THE REASON [UNTOLD – PART 10]


It’s been more than year since my last post. hahaha. there was so many incident during editing and thinking about this FF. but now I’ll finish it. step by step. i miss my own character as Nara in every FF i wrote hahaha I’M BACK!!🙂

01

Title     :  THE REASON [UNTOLD – Part 10]

Author :  Anastasia (@anastasianana_)

Genre :  Friendship, Romance, Family

Rating:   AG (All Age) / T

Main Cast     :  Park Chanyeol, Park Nara

Other Cast : Found them by yourself  :)

BACKSOUND: Jessica – That One Person (keep listening this song ^^)

Jika kau berani menyayangi seseorang. Berarti kau berani menanggung rasa sedih.

Jika kau berani mencintai seseorang. Berarti kau berani menanggung rasa sakit.

Kenapa?

Karena mereka sudah satu paket.

Sudah seperti itu.

 

“kau baik-baik saja Nara?” Tanya Chanyeol sambil merapikan kemejanya

Aku tersenyum, kemudian mendekat dan memakaikan dasi padanya. Ia sangat tampan, “aku tidak apa-apa”

“aku tidak usah berangkat saja hari ini…”

“jangan begitu. Siang nanti kan aku juga kuliah. Ada Sehun dan yang lainnya juga”

“maaf ya, libur kuliah aku malah terus bekerja” ujar Chanyeol sedih sambil memelukku erat, dan aku tertawa

“kau bekerja untuk kita bukan?” imbuhku dan ia mengangguk.

 

Tak lama setelah melepas pelukannya, ia langsung bergegas menyalakan mesin motornya dan berangkat kerja. Kantornya cukup dekat. Hanya sekitar 15 menit dari rumah. Jadi sebelum berangkat kuliah, aku bisa mengurus Chanyeol.

Kantor?

Bekerja?

Ya,ini adalah tahun ketiga Chanyeol di Universitas. Dalam satu minggu kuliah, ia hanya mendapat 2,5 hari kuliah, sisanya ia bekerja di perusahaan IT yang cukup terkenal. Menurutnya, ia harus bisa mulai untuk mencari pekerjaan untuk menafkahi kehidupan kami.

Meskipun biaya kuliah dan rumah tangga hampir semua ditanggung keluarga kami, rasanya Chanyeol sedih karena sebagai kepala keluarga tidak memiliki penghasilan. Paling tidak gajinya bisa gunakan untuk kami menabung atau refreshing.

Sudah 3 bulan Chanyeol bekerja. Kantornya memiliki system salary dua minggu sekali. Keren bukan? Aku sangat kaget melihat penghasilannya dua bulan itu. Kami sudah bisa mengatur keuangan. Ya sudah hampir 3 tahun kami menikah, tapi sampai sekarang belum ada perkembangan yang berarti. Terutama mengenai perasaan kami.

Jika salah satu dari kami pulang cepat, maka kami akan saling menghampiri lalu pulang bersama. Kampus pun masih belum tahu bahwa kami sudah menikah. namun Sehun, Kyungsoo, Jongup, dan beberapa teman Chanyeol tahu bahwa kami memiliki hubungan. Tapi mereka tidak bertanya, jadi ya kami tidak menjelaskan apapaun. Hahaha. Dasar Park Nara idiot!!!

 

Seringkali aku merasa kehilangan dan sangat merindukan Chanyeol. Kadang aku berpura-pura untuk baik-bak saja karena aku tidak mau dinilai seperti anak-anak karena merengek pada Chanyeol. Aku juga harus sadar bahwa ia melakukan ini juga untukku. Aku ingin sekali seperti teman-teman yang lain. Double date dan mengajak teman-teman ke rumah.

‘seperti bocah saja!’

Ya memang. Bukankah aku masih sangat muda untuk berpikir menikah. aku dipaksa berpikir lebih dewasa di saat kadar manjaku masih sangat amat terlihat. Aku berusah amenjadi pribadi yang lebih baik dengan caraku sendiri, sampai akhirnya aku bisa bersikap sebagai seorang sahabat, kekasih, adik, kakak, dan sekaligus istri dari Park Chanyeol.

Jika aku mengajak teman-teman ke rumah, maka aku akan mengajak mereka ke rumah orangtuaku. Tentu saja, disana banyak barang-barangku ketika aku masih ‘single’. Keluarga Chanyeol, keluargaku, dan terutama Chanyeol sama sekali tidak keberatan. Bahkan ibunya Chanyeol mengajariku berbohong cantik. Sedangkan ibuku marah-marah karena aku dan chanyeol tidak membeberkan saja mengenai keadaan kami. Menurut Chanyeol suatu saat semua akan terbongkar sendiri. Lagipula memang kami tidak menutupi apa-apa.

 

Namun hanya satu yang orangtua kami setuju dan kompak,

‘Nara harus hamil setelah lulus kuliah. Tidak boleh ditunda lagi apapun yang terjadi’

Mereka sembarangan saja!!!

Suruh saja si tua Bangka, Minho untuk menikah dan langsung memiliki anak!

 

AUTHOR

Nara begitu asyik dengan laptopnya hingga ia tidak menyadari sepasang mata mengawasinya sedari tadi. Sepasang mata yang berharap menatap mata Nara sedekat dulu, melihat tawa dan tangis Nara dalam jarak dekat, Mendengar celoteh Nara, dan membuatnya merasa berarti.

“Aku merindukanmu Pak Nara. Bolehkah?”

Gumam Junhong saat melihat Nara.

“maafkan keegoisanku. Aku tidak bermaksud menyakitimu. Aku menemukan kebahagiaanku setelah sekian lama, dan itu ada padamu Aku hanya takut…”

 

“Junhong!!”

Teriakan Jongwoon membuyarkan lamunan Junhong. Jongwoon menyadari bahwa junhong sedari tadi menatap Nara yang duduk direrumputan tersebut.

“kau tidak mau menyapanya?”

“sudahlah Jongwoon. Ayo pulang”

“kau rindu padanya. Sangat merindukannya”

“maksudmu?”

“kau tahu benar maksudku, idiot!”

 

Junhong menghela napas panjang dan kembali menatap Nara, “sudah beberapa bulan ini ia menghindariku. Ia sudah membenciku. Sudahlah, aku sudah terbiasa dibenci perempuan karena sifatku yang-”

“kau dibenci oleh perempuan yang kau cintai. Itu masalahmu”

Junhong sama sekali tidak menjawab. Ia diam seribubahasa menanggapi hal ini. Jongwoon sudah mengerti bahwa Park Nara adalah perempuan yang sangat berarti untuk Junhong. Keegoisan Junhong membuat Nara menghindari Junhong dan sekarang ia menyesal.

maybe she’s gone for good. For goodness sake

“hmm.. no comment”

 

Junhong dan Nara tidak berkomunikasi selama hampir 7 bulan. Selama semester ganjil tersebut Nara menyibukan dirinya di pelajaran dan Chanyeol.

Junhong mengenal Chanyeol, namun tidak pernah menanyakan pada Chanyeol perihal hubungan apa yang terjadi diantara dia dan Nara. Walaupun Junhong sering kali merasa sedih.

 

‘cause I don’t wanna lose you. Show me how to fight for now’

 

“ah itu Chanyeol?”

Mereka melihat Chanyeol menghampiri Nara, dan Nara terlihat begitu senang. Chanyeol membawakan tas laptop Nara dan mereka berjalan keluar gerbang kampus.

Jongwoon merasa hawa panas sedang menyelimuti Junhong, “kau tidak mau memperjuangkannya?”

“memperjuangkan?”

“ya setidaknya jelaskan padanya kalau masalah yang dulu adalah salah paham” Jongwoon menepuk bahu sahabatnya itu.

“apa ia masih mau menemuiku? Sudah sangat sering ia melihatku, namun berpura-pura tidak melihat. Kau tahu itu bukan?”

“kau tidak akan tahu jika kau tidak mencoba Junhong. Gunakan perasaanmu sekali ini”

 

‘Aku sudah mencoba tersenyum ratusan kali saat berpapasan denganmu. Tapi kau tidak menggubrisku, Nara. Aku harus bagaimana?’

Gumam Junhong yang terus saja menatap Nara. Jongwoon melihat tatapan kesedihan di dalam diri Junhong. Tatapan hampa yang sangat jarang ia lihat selama bersahabat dengan manusia robot ini.

“Jonghong, kau tidak apa-apa?”

Junghong menatap lekat ke arah Chanyeol dan Nara, “apa aku boleh merebut Nara dari Chanyeol?”

“HA?”

“bolehkah seperti itu?”

“maksudmu?” Jongwoon mendekatkan telinganya ke arah Junhong. Ia takut salah pendengaran.

“mereka baru berpacaran bukan? tidak masalah kan jika aku merebut Nara?” imbuh Junhong

Jongwoon setengah tersenyum menaggapi pertanyaan Junhong, “jika kau serius bisa membuat Nara bahagia, lakukan. Jangan kehilangannya”

 

“Aku tidak ingin kehilangan untuk yang kedua kali.

Aku akan buktikan padamu dan merebutmu darinya.

Aku tidak peduli seberapa lama menunggumu.

Aku tidak masalah seberapa besar resiko yang akan kuhadapi nanti.

Karena aku tahu, aku sangat menyayangimu dan akan terus memperjuangkanmu.

Entah bagaimanapun caranya, Park Nara”

 

CHANYEOL

Sudah hampir 3 tahun usia pernikahanku dengan Nara. Lucunya satu kampus tidak ada yang tahu aku dan Nara sudah menikah. Mereka hanya tahu kalau aku sedang dekat dengan Nara.

‘Aku memang sangat dekat dengan Nara. Tapi kami tidak dalam masa pacaran’

Itu adalah kalimat yang selalu aku keluarkan jika banyak yang bertanya masalah ini. Aku memang tidak berpacaran dengan Nara, tapi aku menikahi Nara.

HAHAHAHA

Aku akan tertawa keras sekali. Namun hanya dalam hati tentu saja.

 

Aku harus waspada dengan Kyuhyun hyung. Nara tidak bercerita mengenai kedekatannya dengan Kyuhyun hyung. Mungkin menurutnya biasa saja. Tapi hyung itu menyukai Nara. Aku hanya tidak ingin harus ribut dengan seniorku. Nara pasti juga tidak suka. Kyuhyun hyung memiliki banyak fans. Aku takut jika fansnya melukai Nara. Walaupun Kyuhyun hyung sudah lulus tahun ini. Tidak menutup kemungkinan ia masih sering ke kampus karena berbagai urusan.

“sedang memikirkan apa?” Tanya sahabatku di kampus, Minhyuk.

Aku menatap ke arah lapangan. Terasa jauh, “Nara”

“Nara?”

“ah tidak.. tidak.. hahaha”

Nama Nara keluar begitu saja dari mulutku. Aku merasa sangat merindukannya hari ini. Aku rindu dirangkulnya, dicelotehinya, dicereweti olehnya. Aku ingin memeluknya. Sangat.

“aku pulang ya. Jika bisa tolong absenkan” aku langsung berlari keluar kelas tanpa mendengar kalimat Minhyuk.

Tujuanku berlari adalah menemukan Nara.

Sudah lebih dari 15 menit aku mencari-carinya di tempat yang biasa ia datangi. Namun nihil. Dari ujung lorong, aku melihat sepatu yang tidak asing dimataku. Ku dekati perlahan, dan aku tahu siapa pemilik sepatu itu,

NARA.

Aku tersenyum saat menemukannya, dan ia langsung bangkit dari duduknya saat melihatku, “Chanyeolie”

“Nara…” aku memeluknya erat. Sangat erat.

“ada apa Chanyeol? Kau baik-baik saja?” ia melepaskan pelukanku dan memegang wajahku, aku tersenyum

“aku lelah mencarimu, 20 menit aku mengitari kampus, dan-”

“kenapa tidak telpon aku sih?” ia mengangkat ponselnya dan terlihat bingung.

 

Ah iya kenapa tidak aku telepon saja dia!

Bodoh sekali aku. Namun ku rasa, seperti ini lebih menyenangkan.

Kan akhirnya aku bisa menemukannya berdasarkan instingku.

 

Aku tertawa karena kebodohanku, “tidak apa-apa. Sedang ingin mencoba”

“ha? Mencoba?”

“tidak apa-apa. Kemari”

 

‘mencoba menemukanmu dengan radarku’

 

Aku memeluknya lagi dan ia tertawa dalam pelukanku.

Semoga aku bisa selalu ada disampingmu.

Membuatmu tersenyum, bahagia, dan bisa memberikan semua yang kau inginkan.

Bantu aku Nara… Jangan tinggalkan aku…

 

*Few Days Later*

Kemarin lusa Kyuhyun hyung menemuiku di kantor. Awalnya aku kaget karena selama aku kuliah, ini kali pertama kami mengobrol. Kami sebelumnya hanya tahu wajah dan nama saja, dan tentu saja aku yang lebih mengenal Kyuhyun hyung dengan segala keahlian dan pesonanya di mata wanita. Semoga Nara tidak berpikiran seperti wanita normal lainnya. Istriku itu cukup abnormal untuk berpikir normal.

‘Jika kau tidak serius. Lepaskan Nara. Aku berjanji jika kau melepasnya, aku akan selalu berusaha yang terbaik untuknya’

Kalimat hyung itu membuat dadaku tertusuk rotan lancip. Sakit. Bagaimana mungkin aku tidak serius pada keluarga kecil yang aku dan Nara berusaha bangun selama hampir 3 tahun ini. Walaupun tidak banyak yang tahu tentunya.

“bagaimana mungkin aku melepaskan Nara sedangkan saat ini saja aku masih belum bisa membahagiakan Nara” gumamku sendirian.

Sudah beberapa hari ini aku menetap di kantor sampai jam 8 atau 9 malam.  aku izin pada Nara untuk lembur. Sesungguhnya bukan karena banyak tugas. Namun kedatangan hyung membuatku stress mendadak. Aku bahkan tidak mood untuk kuliah. Aku tahu, aku tidak boleh stress, dan lagipula aku jauh lebih berhak atas Nara dibandingkan keluarga Nara sekalipun. Aku adalah suami Nara yang sah. Ya seperti yang ku katakan, tidak ada yang tahu hal ini. Lalu aku harus bagaimana…

 

“apakah kau benar-benar bahagia bersamaku, Pak Nara?”

“jika aku melepasmu pada Kyuhyun, apa kau bahagia?”

“atau kau lebih memilih kembali bersama Daehyun?”

 

AUTHOR

Junhong menjadi semakin dingin pada wanita. Ia terlihat jauh lebih tertutup dibandingkan sebelumnya.

‘semua karena gadis itu, Pak Nara’

Itulah yang dipikiran Kim Jongwoon. Jongwoon sangat mengenal Junhong, dan mereka bersahabat semenjak SMP. Selain itu, ia juga mengenal Shin Raekyung. Oleh karena itu, Jongwoon mengerti posisi Junhong seperti apa saat ini.

“Raekyung.. aku yakin kau tahu mengenai Junhong dan Nara” ujar Jongwoon sambil terus memainkan ponselnya

Awalnya Raekyung yang memiliki kepribadian ‘urusanmu ya urusanmu, urusanku ya urusanku’ itu hanya diam. Namun ia menghela napas panjang, “Kyuhyun hyung juga menyukai gadis itu. Junhong harus berusaha keras jika ia benar-benar serius pada Nara”

“mworagoo?” Jongwoon kaget sampai-sampai ponsel yang ia pegang hampir terlepas dari genggamannya

“Terlebih lagi Park Chanyeol terlihat sudah berpacaran dengannya, dan terlihat mereka tidak bisa dipisahkan”

“Chanyeol? Pria tinggi dari klub basket itu kan?” ujar Jongwoon dan diangguki oleh Raekyung, “Junhong hanya takut masa lalunya terulang”

Raekyung tersenyum, “aku rasa Nana sudah tenang di alam sana. Aku yakin dia pasti marah pada Junhong karena bersikap seperti ini”

“Raekyung, kenapa kau begitu lembut ya jika diajak bicara baik-baik?” Jongwoon sempat terkesima dengan senyum manis Raekyung. Menurut Jongwoon, Raekyung adalah mahluk wanita yang harus diberi jarak sekian meter, jika ingin aman.

“dari dulu bukankah kau yang jaga jarak denganku? Aku biasa saja jika diajak bicara seperti ini. Namun kau sudah membuat mindsetmu sendiri mengenai aku. Ya terserah dirimu saja”

“itu…”

Aku tidak ingin mengubah diriku agar kau mau bicara padaku. Karena aku adalah aku. Aku yang tidak ingin menjadi orang lain yang bukan aku

Tutur halus dan tanpa nada tinggi Raekyung pada Jongwoon membuat Jongwoon mengerti bahwa Shin Nana yang baik hati, lembut, dan ramah, seperti yang selama ini diceritakan Junhong, memang benar-benar adik dari Shin Raekyung.

Hanya cara pandang orang-orang yang berbeda saat menanggapi sifat dan sikap Raekyung yang super galak. Karena ia hanya melindungi dirinya dari luka.

Mereka terus mengobrol dan tertawa sembari memakan cemilan dan minuman yang ada.

 

Cinta itu seperti salju. Kau hanya bisa melihatnya.

Kau tidak bisa menyentuhnya terlalu erat.

Perlahan-lahan hilang dan mungkin tidak akan bisa terlihat lagi.

Apakah salah jika berusaha menggapai perasaan yang ada?

Apakah salah jika bertahan merasakan perasaan yang ada?

 

Kau bisa berubah menjadi seseorang yang sangat berbeda.

Bahkan menjadi orang lain yang tidak kau kenal.

Kau juga bisa menyesali perubahan yang terjadi

Di lain sisi, kau bisa belajar bahwa sesuatu hal yang menjadikan benteng benar adanya.

Cinta tidak pernah rumit.

Tapi manusianya yang membuatnya serumit itu.

Karena cinta dan bahagia itu hakekatnya adalah sederhana.

TO BE CONTINUE…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s