktu tertentu kau tetap tidak bisa menerimaku, kau harus katakan”

“jika aku tetap tidak bisa melupakannya dan menyerah. Aku akan jujur padamu. Biarkan aku sendiri dan memilih langkahku”

“gamsahamnida…”

*Backsound: Takaramono Guitar Version – Sabao

Cukup lama Nara berusaha keras membuka hatinya untuk Jin. Jin yang serius menyayanginya dan ingin menikahinya. Sampai akhirnya Nara akan mencoba memulai semua dari awal, dengan Jin. Ia akan berusaha mencintai Jin.

Bukanlah wanita hakekatnya dicintai oleh orang yang mencintainya? Jadi jika ia dicintai dengan tulus, ia percaya suatu saat ia akan mencintai Jin juga

Pernikahan Nara dan Jin akhirnya telah ditetapkan. Semua cukup kaget karena mereka berdua terlihat biasa aja. Jodoh mempertemukan mereka.

Beberapa waktu setelah kabar Nara dan Jin akan menikah, Sanghyuk sadar bahwa ia benar-benar mencintai Nara. Sangat mencintai Nara dan ingat kalimat Nara yang dulu,

‘aku menunggumu. Cepatlah bekerja dan fokus’

Sampai saat ini, ia tidak tahu apa kalimat itu hanya bercanda atau serius. Ia yakin cintanya lebih besar dari jin. Ia tahu dari Minyoung kelepasan bicara mengenai Nara. Didesak oleh Hyuk yang marah, akhirnya Minyoung menceritakan semua. Hyuk hanya bisa menangis mengingat selama ini kedekatannya dengan Nara ia anggap satu pihak. Nara yang memang peduli terhadap semua membuat Hyuk tidak yakin Nara memang mengistimewakannya.

Hari pernikahan berlangsung. Semua terlihat biasa saja.

Suho dan Minyoung melihat rasa sakit yang teramat dalam dirasakan Nara. Minyoung melihat tatapan kosong Hyuk saat Nara dan Jin mengucap janji pernikahan. Senyum palsu Nara tidak bisa membohongi Suho.

‘aku harap kau bisa benar-benar bahagia, Han Nara’ ucap Suho dalam hatinya

“Selamat atas pernikahannya ya Nara – Jin.”

“Ah kalian cocok sekali”

“akhirnya Jin punya pacar dan istri secara bersamaan”

Nara berusaha melepaskan Hyuk dari hidupnya dan ya sekarang ada Jin yang akan selalu disampingnya.

Apa ia melupakan Hyuk? Tidak. Bahkan perasaan itu semakin besar. Namun perasaan ingin bersama hyuk sudah memang tidak bisa dilanjutkan.

Beberapa minggu setelah pernikahan itu, Hyuk sama sekali tidak bisa dihubungi. Ia mendadak resign dari pekerjaannya dan menyendiri. Akhirnya dia kembali namun terlihat jelas bahwa ia depresi.

Untuk pertama kalinya, ia menangis dan meronta. Ia membenci dirinya yang fokus karir, karir, dan karir. Sampai ia tidak sadar kalau Nara menunggunya cukup lama. Nara tetap disampingnya agar Hyuk sadar dan mengerti, Namun percuma Hyuk tetap tidak bisa memperlihatkan kepekaannya. Nara sudah menikah dengan Jin, itu tidak berubah

Hyuk menemui Minyoung dan menceritakan semua. Minyoung yang sangat kaget akhirnya menangis dan meronta. Ia memukuk-mukul Hyuk tanpa henti

“kau bodoh oppa. Nara unnie begitu mencintaimu,mendukungmu, dan aku pernah melihatnya berdoa untukmu. Demi Tuhan sejak itu aku tidak mengejeknya dengan Jin Oppa lagi. Kemudian aku mendengar kejujuran darinya setelah ia resign”

“Minyoung sudahlah. Nasi sudah menjadi bubur”

“bubur-nya pun sudah basi jadi lebih baik buang dan lupakan” bentak Minyoung

‘lebih baik buang dan lupakan’

Kalimat Minyoung membuat Hyuk ingin menangis dan semakin berteriak. Walaupun ia hanya bisa diam

Han Nara.. jeongmal mianhae

*FEW MONTHS LATER*

Semua sahabat kaget dengan keputusan Nara dan Jin untuk pindah ke luar negeri. Jin dipindahkan dan mendapat posisi yang sangat sangat baik. Nara mengambil kesempatan itu untuk jauh dari hidupnya yang lalu.

“Kau yakin pindah unnie? Ah nanti kau melahirkan disana dan kami susah bertemu” gerutu Yoona, Hyejin, dan lainnya

Nara tertawa, “jika anakku sudah cukup besar, aku akan pulang”

“ini jaman modern. Skype, whatsapp, instragram, line. Kalian masih bisa berhubungan” ujar Suho mengingatkan dan mereka semua tertawa

“kami pasti kembali” imbuh Jin sambil memeluk Nara

“anakmu nanti naik balon udara saja noona hahaha” ujar Hyuk dan Nara tertawa

“makan angin biar cepat besar ya?” imbu Nara lucu

Minyoung tersenyum pedih melihat Hyuk dan Nara,

‘bagaimana dua orang tidak tahu kalau mereka saling mencintai dan saling menunggu,  dan kenapa harus jadi seperti ini? kenapa cinta serumit ini?’

 

“aku akan pulang Minyoung” Nara memeluk hoobae kesayangannya itu dan Minyoung menangis

“Nara noona akan pulang dengan kehidupan yang baru” imbuh Hyuk dan semua orang tersenyum.

Nara langsung terdiam dengan apa yang dikatakan Hyuk.

‘dasar hyukie bodoh’

Nara sangat mencintai Sanghyuk, Minyoung tahu.

Sanghyuk juga sangat mencintai Nara, Minyoung juga tahu.

Ia berjanji pada mereka berdua untuk tidak mengatakan apapun.

Lagipula bukankah Nara dan Hyuk tidak bisa bersama saat ini? 

Tidak Boleh.

*3 YEARS LATER*

Pada kenyataannya, Nara dan Jin tidak pernah bisa pulang. Mereka hanya reuni via skype dan chat grup saja. Nara melahirkan bayi kembar laki-laki dan perempuan.

SEHUN dan SOOJUNG.

Saat ini anak mereka baru 3 tahun. Namun Nara divonis dokter bahwa ia memiliki penyakit kanker otak dan ia tidak bisa bertahan lama. Nara dan Jin menangis. Marah, kesal, dan mengapa semua baru terasa saat ini ketika sudah parah.

Nara tidak kuat menahan sakit dan akhirnya ia meninggal. Nara pun dibawa kembali ke Korea karena Nara ingin dikelilingi oleh keluarga dan sahabatnya.

Semua sangat syok dan benar-benar menangis. Bagi teman dan sahabat, Nara adalah sosok adik, teman, kakak, sahabat, dan ibu yang sangat peduli. Nara pergi selamanya tanpa bertemu sahabat-sahabatnya langsung.

“akhirnya Nara noona pulang ya” ujar Kangjoon sambil menangis, diikuti dengan yang lainnya

“selamat datang Nara unnie” imbuh Younggi sambil menggendong anaknya, Soyu.

Minyoung meronta, “jika dalam keadaan seperti ini, lebih baik tidak usah pulang! TIDAK USAH PULANG!!!”

“Minyoung… jangan begitu” Yoona memeluk Minyoung erat.

Yang paling terpukul atas kepergian Nara adalah Sanghyuk. Ia belum sempat jujur atas perasaannya. Ia berencana jujur ketika Nara pulang karena ia ingin melihat dan mendengar reaksi Nara terhadapnya. Namun, rencana itu tidak pernah terwujud.

Nara memang kembali pulang, namun keadaanya tidak sama. Itu membuat Hyuk hanya bisa terdiam. Air matanya sudah habis ketika ia mendengar kabar tersebut beberapa hari lalu

Jin melihat Hyuk. Ia melihat Hyuk adalah orang yang paling terpukul atas kepergian Nara. Ia tahu benar hal itu. Hanya saja, saat itu semua terlalu abu-abu untuk dijelaskan.

JIN POV

“Minyoung, anak-anakku tolong dibawa ke mobil ya” pinta Jin dan mereka mengikuti Minyoung

Jin memegang bahu Hyuk, “bisa ikut aku sebentar?”

“oke”

Aku mengambil napas panjang sebelum memulai obrolan ini. jujur aku tidak tahu harus mulai darimana. Namun ini harus ku katakan.

“saat ini Sehun dan Soojung baru 3 tahun, kami harus kehilangan Nara secepat ini”

“kami pun clueless, Jin. Aku tidak bisa berpikir jernih ketika aku mendapat kabar duka ini”

“Sebenarnya aku tahu perasaan Nara padamu, Hyuk” ujarku pada Hyuk

“nee?” mata Hyuk terbelalak saat mendengar apa yang aku katakana. Apakah ia tidak tahu perasaan Nara? Akhirnya aku lanjutkan kalimatku

 “aku terlalu egois karena memaksanya menikah dan ia terlalu baik jadi ia menerima lamaranku” Hyuk hanya diam mendengar apa yang aku katakan padanya, “aku belajar berbagai emosi dari apa yang terjadi pada Nara. Aku merasakan hal aneh dan aku tahu itu perasaan cinta yang besar. Aku merasakan cintaku untuk Nara dan aku merasakan cinta Nara. Sayangnya, bukan untukku. tapi hanya untukmu, HAN SANGHYUK”

DEG

Hyuk terdiam. Ia menangis dalam diamnya. Air matanya tidak mau berhenti. Jangan-jangan dia memang tidak tahu?

“kau tidak tahu hyuk?”

“…”

“Han Nara begitu mencintaimu bahkan sampai di detik hari terakhirnya”

Hyuk tersenyum dengan apa yang dikatakan olehku. Ia menghembuskan napas panjang dan mengusap air matanya. Aku bingung dengan pemuda ini yang terlihat main-main dengan hidup dan perasaannya. Mungkin ini yang membuat Nara begitu mencintainya. Ia menatapku sayu, “aku tidak yakin dengan keputusanku. Aku tidak yakin dengan perasannya padaku dulu. Ia terlalu baik pada semua. Jadi aku pikir…”

“KAU BODOH HAN SANGHYUK. AKU PIKIR PENGALAMANMU DALAM CINTA YANG LEBIH BANYAK MEMBUATMU LEBIH MENGERTI” ujarku begitu kesal. Aku menatapnya dan ia hanya bisa diam, “tapi aku bersyukur dengan keputusanku 4 tahun lalu menikahi Nara, sekarang ada Sehun dan Soojung yang menemaniku walaupun Nara sudah tidak ada”

“Jin… Sehun dan Soojung bisa menerima kematian Nara?” tanya Hyuk dengan nada yang begitu menyayat. Rasanya aku ingin menangis.

Aku harus kehilangan wanita yang membuatku jatuh cinta begitu besar untuk pertama kalinya. Wanita yang menjadi ciuman pertamaku, kekasih pertamaku dan akhirnya aku bisa menikahinya. Namun sekarang aku kehilangannya. Kalian tahu rasanya? Sempat ingin mati. Aku tahu aku harus hidup dengan baik demi anak kami, Sehun dan Soojung.

“ya awalnya aku kaget ketika mereka menerima bahwa Ibu mereka tidak akan pernah kembali untuk memasak, bermain, dan menjaga mereka lagi. Aku merasa gagal jadi suami dan ayah. Namun aku berjanji pada Nara agar menjaga mereka dengan baik hingga mereka dewasa dan menemukan pasangan mereka”

*FLASHBACK*

“kepalaku sakit Jin” ujar Nara memegang kepalanya dan menangis

Aku memeluknya erat, “bertahan Nara. Kau harus sembuh,, kau harus sehat’

“MANA BISA AKU SEMBUH JIN! AKU AKAN MATI!” ia menangis dan berteriak,

“kau tidak akan mati Nara” aku menangis dan mengecup rambutnya, “kau akan baik-baik saja”

“aku tidak mau meninggalkan anak-anak. mereka… mereka masih terlalu kecil”

“…”

“jin”

“nee?”

“jikalau aku mati…”

“STOP NARA!”

“dengarkan Jin! KAU TAHU HIDUPKU TIDAK AKAN LAMA! KAU TAHU ITU BODOH!!!”

“…”

“jaga anak-anak kita dengan baik. Awasi mereka hingga dewasa. Jangan dikekang. Ajari mereka warna dunia, cinta kasih, kepedulian, dan kasih sayang. Jaga mereka hingga mereka menemukan pasangan mereka”

“Nara…”

“aku mohon suamiku” ucap Nara sambil menangis dipelukanku

Aku merasa Nara benar-benar akan pergi

“nee. Aku janji”

“tolong berikan ini pada Sanghyuk ya” Nara memberikan sepucuk surat dengan tangan gemetar, “katakan padanya untuk membacanya”

“kau harus sehat dan kau yang akan memberikan surat ini. Ah bukan, kau yang mengatakan semuanya sendiri. Katakan bahwa kau mencintainya. Benarkan??”

Nara kaget. Matanya terbelalak. Namun setelah itu ia tersenyum, “sudahlah.  Jangan bahas ya Jin. Aku istrimu, ibu dari anak-anakmu. Itu sudah lalu. Tolong berikan saja ini padanya bocah comedian itu” pintanya

Aku mengambil surat tersebut, “akan kuberikan padanya”

Beberapa waktu setelah itu, sakit kepalanya semakin parah dan ia benar-benar pergi meninggalkanku selama-lamanya. Ia tidak menjawab pertanyaanku mengenai cintanya pada Hyuk. Dijawab atau tidak, aku tahu jawabannya.

*FLASHBACK END*

“Jin?” tegur Hyuk dan aku tertawa, “kau tidak apa-apa?”

“ya semoga aku baik-baik saja”

Ia menepuk bahuku, “aku yakin kau bisa menjadi ayah yang baik”

“aku juga berjanji pada Nara untuk memberikan sesuatu padamu sebelum dia…” ucapanku terhenti. Aku menghela napas panjang menahan tangis, “ini untukmu”

“surat? Hahaha surat cinta?”

Aku tertawa mendengar comedian ini bicara, “mungkin juga haha aku tidak tahu itu apa. Ya sudah, aku harus pulang. Anak-anak sudah berisik di mobil’

“Jin”

“nee?”

“terima kasih banyak ya. Sering-sering pulang agar aku bisa bertemu Nara kecil”

“cheonmaneyo uri Hyukie. Akan ku usahakan sering kembali. bye”

*Backsound: Update ‘Guitar Version’ – Sabao*

—–

Hai.. Han Sanghyuk kesayanganku.

Maaf aku menulis surat seperti ini. Janji padaku setelah kau baca surat ini sendirian langsung kau bakar habis.

Janji? Oh iya, baca ini dengan senyuman ya, aku tidak mau ada sedih di suratku.

Aku mencintaimu Han Sanghyuk. Sangat mencintaimu. Apa kau tahu itu? Apa kau peka?

Aku rasa tidak ya, Hyukie. Hahaha Selama ini aku hanya diam disampingmu. Menunggumu.

Tak pernah ku tunjukkan aku mencintaimu. Aku menunjukkan kepedulianku pada semuanya, karena aku tidak mau jika aku terlihat mengkhususkanmu. Akan berbahaya bagimu.

Aku benci gosip dan lingkungan kerja kita saat itu tidak baik.

Namun sekarang aku lega… aku tahu Jin begitu mencintaiku. Ia tidak peka dengan berbagai emosi yang dialami orang-orang pada umumnya. Sejak saat aku disampingnya, ia merasakan marah, cemburu, dan banyak hal.

Aku bisa melakukan 90% hal yang tidak bisa ia lakukan. Tapi ia bisa melakukan 10% hal yang tidak akan pernah bisa aku lakukan sendirian. Salah satunya melupakanmu.

Menikah dengan Jin, lalu melahirkan Sehun dan Soojung adalah kebahagiaan tersendiri untukku. Melihat Sehun dan Soojung sehat adalah salah satu anugerah terbaik di hidupku

Kepindahanku menjauh dari kalian dulu ternyata tidak membuat perasaanku padamu hilang. Sekarang cintaku untuk Sehun dan Soojung yang sudah beranjak besar. Namun kau adalah orang yang tidak akan pernah aku lupakan seumur hidupku.

Jika kau membaca surat ini, mungkin aku sudah tidak ada lagi di dunia ini. Sakit ini melemahkanku dan aku tidak sanggup bertahan hehehe aku lemah ya. Maaf ya.

Jika aku dilahirkan kembali dan kita ditakdirkan bertemu di kehidupan mendatang, aku mohon padamu kejar aku. Jangan biarkan aku memilih orang selain dirimu.

Aku sangat mencintaimu Han Sanghyuk selama 6 tahun dan rasa itu tidak pernah berkurang sedikitpun. Perasaan ini akan kubawa mati dan saat reinkarnasi nanti, aku akan menemukanmu.

Berbahagialah dan kau harus semangat untuk bagianku juga ya. Thanks for all.

—–

*Backsound: Update (Guitar Kang version)*

Surat itu basah karena air mataku. Aku sudah menyuruh mata ini untuk berhenti menangis. Tapi ia tidak mau berhenti, ia tidak mau mendengarkanku. Aku sudah membiarkan seorang wanita mencintaiku selama itu. Aku tidak berani meyakinkan diriku untuk lebih mengenalnya dan sekarang aku kehilangannya. Selamanya. Bahkan tanpa sempat ia tahu perasaanku.

Dulu aku pernah berpikir akan mengatakannya nanti. Nanti itu berubah menjadi nanti, dan nanti, dan nanti. Hingga nanti itu tidak pernah terjadi. Kata nanti itu tidak pernah terwujud. Ia tidak pernah tahu perasaanku padanya. Ia tidak tahu aku sangat mencintainya. Bahkan ketika ia memiliki anak pun, hatiku tidak pernah berubah.

Inikah rasanya saling mencintai dalam diam?

Inikah rasanya saling mencintai tapi tidak bisa mengutarakan?

Inikah rasanya saling mencintai tapi tidak bisa bersama?

SAKIT.

SANGAT AMAT SAKIT.

TERLUKA.

SANGAT AMAT TERLUKA.

Aku bisa apa?

Tuhan lebih mencintainya dari pada siapapun di dunia ini.

Mungkin jika suatu saat aku jatuh cinta, dan jika aku bisa jatuh cinta lagi, aku akan mengatakannya. Siapa tahu kata ‘nanti’ tidak pernah terlaksana. Aku tidak mau mengulangi kesalahan terbesar dalam hidupku lagi.

Maafkan aku Han Nara atas segala keegoisan dan kebodohanku. Aku yakin kau di atas sana mendengarku. Semoga aku bisa mengikhlaskanmu ya. Bantu aku menemukan Nara yang lainnya dan yang terbaik untukku. Janji padaku?

“Hey Nara… I do really love you. Sorry for the unspoken words. Goodbye”

THE END…

it’s so hurt and sad, when you really love someone but you know that you and someone that you love can’t be together.

but if you love someone, no matter what, you have to tell the truth is. sometimes later becomes never.

you will never knows how future working. it’s a life. no one knows about it. be true.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s