EVIL PRINCE AND WOLF GIRL [PART 2]


02

Title     :  Evil Prince and Wolf Girl [Part 2]

Author :  Anastasia (@anastasianana_)

Genre :  Friendship, Romance, Family, School

Rating:   AG (All Age) / T

Main Cast     :  Jung Leo, Han Nara

Other Cast : Found them by yourself  :)

Backsound: Peterpan by EXO, Call Me Baby by EXO, and others

.

.

Hai.. namaku Han Nara. Masih ingat kisahku yang waktu itu?

Jika tidak ingat sudahlah.

Jika ingat, mungkin aku ingin meneruskan hidupku.

Aaamitaaba…

 

“Nara… belikan aku jus jeruk” suara Leo terdengar dari telepon, aku hanya diam, “aku di kantin. Cepat, aku sangat haus!”

KLIK.

Telepon mati begitu saja dan aku secepat kilat mengambil langkah seribu ke vending machine, lalu ke kantin dan menemui Leo.

“ini jus mu” dengan napas tersengal-sengal ku berikan jus itu

“sebagai ucapan terima kasih karena membelikanku jus. Akan ku traktir kau sesuatu” ujarnya dengan senyuman yang sangat ramah

Mataku berbinar. Kebetulan aku lapar dan haus, “benarkah?”

“iya benar.. ini ku traktir air putih. Minumlah” ujarnya sembari menggeser segelas air putih ke sampingku.

“…”

Aku masih terlalu lelah untuk marah-marah. Sudahlah. Ku minum saja.

‘Lagi pula air putih juga sehat kan’

Gumamku seperti orang yang sangat menyedihkan.

 

*Few Days Later*

Hubunganku semakin hangat. Ia selalu mengantar dan menjemputku ke kelas. Ia selalu mengajak makan di taman saat istirahat. Banyak perempuan yang sangat iri padaku. Bagaimana tidak, seorang perempuan biasa dan di bawah rata-rata seperti aku bisa mendapatkan Jung Leo.

Tidak ada yang tidak tahu Jung Leo di sekolah ini, meskipun kami sama-sama kelas 1. Ketampanan, keramahan, kecerdasan, kemampuan Leo tidak diragukan lagi. Aku sangat bersyukur.

Gentle, manly, and perfect. Maybe he is more than that. I love him, and he love me too.

 

CUT. CUT. CUT.CUT.CUT.

Kalimat tadi hanya bualan. Sangat amat bualan. Aku mual sekali mendeskripsikan kebohongan itu di depan Yura dan Hyerin. Hmm, di depan anak-anak yang menanyakan tentang kami sih tepatnya.

Aku serba  salah. Terutama pada Yura dan Hyerin. Mereka selalu memarekan kekasihkanya yang begini, begitu. Aku kan iri.

Leo?

Hey, aku harap kalian tidak lupa kalau aku dan Leo hanya berpura-pura. Bahkan ia bisa lebih sadis menyuruhku melakukan hal yang aneh. HEY. Bukan aneh-aneh itu. Tapi aneh-aneh karena ia suka menyuruhku tiba-tiba membelikan makanan, minuman, memijitinya, mengambilkan barang.

Bahkan pernah aku berlari 1 KM hanya untuk memperdengarkan suara ‘GUK’ dihadapannya!

Sakit jiwa!

 

*Taman*

Aku menunggu 10 menit disini, tapi ia tidak muncul juga. Kemana laki-laki itu?

“jam istirahat sudah mau ha..”

 

“hei kau disana!”

Teriak segerombolan gadis berjalan ke arahku dengan tatapan super sini. Aku terus melihat mereka.

“kau kekasihnya pangeran leo kan?” ujar salah satu dari mereka

 

‘Pangeran Leo’

Aku mau muntah mendengarnya.

 

“nee. Namaku Han Nara” ujarku ramah

Mereka mendorong tubuhku hinggu terbentur tembok

‘sakit’

 “jangan sok manis! Kenapakau berpacaran dengannya?” ujar gadis tinggi semapai dihadapanku

“karena kami saling sayang tentu saja” ujarku lantang. Namun tatapan mereka malah jauh lebih sinis dari sebelumnya. Aku menurunkan intonasiku, “memangnya ada apa?”

 

“kita sebagai fans berat Pangeran Leo sepakat untuk terus melihatnya saja. Itu sudah lebih dari cukup! Itu peraturan!”

“kau juga seharusnya tidak boleh berpacaran dengan Leo!” imbuh lainnya dengan wajah kesal

“bagaimana bisa begitu” gerutuku

“apa katamu?!” teriak salah satu dari mereka, dan ia mendorongku cukup keras, “kau…”

 

“hentikan!!! Gadis-gadis seperti kalian yang bisanya hanya memojokkan orang, tidak akan bisa jadi apa-apa di masa depan. Dasar penganggu”

 

“cih siapa kau?!”

“lebih baik kalian pergi sebelum ku laporkan ke komite dan kalian kena skors dan pengurangan nilai”

“sial.. ayo pergi!!!”

 

Segerombolan gadis tadi pun pergi berkat pria ini. Ia mendekat ke arahku dengan wajah yang, hmm, khawatir mungkin?

“kau tidak apa-apa?” tanyanya. Aku tersenyum dan mengangguk, “syukurlah. Aku takut kau kenapa-kenapa”

“memang kenapa?”

“aku tidak suka penindasan seperti tadi. Sangat tidak suka. Ah iya…” ia mengelap tangannya lalu mengarahkannya padaku, “Park Chanyeol imnida, kelas 1-F”

Aku menjabat tangannya, “Han Nara imnida, 1-B”

 

Untuk pertama kalinya, aku bisa tersenyum melihat seorang pria.

Ia yang ramah dan sederhana. Wajahnya manis, Namun suaranya sangat manly.

He has deep voices. Cool.

 

Backsound: Beautiful by EXO

*Kantin Sekolah*

Sampai detik ini aku masih mengingat jelas suara dan senyumannya. Kapan bisa bertemu lagi.

‘Park Chanyeol’

“YAA! HAN NARA!” teriak seseorang dihadapanku.

Leo.

Aku menatapnya kesal. Mengganggu konsentrasiku saja, “ada apa?”

“kau kalau makan yang benar! Makan ya makan, jika tidak, jangan merusak selera makanku” gerutunya.

Lalu aku sadar, salad sayurku berantakan di meja, dan ternyata salad ini tidak masuk ke dalam mulutku. Pantas saja mulutku hambar. Bodoh

“kau melamun apa?” Tanya Leo sambil mengacungkan garpunya

“hmm?”

“peliharaan bisa melamun juga ya? Waaw jika kau ku jual, kira-kira laku berapa ya? Hmm…”

“YA! JUNG TAEKWOON!”

“hahahaha…”

 

MWORAGOO…

Iblis ini tertawa? Tunggu. Aku pikir urat dan syaraf kepekaannya sudah putus.

Ternyata ia bisa tertawa juga. Ya walaupun alasannya tertawa memang keterlaluan sih.

Tapi.. ya dia tertawa! Iblis gila dasar.

 

*Sepulang Sekolah*

Pelajaran hari memuakkan. Kenapa harus ada matema… tika?

‘lho itu bukannya Park Chanyeol?’

Aku keluar kelas dan mendekati Chanyeol

 

“kau Park Chanyeol kan, yang kemarin?” tanyaku dan ia tersenyum lebar.

MATILAH AKU. AKU LEMAS.

“aku sangat senang kau masih ingat namaku, Han Nara” ujarnya dan aku mengangguk.

“ah iya kau sedang apa disini? Apa menunggu seseorang di kelasku, atau…”

“aku ingin melihatmu”

“maksudnya?”

Ia mengabaikan tatapan mataku dan melihat ke arah berlainan, “aku ingin memastikan bahwa gadis-gadis itu tidak mengganggumu lagi”

“kau ingin memastikan bahwa aku baik-baik saja? Begitu?” tanyaku syok dan ia mengangguk

“ya.. ya.. sudah. Aku ke kelas ya. Aku hanya ingin melihatmu saja. Bye….”

Ia langsung berlari tanpa mendengarkan aku berbicara. Ia pergi tanpa menatap mataku ataupun tersenyum padaku.

 

Yang aku tahu, jantungku berdegup sangat cepat saat ini.

Yang aku tahu, wajahku memerah seperti kepiting rebus.

Yang aku tahu, pikiranku mulai berpikir mengenai dirinya.

Apa aku menyukainya?

Rasa suka? Untuk yang pertama?

 

*Next Day*

Sedari pagi, ada saja kejadian yang menimpaku.

Terjatuh dari kursi, terkena lemparan basket, bola volley, terlempar ke tong sampah.

Eeeerrrrrr aku yakin, ini adalah kelakukan fans-fans pangeran iblis itu!!

 

‘keterlaluaaa…’

*buaaaaagh*

“aduuuh…” aku memegangi kakiku yang terkena lemparan bola kasti.

Salah satu pemainnya mendekat, “maafkan kami. Boleh kami ambil bolanya?”

“iya tidak apa-apa. Silahkan” aku memberikan bolanya dengan senyuman. tapi gadis ini menatapku sinis dan memberikan smirknya padaku.

‘TUH KAN SENGAJA!! SEMUA KARENA IBLIS ITU’

 

“Nara kau tidak apa-apa?” seseorang jongkok dihadapanku, dan aku kaget mengapa ia bisa dihadapanku, “ayo ku antar kau ke uks”

PARK CHANYEOL.

Lagi-lagi dia yang menyelamatkanku dan membantuku ke uks. Hatinya manis sekali. Andai saja aku lebih awal bertemu dengan Chanyeol, maka jika aku memintanya berpura-pura menjadi pacarku, pasti akan menyenangkan. Bahkan mungkin saja bisa benar-benar pacaran.

‘haaah, sudahlah…’

 

*UKS*

Ia mengantarku ke uks dan mengobati luka di kakiku dengan sabar. Ya memang sangat sakit. Tapi ia membuatku merasa bahwa semua akan baik-baik saja

“selesai…” ujarnya saat menutup kotak P3K. aku suka suaranya. Sangat sangat suka.

Aku tersenyum, “terima kasih. Kau selalu baik. Pasti pada semuanya juga”

“aku.. aku hanya melakukan hal ini padamu, Nara” ujarnya singkat dan ia menatapku.

OH TUHAN.

“kalau begitu terima kasih banyak” ujarku tanpa berani menatap matanya

“minggu ini, apa kau mau jika ku ajak jalan-jalan ke Myeongdong?” tanyanya takut-takut. Tanpa berpikir panjang aku menganggukkan kepalaku

“boleh”

“kalau begitu, kita tukaran ID Line ya” ia tersenyum lebar, lalu mengeluarkan ponselnya, begitu juga aku.

“sudah ya chanyeol”

“minggu, jam 1 siang, di depan Myeongdong Dept. Store ya. Aku menunggumu disana” ujarnya dan aku mengangguk semangat

 

*kreeeeeerk*

“Han Nara.. kau baik-baik saja?”

Tebak siapa yang membuka pintu UKS dan memanggilku dengan sopan? Yap, benar. Leo.

Kenapa iblis ini selalu datang disaat ini, “Hyerin dan Yura bilang kau di UKS. Aku langsung kesini”

EH.

Aku melihat sekilas Chanyeol dan Leo saling menatap. Namun ada rasa kesal di tatapan mereka

“ah Leo, tadi aku terjatuh kena bola, dan Chanyeol membantuku. Park Chanyeol dari kelas 1-F” ujarku menjelaskan kejadian saat ini

Leo tersenyum, “sepertinya aku juga harus berterima kasih karena kau sudah menolong kekasihku. Terima kasih” ujarnya dan Chanyeol tersenyum. “Nara ayo pulang. Ku bawakan tasmu” imbuhnya

Aku mengangguk, “Chanyeol aku duluan. Terima kasih ya”

Ia tersenyum dan melambaikan tangannya. Entah kenapa rasanya berat sekali.

 

“Nara… berikan ponselmu” ujar Leo setelah cukup jauh dari UKS

Aku memberikan ponselku padanya, “ini”

 

*kraaaak*

“AAAAAAKKK!!!!” Iblis ini mematahkan ponselku! Astaga Ya Tuhan!! Ponselku!, “YAA!! JUNG TAEKWOON. KAU SEDANG APA!?”

Kepalaku mendidih rasanya ketika melihat ponselku hancur karena ulahnya.

Iblis!! Iblis!! Ibliss!!

“kau yang salah!” ujarnya, lalu mengembalikan ponselku padaku

Aku menatapnya sinis, “apanya yang salah!?” aku mendidih sekali

“jangan cari perhatian pada pria lain” ujarnya tak kalah sinis

“aku tidak cari perhatian pada pria lain!!”

“jangan bicara lagi padanya. Jangan bertemu lagi dengannya” imbuhnya

“lho kenapa? Sesuka aku. Status kita kan hanya pacar bohongan, tidak apa-apa kan jika aku dekat dengan yang lain. Lagi pula ini tidak termasuk selingkuh!” gerutuku padanya

“ah iya.. kau lupa posisimu ya?”

“mwo?”

“kau itu peliharaanku, dan aku adalah majikanmu. Jadi kau harus patuh pada APAPUN yang aku katakan” ujarnya menekan kata apapun, “mengerti puppy?”

MATILAH AKU. SELAMAT NARA. KALIMAT SAKTI KELUAR.

“nee.. arasseo…”

 

Okee.. aku menyerah!

Lambaikan bendera putih saja kawan!

 

*Hari Minggu*

Hari ini aku dan Chanyeol berjanji bertemu, Myeongdong Dept. Store. Aku melihatnya melambaikan tangannya padaku.

DIA TAMPAN SEKALI.

Hanya kaos, kemeja, jeans. Ya sesederhana itu ia berpakaian. Kenapa tampan sekali.

“kau cantik sekali Han Nara” ujarnya dan aku tersenyum

 

Seharian ini aku tidak perlu melakukan apa yang Pangeran Iblis itu minta. Hari ini aku sedang bebas. Lagi pula, aku belum pernah merasakan kesenangan yang membuatku seperti melayang-layang.

Untuk pertama kalinya, aku merasa memiliki seseorang yang berarti. Rasanya bahagia.

 

*Few Hours Later*

“ini minumanmu” Chanyeol memberikan minuman padaku

“terima kasih”

Chanyeol menatap mataku, “pria yang di UKS kemarin, pacarmu ya?”

“pacar?”

“maaf ya, padahal kau sudah mempunyai pacar. Tapi aku malah mengajamu jalan-jalan hari ini. Mungkin bisa gawat nantinya. Maaf ya Nara”

DEG.

“bukan.. bukan begitu. Jung Leo. Dia bukan pacarku” ujarku pelan, lalu ku beranikan menatap mata Chanyeol, “dia berpura-pura jadi pacarku karena suatu alasan”

“tapi kalian sering sekali bersama”

“iya. Tapi kami tidak pacaran”

“benarkah?”

“iya. Tidak perlu khawatir”

 

“aduh.. buat apa aku mengajak jalan gadis yang bukan pacar dari Leo!” Chanyeol menepuk dahinya

“nee?”

Ia terlihat kesal sekali, “setidaknya beritahu aku dari awal. Uang dan waktuku jadi terbuang percuma”

“maksudnya?”

“maaf ya.. dulu Leo pernah menikung pacarku. Jadi aku mau balas dendam dengan menikung pacarnya juga. Tapi ternyata kau bukan pacarnya. Aku hanya ingin ia merasakan sakitnya ditikung”

MWORAGOO.

Tanganku lemas. Botol minum yang aku pegang langsung jatuh.

 

“hahaha…” Suara itu… “pantas saja aura jahatmu sama sepertiku…”

Kami berbalik dan melihat siapa yang dibelakang kami.

LEO.

“balas dendam karena iri? Banci sekali. Sekalian saja ganti celanamu dengan rok mini!” ujar Leo dengan tatapan datarnya. Bukan. tatapan membunuhnya.

“kau yang salah. Kau menikung pacarku duluan!!” amuk Chanyeol sambil mengepalkan tangannya

Leo menyilakan tangannya di dada, “hmm.. aku tidak menikung siapapun, apalagi pacarmu. Pacarmu saja yang menyukaiku. Benar kan?”

“….”

“jika kau ada masalah padaku. Lebih baik jangan bertele-tele. Bicara langsung padaku” ujar leo sambil tersenyum santai dan mendekat kea rah Chanyeol

“kau.. kau mau apa?” Chanyeol mengepalkan tangannya tapi terlihat takut-takut, “mau adu jotos?”

Leo menggeleng, “aku benci  kekerasan”, Leo berjalan ke arahku, “Ayo Nara kita pulang”

 

Aku menatap ke arah Chanyeol, “jadi kau dari awal memang hanya main-main? Semua perkataanmu? Kebaikanmu? Semangatmu? Hanya kebohongan semata?”

Aku tahu saat ini Leo sedang menatap ke arahku.

“tentu saja. Aku sudah merencanakan semua dari awal. Kau baru diberi sedikit perhatian dan kalimat manis saja sudah tersenyum dan masuk perangkap. Hahaha” ujar Chanyeol dengan nada santai

“mwo?”

“lagipula.. mana mungkin aku mau pacaran dengan gadis murahan sepertimu. Kau bukan tipeku. Hahaha”

Murahan?

Aku gadis murahan?

Air mataku seketika jatuh tak terbendung.

Rasanya sakit sekali. Sakit.

 

*buaaaaggh*

Chanyeol dipukul sangat keras oleh Leo. Aku kaget tapi aku lebih memilih diam.

“YAA SAKIT!! Kau bilang kau tidak suka kekerasan?” ujar Chanyeol sambil mengelus pipinya yang ditonjok oleh Leo

“iya memang. Lalu?” tatapan Leo seperti akan membunuh Chanyeol. Chanyeol ketakutan. Hawa Leo pun berbeda

Chanyeol kesal, “kalian benar-benar pacaran ternyata!!!”

Leo merangkul bahuku dan mengajakku pergi dari sini. Namun ia berhenti dan berbalik, “dasar tidak punya telinga. Sudah kami bilang kami tidak pacaran masihs aja berisik!” ujar Leo. Aku sudah lemas dan tidak minat berkomentar apapun, “tapi.. Nara adalah milikku”

HA?

“aku jadi kalap karena kau menyakiti Nara tanpa alasan”

DEG.

‘dasar Leo bodoh. Aku bukan barang’

 

Setelah cukup jauh, aku sudah tenang. Namun masih terasa sakit dan sedih.

“kau ini tidak pernah belajar dari pengalaman ya! Belajarlah banyak dariku. Dasar puppy bodoh! Bisa-bisanya tertipu terus-menerus” ujar Leo datar

“dari awal kau sudah tahu tentang Chanyeol?”

“iya sudah. Termasuk modusnya yang murahan itu”

“…”

“Oleh karena itu aku minta kau untuk tidak berbicara apalagi bertemu dengannya lagi. Tapi kau malah kesini”

‘walaupun kau sudah tahu semua. Kau tetap datang menemuiku dan menolongku’

“hey Nara.. lain kali jangan kau merepotkanku dengan hal macam seperti ini. Kau bisa ku lempar dari jendela kelas. Mengerti puppy…”

“iya.. iya.. aku tahu” ujarku sedih

“padahal aku baru saja merasakan indahnya cinta pertama” imbuhku sambil tertawa

 

*ploook*

Kepalaku di tepuk keras oleh Leo, “sakit Leo”

“kau ini hanya tenggelam dalam imajinasimu tentang percintaan” ujarnya datar, “pengalaman cintamu itu hanya khayalan semu”

“he?”

“untuk apa terlalu memikirkan masalah percintaan yang tidak penting” ujar Leo sambil berjalan ke arah mesin minuman, dan mengambil jus jeruk kesukaanya.

“kenapa lihat-lihat? Tidak sudi ya aku mentraktirmu karena kau sedang memikirkan perasaan tidak jelasmu itu. Puppy cukup minum air keran saja kan”

 

‘sulit untuk menjelaskannya. Tapi Leo mencoba menenangkan dan menghiburku. Walaupun kalimatnya lebih mengarah ke menghinaku. Tapi aku tahu.. maksudnya baik’

DEG.

Perasaan apa ini.

Leo berbalik dan menatapku. Ia tersenyum.

Rasanya sedikit aneh melihatnya tersenyum.

 

‘mungkin saja pria itu ada di sekitarmu. Tapi kamu tidak pernah sadar. Jadi kamu tidak tahu siapa yang kau sukai’ – Shin Raekyung

 

Mana mungkin aku menyukai Leo!!

Pria kejam, iblis, jahat begitu.

 

“ayo jalan puppy.. cepat kita pulang” ujar Leo sambil mengangkat telunjuknya

 

Tapi… apakah mungkin?

Seorang aku menyukai Leo?

 

*Few Days Later*

Aku, Hyerin, dan Yura jadi semakin dekat. Kami berteman baik. Aku juga sudah biasa dengan sifat dan sikap mereka yang suka memamerkan kemesraan mereka di hadapanku, kan aku jadi iri.

Aku memang punya pacar. Tapi kan kalian tahu, Leo adalah pacar bohonganku. Kami sepakat seperti ini untuk kepentingan masing-masing. Namun ada kalanya, semua terlihat sedikit berbeda.

Liburan musim panas akan berakhir, dan besok semua aktifitas akan kembali normal. Ah iya perjanjian yang sebulan untuk menjadi pacar, dibatalkan. Eits bukan berakhir. Tapi terus diperpanjang sampai entahlah. Intinya kami akan terus berpura-pura agar semuanya aman. Aku pun bingung. Namun memang harus seperti ini.

 

*Sekolah*

“Nara…” panggil Raekyung sambil membawa sesuatu ditangannya

“nee? Ada apa Raekyung?”

“aku minta tolong. Tolong berikan catatan ini pada Leo. Aku tidak bisa ke rumahnya karena aku harus mejemput adikku hari ini” ujar Raekyung sembari memberikan map kepadaku

“memangnya dia kemana?”

“dia terkena flu” ujar Raekyung, “karena aku ketua kelas seharusnya aku yang kesana. Tapi aku tidak bisa, jadi tolong ya Nara”

“orang seperti dia bisa kena flu juga?”

“jika melawan virus, memang tidak bisa menang. Leo kan juga manusia”

 

Apanya yang manusia?

Jika ia manusia, ia bisa lebih sopan memperlakukanku.

Mungkin iblis saja lebih baik.

 

Pantas saja seharian ini sampai sekolah selesai, aku tidak melihat Leo.

“bisa kan Nara?” Tanya Raekyung dan aku mengangguk, “terima kasih banyak ya”

“kau bisa mengandalkanku”

 

Backsound: G.R.8.U by VIXX

*Leo’s Apartment*

Aku memencet bel beberapa kali tapi tidak ada yang membuka.

‘bagaimana jika ibu atau ayahnya atau saudaranya yang membuka pintu. DUH’

 

*kreeeeet*

“kau.. apa yang kau lakukan disini?”

Leo ternyata yang membuka pintu. Wajahnya pucat dan dia terlihat berantakan. Aku rasa dia benar-benar sakit.

“ini.. aku ingin mengantar catatanmu dan ada oleh-oleh dari Hyerin” ujarku gugup sambil memberikan catatan dan oleh-olehnya

Leo menyilakan tanganannya, “kenapa kau yang mengantar? Kan kau bukan anggota kelasku?”

“Raekyung sedang tidak bisa, dan ia meminta bantuanku. Jadi aku yang kesini. Sekalian saja” ujarku mengelak. Leo mengangguk pelan.

Jika ia yang membukakan pintu padahal ia sedang sakit. Berarti tidak ada orang di rumahnya?

“terima kasih sudah mengantarkan. Sekarang kau pulang saja sana”

“iya.. aku pul…”

 

*bruuuk*

“Leo!!”

Leo tiba-tiba terjatuh, tubuhnya dingin dan lemas. Aku memapahnya masuk ke kamarnya.

“kau yakin tidak apa-apa? Kau sudah minum obat belum?”

“belum”

“kalau begitu kau harus makan sesuatu” ujarku sambil berdiri, “akan ku buatkan bubur saja. Bagaimana ya membuatnya?”

Leo mengambil ponselku, “tidak usah. Tidak perlu. Aku tidak mau kau merawatku. Aku bisa”

“memang kenapa? Kau kan sedang sakit. Jangan sok kuat”

“aku tidak apa-apa. Pulanglah”

“baiklah… kapan keluargamu pulang?” tanyaku kesalsambil membereskan tas.

“entahlah”

“entahlah bagaimana? Jika ditanya ya jawab!”

“kau itu berisik sekali. Ayahku bekerja sampai malam. Sudah 3 hari tidak pulang karena lembur. Ia juga tidak tahu kalau aku sakit. Sedangkan Ibu ku tidak tinggal bersama kami”

“oh begitu”

Astaga aku tidak sopan sekali berbicara seperti itu padanya…

 

“Nara…”

“ya?”

“tidak usah dipikirkan. Aku sudah sangat terbiasa dari kecil seperti ini. Bahkan aku tidak pernah memikirkan hal ini. Kau pulang saja sana”

“baiklah aku pulang”

 

Hari ini Leo tidak masuk lagi. Tapi ia tidak ada kabar dan bahkan tidak masuk sekolah. Apakah flu nya benar-benarparah?

‘duh seharusnya aku cek suhu badannya waktu itu…’

 

Akhirnya aku mencari alasan agar bisa ke apartment Leo lagi, dengan membawakan catatannya. Ya seperti biasa, wajahnya menyebalkan. Namun aku masih bisa melihat wajahnya yang pucat

“kau sudah makan?”

“belum. Sudah kau pulang sana..”

“aku pinjam dapurmu”

“hee?”

 

15 menit kemudian, masakanku sudah siap. Bubur sederhana dan telur goreng.

“aku sudah membawa buah-buahan dan obat untuk sakitmu” ujarku mengeluarkan isian dari kantung plastik yang aku bawa

“ha?”

“ini makananmu. Kau bisa bangun dan makan?”

“kepalaku pusing”

“apa kau mau aku menyuapimu?”

Leo langsung bangkit dari tempat tidurnya, “mana buburnya”

Harga dirinya tidak mau diturunkan. Dasar. Leo sekali ini.

 

“Leo… jika kau sakit, biarkan orang lain merawatmu. Setidaknya jangan sok kuat dan memasang tinggi harga dirimu. Kau bisa berakhir menyedihkan seperti ini” ujarku tegas dan ia menghentikan makannya, “kau bisa mengandalkanku. Percayalah”

 

Sudah semalaman ia tertidur setelah minum obat. Wajahnya sudah tidak pucat.

Leo tiba-tiba terbangun, “ah maaf, apa aku membangunkanmu Leo?” tanyaku. Namun ia hanya dia dan menatapku, “ada apa?”

“kau… dari kemarin masih disini?”

Aku memegang dahinya, “iya aku masih disini. Panasmu sudah reda”

“kenapa melakukan hal ini? Membantuku sejauh ini?” ucap Leo dengan wajah muram

“ha?”

“biasanya kau selalu mengeluh ini itu. Apa alasan kau melakukan ini?”

Aku diam dan menatapnya, “kenapa kau selalu saja berpikiran buruk? Aku melakukannya ya karena ingin melakukannya. Aku tidak punya niatan sama sekali”

“dasar muka penipu. Gadis serigala”

Leo mengatakannya tanpa basa basi. Langsung saja diucapkan. Iblis dasar.

“ya terserah. Tapi sebagian orang tetap melakukan hal yang tidak mau dia lakukan. Tapi dia harus tetap melakukannya”

“meskipun begitu, aku tetap tidak akan berterima kasih”

JLEB.

“tidak perlu. Sudah. Ini buah, minuman, dan obat sudah ku siapkan. Bubur juga tinggal kau ambil di panci belakang. Aku pulang dulu”

Aku langsung siap-siap membereskan tasku. Kemudian pulang ke rumah. Aku rasa, ia sudah jauh lebih baik. Jadi aku bisa sedikti tenang.

 

*Next Day*

Sudah beberapa hari aku mendatangi apartment Leo sepulang sekolah hanya untuk melihat kondisinya. Ini hari ketiga aku mendatanginya. Semoga dia baik-baik saja…

“LEO”

Teriakku dari ujung saat melihatnya membuka pintu apartment. Aku lari secepat kilat mendatanginya

“jangan teriak-teriak. Ku lempar kau dari lantai 6 ini!” ujar Leo pelan namun dengan tatapan sinis

“kau mau kemana? Masih sakit jangan berulah”

aku mendorongnya masuk rumah. Akhirnya ia sudah duduk di tempat tidur dan aku sudah menyiapkan makan siang untuknya.

“sampai kapan kau akan bolak-balik kesini?” tanya Leo sambil menatap mataku

Aku tersenyum dan menaruh piring, “sampai kau sembuh total dan bisa sekolah lagi”

“aku sudah sembuh, hanya butuh udara segar saja tadi”

“kau dari mana? Membeli sesuatu?”

Ia menggeleng, “tidak. Aku hanya habis duduk lantai. 1 saja”

“oh begitu” aku membalikkan badan dan menyiapkan makanannya.

 

“Terima kasih banyak Nara”

DEG.

“nee?” aku segera membalikkan tubuhku dan menatapnya

“terima kasih”

Aku tersenyum dan tertawa, “hahahaha”

“YAA!! ADA APA?” bentaknya kencang luar biasa dan aku masih tetap tesenyum

“aneh bagiku mendengarkan suara halusmu. Apalagi mengucapkan kalimat sakti seperti itu”

“yaa terserahlah…”

 

Leo kembali tidur dan menyelimuti seluruh tubuhnya dengan selimut hingga kepala. Setelah itu aku meninggalkan Leo dengan bubur, sayuran, buah, obat, dan multivitamin untuknya. Semoga ia cepat sembuh

‘aku khawatir jika harus seperti ini setiap hari’

 

*Next Day* – di sekolah-

‘mau bawa buah apa ya hari ini?’

Gumamku sendiri di loker sepatu. Aku sore ini bingung harus ke Leo atau tidak. Aku merasa tidak enak badan. Badanku lemas.

“Hoi…”

Seseorang menepuk kepalaku…

“LEO?”

Aku kaget Leo sudah masuk, “kau sudah masuk Leo? Sudah sehatkah?”

“ya sudah. Terima kasih” ujarnya sambil sedikit tersenyum. Sangat sangat sedikit.

Aku mengangguk dan tersenyum. Aku pusing, “syukurlah…”

“kau sakit? Apa kau ketularan flu dari ku?” ia mendekatkan wajahnya padaku. Sangat dekat.

Aku spontan menjauh dan menatapnya sinis, “ah tidak tidak. Aku baik-baik saja” aku tertawa miris, “ya sudah kalau begitu. Aku ke kelas. Uhuuk.. uhuuk..”

Aku berlari menuju kelas sambil terbatuk-batuk.

‘selamat Nara. Anemiamu kambuh’

 

AUTHOR

Anemia Nara sudah tidak pernah kambuh lagi sejak ia masuk SMA. Setahunan ini tubuhnya baik-baik saja. Namun semenjak kelas 2 dan ia harus bolak balik mengurus leo yang sedang selama beberapa hari, imunnya terganggu.

“kau tidak apa-apa Nara?” tanya Yura sambil memegang kening Nara

Hyerin menatap Nara aneh, “minum vitamin ini. Aneh melihatmu tidak ceria” kalimat ini diangguki Yura

“terima kasih”

Yura dan Hyerin memang gadis yang sangat aneh dan memang benar bahwa mereka sering berlebihan. Tapi mereka peduli pada Nara

 

Dari kemarin Leo memang sibuk mencatat tugas dan urusan kelasnya. Sudah beebrapa hari ia tidak masuk dan ia tertinggal cukup banyak.

Dari kemarin pula ia tidak menghubungi dari, dan setelah pulang sekolah ini, Leo berencana menjemput Nara di kelas

‘Nara?’

Sesampainya di kelas Nara, ia melihat wajah Nara pucat. Hyerin dan Yura membantunya merapikan barang-barang ke dalam tas.

“Nara… ayo pulang” ujar Leo memasuki kelas Nara.

Gadis-gadis di kelas Nara sangat amat heboh. Bahkan Yura juga ikut heboh karena melihat Leo yang terlihat begitu segar.

Nara bangkit dari kursi dan memakai tasnya. Ia tersenyum dan melambai ke temannya, “terima kasih ya. Sampai jumpa besok”

 

*Selama Perjalanan Pulang*

Leo melihat Nara bukanlah Nara yang seperti biasa. Ia diam dan hanya mendang lurus ke depan. Nara ingin menyapa Leo, namun ia sudah malas sekali membuka mulutnya. Ia harus menyimpan tenaga hingga ke rumah. Ia sudah lelah. Padahal baru berjalan 10 menit

“kau senang ya dua harian ini bebas jadi peliharaanku” ujar Leo datar.

Nara menggangguk tanpa melihat Leo sedikitpun.

“hey puppy, jadi anak baik ya”

Itu kode dari Leo agar Nara mengucapkan ‘GUK’ tiga kali. Nara menghembuskan napas panjang, “guk.. guk.. guk..”

Leo langsung menatap Nara yang benar-benar tanpa ekspresi. Ia bingung, ia merasa salahnya bahwa Nara menjadi sakit dan bersikap seperti mayat begini.

“taksi…” Nara mendadak menyetop taksi yang lewat, “Leo maaf aku harus cepat sampai rumah”

“ya puppy hati-hati”

 

Setelah Nara masuk ke dalam taksi. Perasaan bersalah semakin terngiang di kepala Leo.

‘semoga anak itu tidak mati di taksi’

‘nanti tidak ada yang ku suruh-suruh lagi’

 

NARA

Setelah dua hari aku seperti mayat, kini aku sudah ceria lagi. Yeaaaay!

‘tapi jika di sekolah manusia iblis itu meminta ini itu. Aku benar-benar jadi mayat’

 

“kau sudah sembuh Nara?” tanya Hyerin sambil tertawa

Yura merangkulku, “yeaay.. eh eh kemarin Leo menjemputmu kan. Bagaimana?”

“ha apanya?” tanyaku bingung

“sikapnya padamu bodoh!” ujar mereka berdua bersamaan, dan aku tersenyum

“ya dia khawatir dan juga meminta maaf karena dua hari tidak bisa menjagaku. Dia sangat manis. Ketika aku lelah dia menggendongku. Tapi aku tidak tega, jadi hanya sebentar saja”

“waaaaa~”

“lalu ia membelikanku minuman dan makanan. Dia juga mengajakku ke dokter. Tapi aku bilang aku baik-baik saja”

“kyaaaa!!! Sungguh?”  ujar Yura saat memelukku

Aku tersenyum, “iya benar”

‘BENAR-BENAR BOHONG’

“apa dia mengantarmu sampai rumah?”

JLEB

Aku menatap Hyerin yang sedang menunggu jawabanku, “dia ada urusan. Jadi dia duluan pergi. Ia hanya memastikanku, bahwa aku pulang ke arah yang benar”

‘TERBALIK NARA… TERBALIK

“dia sangat menyayangimu ya Nara” ujar Hyerin saat menepuk kepalaku

“iya.. aku beruntung” senyumku miris sekali ini. Sumpah.

 

BOHONGNYA MULAI LAGI.

MATILAH KAU NARA.

‘ampuuuuun’

 

Kenapa ya dipikiranku selalu terlintas Leo.

Padahal ia selalu menganggapku peliharaannya.

Bahkan setolol ini aku berbuat baik padanya.

 

‘kau menyayangi Leo ya?’

‘kau selalu khawatir dengannya, secara tidak langsung kau memikirkan Leo’

 

Kalimat Raekyung menyadarkanku.

LEO.

Ya aku menyukainya. Sangat menyukainya. Aku harus jujur padanya.

Tidak peduli bagaimana reaksinya, aku harus jujur padanya.

Aku berlari secepat yang aku bisa menuju apartment Leo

 

“kau ini kenapa bodoh? Dikejar setan?” ujar Leo syok saat membuka pintu rumahnya, “napasmu tersengal-sengal? Di kejar preman?

Aku menggeleng cepat.

“mau dibunuh orang?” ujarnya lagi, lalu aku menggeleng dan memperlihatkan raut sinisku, “lalu kenapa puppy?”

PUPPY.

 

“AKU MENYUKAIMU LEO”

Leo menatapku datar setelah pengakuanku.

Apakah ini aneh? Ia masih melipat tangannya.

Aku bahkan tidak berani melihat matanya.

Aku hanya menunduk melihat lipatan tangannya.

 

“kau ini peliharaanku, suka atau tidak, kau memang harus menyukaiku”

JLEB.

“kau ini sedang memikirkan apa sih puppy? Kau bisa berpikir juga?”

JLEB.

 

 “aku ini serius Jung Leo” ujarku saat menatap matanya

“kau tahu, aku tidak pernah peduli pada sekitarku. Terutama gadis-gadis menyebalkan yang selalu mengikutiku”

“…”

“tapi gara-gara kau, aku jadi peduli pada hal-hal terkecil sekalipun. Aku melihat keceriaan bisa ditemukan dimana saja”

“perasaanku kan tidak salah”

“…”

“kau itu menyebalkan, sangat menyebalkan. Aku sempat berpikir untuk menyerah saja. Tapi aku tahu, aku ingin memperjuangkannya. Jadi aku tidak akan menyerah. Aku akan terus mengatakannya sampai kau percaya. Ingatlah itu baik-baik”

Leo terdiam menatapku. Apa ia kaget dengan kalimatku?

“seharusnya kau mengatakan ‘tolong ingatlah itu baik-baik’. Dasar!”

 

Dia terus menatapku dengan tatapan datarnya.

“lagipula kau tidak perlu berusaha keras” ujarnya

“ha?”

“aku tidak sabar melihat apa yang akan terjadi selanjutnya” imbuh Leo

melihatnya gentle mengatakan hal itu. Mungkin aku salah menilainya. Walaupun dia iblis, tapi ia masih punya perasaan

“jadi kau percaya?”

“hmm.. ya”

“lalu kita bagaimana?”

“apanya?” Leo menatap datar

“kalau kau tidak memperjelas keadaan ini. Aku tidak tahu apa yang akan aku lakukan”

 

“aku ingin melihat reaksimu mendengar apa yang akan aku katakan, dan melihat apa yang akan aku lakukan nanti. Aku ingin kau gelisah. Menyenangkan bukan? Hahahaha”

“YAA! JUNG LEO!!”

“hahahaha”

 

MUNGKIN AKU SALAH.

MUNGKIN JUGA TIDAK.

Dasarr iblis. Sekali iblis tetaplah iblis.

Kau memang iblis. Tapi kau iblis cintaku.

Aku menyukaimu. Jung Leo. Sangat.

 TO BE CONTINUE…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s