THE REASON [UNTOLD – PART 9]


part9-1

Title     :  THE REASON [UNTOLD – Part 9]

Author :  Anastasia (@keiichiro_nana)

Genre :  Friendship, Romance, Family

Rating:   AG (All Age) / T

Main Cast     :  Park Chanyeol, Park Nara

Other Cast : Found them by yourself  :)

BACKSOUND: Miracles in December by EXO (keep listening this song ^^)

 

I try to find you, who I can’t see,

I try to hear you, who I can’t hear.

Then I started to see things I couldn’t see, hear things I couldn’t hear.

Because after you left, I received a power I didn’t have before.

“MWORAGOO?”

Teriak Nara cukup kencang, dan Chanyeol hanya bisa diam mendengar istrinya teriak seperti itu. Tidak mungkin ia tidak marah jika rencana natal mereka besar kemungkinan akan batal. Rencana yang sangat di tunggu oleh Nara, menghabiskan malam natal bersama Chanyeol. Seperti tahun-tahun sebelumnya.

“kenapa mendadak Chanyeol?” imbuhnya dengan perasaan kesal

“Mianhae. Itu bukan aku yang mau. Tapi jurusanku juga tiba-tiba memilihku untuk jadi salah satu relawan di gereja itu” ujar Chanyeol menyesal. Sekarang giliran Nara yang diam. sebenarnya ia kesal, sangat kesal. tapi ini acara amal di gereja, tidak mungkin ia melarang dan marah pada Chanyeol untuk acara baik seperti ini

Chanyeol mendekat ke arah Nara yang diam tanpa sepatah katapun, “Jika kau tidak boleh aku ikut, aku akan mengundurkan diri dan-”

“ANDWAEYO” teriak Nara memotong ucapan Chanyeol. Nara menyesal berteriak dan bersikap egois pada suaminya. Walaupun kesal, sedih, dan sebangsanya, Nara akan tetap mengizinkan Chanyeol pergi, “kau pergilah. Aku tidak apa-apa”

“Nee?”

“Itu acara yang sangat baik, Chanyeol. Baik untukmu dan mereka juga. Ah dan baik  untukku, karena memiliki suami yang berjiwa sosial sepertimu” ujar Nara, dan Chanyeol menatap Nara dengan tatapan ‘kau yakin?’ seperti biasanya, “Ya. aku yakin. Selama kegiatan itu positif”

“tapi-”

“Dua hari bukan masalah. Dulu kau pernah meninggalkanku sendirian di rumah ketika kau berkemah, haha”

“itu salahmu tidak bilang kalau kau tidak pergi kemana-mana. dasar bodoh”

“…”

“ah mianhae. Aku tidak mau meninggalkanmu sendirian seperti-”

“aku tidak apa-apa. pergilah Chanyeol”

“kau yakin?”

“yakin. Ayo kemasi pakaianmu dan bawa perlengkapan yang diperlukan” ujar Nara ke arah kamar Chanyeol. Namun Chanyeol tetap diam melihat Nara, “hey kau harus kumpul di kampus jam 12 siang bukan? ayo cepat! Ini sudah jam 9 pagi, bereskan semuanya”

‘Terima kasih Park Nara. kau adalah segalanya bagiku. Terima kasih sudah mau mengerti’ gumam Chanyeol saat manatap Nara

 

“Aish jinjja! Park Chanyeol!” teriak Nara

Chanyeol berjalan ke arah kamarnya dan tersenyum, “nee, arasseo”

 

Nara mengantar Chanyeol sampai pintu depan. Chanyeol merasa sangat berat meninggalkan Nara sendiri, sedangkan Nara harus terus berusaha tersenyum agar Chanyeol tidak mengubah keputusannya. Acara ini acara yang baik, jadi Nara tidak ingin Chanyeol melewatkannya

“ah salju!” seru Nara. seketika Nara sedih, karena nanti malam tidak ada Chanyeol di sampingnya. Tapi ia langsung mengubah sedih itu menjadi senyuman manisnya, “sudah bawa jaket? Topi? Sarung tangan? Penghangat?” imbuhnya dan Chanyeol mengangguk

“aku berangkat” ujar Chanyeol dan Nara mengangguk, “hati-hati di rumah. jika takut, pergilah ke Daehyun atau pulang ke-”

“aku bukan anak kecil lagi Chanyeol. Aku tidak apa-apa” ujar Nara menenangkan Chanyeol

“arasseo.. aku pergi”

Chanyeol memakai tasnya dan segera berjalan ke arah halte bus yang menuju ke kampusnya. Sesekali ia berbalik dan melihat Nara yang masih tersenyum melihatnya pergi. Hingga Chanyeol tidak bisa melihat Nara lagi. Nara masuk ke dalam rumah dan merasa sepi tanpa Chanyeol

“nanti malam natal” ujar Nara pada cermin dihadapannya dan tertawa, “padahal sebentar lagi adonan coklatnya tinggal di keluarkan”

Nara mengambil coklat yang ia buat kemarin di lemari es, “ya sudahlah”

 

***

 “kenapa harus buat coklat sih!” gerutu Nara di bangku taman, “harusnya tadi ku berikan padanya”

Malam natal ini seharusnya bisa ia habiskan bersama Chanyeol. Tapi apa boleh buat, acara amal jauh lebih penting dari pada keegoisan semata.

 

“eh?”

Seseorang memakaikan topi kupluk di kepala Nara dan ia kaget. Ia mendongak dan tersenyum melihat seseorang itu, “Oppa!”

Sunbae Skateboard.

“sedang apa disini?” tanya oppa ini dingin. Menurut Nara, ucapannya jauh lebih dingin dari pada salju yang berjatuhan hari ini. oke.

“sedang duduk” jawabnya singkat. Sunbae itu melihat hal yang aneh pada Nara. sedih, “kau menangis?”

“aniyaa” gerutu Nara. ia tidak menangis, tapi sedih. ia rindu Chanyeol. Sunbae itu hanya duduk diam menemani Nara yang tanpa suara, “oppa kau mau coklat?”

“coklat?” Ujar sunbae itu sedikit antusias. Nara pun ikut antusias. Namun- “tidak! Aku tidak suka coklat”

“…”

Rasanya Nara ingin lompat! Hey! Ini lantai dasar, mau lompat kemana lagi? Neraka? Perut bumi? Tidak mungkin. Mereka hanya diam tanpa kata, saling menunggu, dan menemani

“oppa…”

“jangan tanya nama!”

“…”

Sunbae itu mendadak berdiri dan Nara langsung mendongakkan kepalanya. Ia mengulurkan tangannya pada Nara dan tersenyum, “kajja”

“eoddiga?”

Sunbae itu terus menggandeng Nara melewati puluhan orang yang lalu lalang. Menggenggam erat tangan Nara dan ia merasa hangat

Setelah cukup lama berjalan, sampai di kedai kecil. Banyak makanan ringan dan-

“RAMYEON!” seru Nara saat melihat menu. Ia suka sekali ramyeon saat cuaca dingin, “oppa aku mau”

“kau mau?” tanya sunbae ini dan Nara mengangguk

“eommo-nim, kami pesan ramyeon special, tteokpokki, dan cola, untuk 2 porsi ya” ujar sunbae itu pada pemilik kedai tersebut dan Nara tersenyum. Cuaca yang semakin dingin membuat kedai ini semakin ramai. Namun sunbae itu tidak pernah melepas genggaman tangan Nara sedikitpun.

‘kenapa kau tidak pernah bisa ku tebak? Kau jauh lebih sulit ku tebak dari pada Chanyeol’ ujar Nara dalam hati seraya tersenyum pada sunbae itu, yang notabene hanya menatapnya datar

“silahkan pesanannya” ujar pemilik kedai

“terima kasih” ujar Nara, “oppa…” Nara menatapp sunbae itu

“apa?”

“tanganku jika kau genggam terus, bagaimana makannya?” ujar Nara dan sunbae itu kaget, lalu melepas genggamannya

“maaf”

“ayo makan” ujar Nara dan sunbae itu tersenyum. Mereka makan bersama

Tidak pernah terlintas di pikiran Nara bahwa ia bisa duduk, makan malam, tersenyum, tertawa dan bersama sunbae aneh ini. di malam natal. Catat, di malam natal. Tanpa Chanyeol.

 

*3 HOURS LATER*

“kau masih muram?” tanya sunbae itu dan Nara semakin kesal, “ada apa?”

“namamu siapa?” tanya Nara tegas. Ia sangat kesal pada sunbae ini! ia merasa tidak sopan jika terus memanggilnya ‘oppa’ setiap kali bertemu

Raut wajah sunbae itu pun seketika berubah, “kau bisa pulang sendiri?”

“nee?”

“aku pulang dulu-”

“jangan pernah pergi ketika aku sedang menanyakan namamu!!”

“kenapa membentakku?”

“aniya…geunyang…”

“wae?”

“aku hanya ingin tahu namamu oppa! Kau tidak boleh pergi!!”

“apa hak mu?”

“…”

“apa hak mu untuk menahanku pergi”

“itu-”

“aku punya hak untuk tidak menjawab dan memintamu enyah dari hadapanku!!”

“…”

“PERGI”

“oppa…”

“KAU… PERGI… DARI… HADAPANKU! SEKARANG!” ujar sunbae itu tegas, tanpa berteriak

Nara diam dan kemudian meneteskan air matanya. Ia melepas topi yang tadi sunbae itu berikan dengan wajah sangat sedih, “arasseo. mianhae. Ini topimu. kkanda”

 

NARA

‘kau… pergi… dari… hadapanku! Sekarang’

“aduh hatiku sakit”

Kalimat itu terus berputar dipikiranku. Pulang ke rumah, jalan kaki, sendiri, lapar, kedinginan, dan kesepian. Hmm, aku lapar? Iya lapar. Dingin membuatku cepat lapar. HEY! Jangan terlalu banyak bertanya, aku sedang stress! Tolong mengerti

Air mataku terus jatuh. Hatiku sakit diperlakukan seperti itu. aku tahu aku bukan siapa-siapa di matanya. aku hanya ingin berteman dengannya. Itu saja. jangan tanya mengapa aku bersikukuh disampingnya, karena aku juga tidak tahu!

*bruuk*

Aku menubruk tiang listrik dan, “aduh mimisan” aku cepat-cepat mengambil tissue di tas dan menyeka darah yang terus keluar dari hidungku. Aku cepat-cepat duduk di bangku dan terus menyeka hidungku.

‘kau… pergi… dari… hadapanku! Sekarang’

Kenapa kalimat itu terus berputak-putar ya? Apa ia benar-benar tidak suka aku ada disampingnya? Apa ia benci padaku sehingga ia tidak mau katakan namanya padaku? Aku hanya ingin memanngilnya dengan sebutan lebih baik.

“mungkin memang aku harus pergi dari kehidupannya. Maafkan aku”

Aku terus menangis dan menangis. Hey ini malam natal, namun mengapa harus seperti ini? Chanyeol, kau seharusnya tidak pergi, jadi aku tidak perlu bertemu dengannya.

Hatiku sakit Chanyeol… Kau dimana Chanyeol?

 

***

Beberapa hari setelah kejadian itu, aku putuskan untuk benar-benar menghindari sunbae itu. aku pergi bukan karena aku menyerah, karena aku tahu aku sudah terlalu diam dan ia tidak suka aku diam. Jadi aku memang harus bergerak.

Sehun yang sedari tadi menatapku aneh pun mendekatiku, “kau sakit?”

“…”

“Nara?”

“Sehuna, boleh aku memelukmu?” pintaku lalu Sehun tertawa

“waeyo uri dongsaeng?”

“apeuda.. neomu apeuda…” aku menangis dan Sehun kaget, kemudian ia menarikku ke dalam pelukannya

“tidak apa-apa. semua akan baik-baik saja” ia menepuk kepalaku dan terus meyakinkanku bahwa semua akan baik-baik saja

“nee”

Apanya yang baik-baik saja? sunbae itu membentakku dan jujur ini sangat sakit. ini batasku. Aku takut sudah tidak bisa bertahan akan sifatnya yang kasar itu. aku tahu itu bukan maksudnya,tapi rasanya sakit.

 

*beepbeepbeep*

‘Nara, bogoshipda’

Pesan singkat dari Chanyeol sukses membuatku menangis, “nado, bogoshipda, Chanyeol”

 

*****

Sejak saat itu dan beberapa hari kemudian, aku memilih untuk pergi. Harus pergi kan?

‘OPPA…’

gumamku saat melihatnya beberapa meter dihadapanku, ia melihatku tapi aku terus berjalan melewatinya tanpa melihat apalagi tersenyum dan menegurnya.

ABAIKAN NARA, ABAIKAN.

Seperti ada yang mengganjal, aku sangat tidak nyaman. Kenapa harus seperti ini? Tapi ia yang memintaku untu pergi, jadi mau tidak mau yang aku memang harus pergi. Aku bukan siapa-siapanya. Bahkan hingga selama ini aku sering bersamanya, aku tidak yakin kami berteman. HEY JANGAN MENGASIHANIKU BEGITU!! stop tatapan yang seperti itu!

Sehun menatapku dan sunbae itu bergantian. Aku hanya diam, dan sepertinya dia mengerti bahwa sunbae itu yang membuatku sedih. Ia bertanya dan aku memilih diam dan tidak bicara apapun. Akhirnya Sehun memilih diam dan berpura-pura bahwa aku baik-baik saja dan tidak pernah terjadi hal aneh dan sebagainya.

 

‘oppa… nareul itjimayo, jaebal’

 

JUNHONG

Sunbae Aneh, Sunbae Skateboard, Babo Sunbae, Skateboard Oppa, dan nama aneh lainnya. Nara memanggilku dengan sebutan itu. aku sudah sangat terbiasa mendengarnya. Jadi ketika ada berteriak salah satu dari nama itu, aku tahu itu adalah Park Nara. Kemungkinan besar.

Sudah sekitar tiga minggu aku tidak melihat gadis bodoh itu lagi. Mungkin sebenarnya bukan tidak melihat, tapi ia selalu dan selalu berpura-pura tidak melihatku. Ia melihatku dengan jelas saat aku menatapnya. Bahkan saat berpapasan pun ia memilih diam dan  berusaha tidak melihat, apalagi menyapa atau berteriak atau mendekatiku seperti biasanya. Ia hanya diam. Beruntung jika ia tersenyum. Tapi ia lebih sering tidak menganggapku tidak ada. Aku tidak tahu, tapi hatiku sangat sakit.

Aku tahu kalimatku saat malam natal itu terlampau kasar, sangat kasar bahkan. Aku tidak menyangka ia akan benar-benar menangis. Aku berpikir ia hanya akan marah-marah atau menggerutu seperti biasa. Padahal sebelumnya kami sempat bersenang-senang dan aku mengakui memang sebenarnya sangat menyenangkan apabila berada di sekitarnya. Seperti memiliki semangat yang tidak pernah ku miliki sebelumnya. Aku memang keterlaluan.

Aku tidak mau mengatakan namaku karena memang namaku tidak penting. Apakah itu salah? Aku hanya mau bersamanya tanpa harus tahu hal yang seperti itu. Entah sejak kapan aku mulai menganggapnya seseorang yang biasa di sekitarku. Aku juga mulai terbiasa dengannya. Bahkan aku akan merasa aneh jika dua sampai tiga hari tidak melihatnya. Karena jadwal kuliah kami selalu saja sama, maka sering bertemu

Ia bisa membuatku tertawa, tersenyum, dan kesal dengan caranya sendiri. Ia selalu saja memintaku mengajarkannya banyak hal. Bahkan aku merasa sudah rutinitas. Sekarang aku sangat aneh dan kesepian tanpa dia di sampingku. Aneh.

 

“Junhong”

“nee noona?” tegur Raekyung noona

“kau sepertinya dekat dengan Park Nara” ujar noona saat melihat Nara dengan teman-temannya. Tahu dari mana ia tentang Nara?? ah masa bodoh. Peduli apa tentang noona ini,

“hey jika aku bicara, jangan pernah berpikiran ‘masa bodoh’ lho!” imbuh noona

*GASP*

Aku hanya diam mendengarnya bicara demikian. Walaupun dia sangat menyebalkan dan terkesan angkuh, aku sangat menyayanginya. Aku menganggapnya noona-ku sendiri.

“hey Junhong”

“apa?” gerutuku

“kau tahu lelaki yang memakai baju biru disamping Nara?” imbuhnya sambil menunjuk ke arah Nara, “namanya Sehun. Mereka dikenal sebagai couple di kalangan mahasiswa ekonomics”

“lalu?”

“woaah, kau sepertinya tahu ya?” ujarnya mendelik seperti detective. Ini hal yang Kyuhyun hyeong paling sebal. Jika bertanya ia sangat kritis!

“biasa saja”

“aniya! kau tidak pernah mengurusi hidup orang lain selain urusan dan hidupmu. Mengingat nama gadis pun menurutmu tidak penting”

“aku selalu ingat namamu noona”

“YAA!! KAU MAU MATI TIDAK MENGINGATKU?” teriaknya. Aku sudah sangat biasa mendengarnya berteriak, bahkan akan sangat aneh jika ia pendiam

“aku tahu! jangan berisik noona”

“kau ini. sampai kapan kau seperti ini?”

“aku memang seperti ini, dan aku tidak mau berubah menjadi seseorang yang bukan diriku-”

“ini bukan kau! Kau seperti ini karena ketakutanmu!! Bodoh!”

“stop noona-”

“kau yang seharusnya berhenti bersikap seperti ini!”

“…”

“aku bersikap seperti ini agar kau mengerti”

“haha sudahlah, aku pulang saja ya”

“Junhong-”

“aku tidak apa-apa. maaf berkata kasar padamu noona”

“…”

“aku pulang ya”

“tidak ikut kuliah?”

“sedang malas noona haha, bye”

“YAA!! CHOI JUNHONG~”

 

‘nobody can change a person, but a person can be the reason for a person to change’

 

Raekyung noona memang benar, aku sebenarnya bukan tipe yang suka mencampuri hidup orang lain. Namun sejak aku merasa keganjilan tanpa Nara, aku mulai berani untuk mencari tahu apapun mengenai Nara. Entahlah jangan tanyakan mengapa, aku hanya merasa ada hal yang ganjil. Aku ingin dia seperti biasa, ada di sampingku.

The selfish me, who always knew only myself

The heartless me, who didn’t even know your heart

Even I can’t believe that I changed like this

Your smile keeps moving me

I wish I could stop the time and go back to you.

 

*Few Days Later*

“Zelo!” teriak sahabatku Jongwoon, “mana ekormu?”

“ha? siapa?”

“Nara, siapa lagi haha”

“entahlah” ujarku malas, tapi si ‘Flower Boy’ tidak berhenti bertanya

“sudah lama aku tidak melihatnya. kalian bertengkar?”

“…”

“kau harus berterima kasih padanya”

“kenapa?”

“kau tidak sadar perubahan baikmu?”

“…”

“haha aku tidak mau banyak bicara, hanya mengingatkan sahabatku untuk berpikir lebih” ujarnya. Ya ia memang tidak pernah menasehatiku dengan penekanan. Ia mengerti bagaimana bicara denganku.

“…”

Aku terkadang tidak mengerti mengapa aku dan Jongwoon bisa bersahabat. Sifat kami sangat bertolak belakang. Ia sangat lembut, sopan, dan memiliki kualitas sebagai pria. Sedangkan aku? Ya seperti inilah aku. Aku hanya tidak mengerti mengapa Jongwoon mendadak membicarakan Nara.

“tidak mau masuk kuliah?” tegurnya lagi sambil tertawa, dan aku pun tertawa

“haha ayo”

 

 “itu Nara?” ujar Jongwoon sambil tertuju ke arah utara

“nee?”

“dengan siapa?” imbuhnya, lalu ku fokuskan mataku ke arah yang di tuju Jongwoon.

Benar, itu memang Nara. tapi itu siapa? Aku tidak pernah melihatnya di kampus? Apakah itu oppanya? Apa mungkin ia kekasihnya? Mereka terlihat sangat akrab. Ah tidak ini lebih dari seorang teman. Gesture mereka!

“aku tidak tahu. itu bukan urusanku” ujarku bohong. Aku langsung pergi menjauhi Jongwoon, lalu ia menyusulku dan menatapku dengan tatapan ‘jangan mulai’

“hey itu memang bukan urusanku. Aku dan dia tidak ada hubungan apapun. Aku juga tidak peduli” imbuhku, lalu Jongwoon menepuk kepalaku kencang

“ia membuatmu memiliki perasaan! Jadi pikirkan itu!” teriaknya, dan aku hanya diam, “aku tahu kau menyukainya. Lebih dari itu mungkin. Jadi berhenti berbohong pada dirimu sendiri!” imbuhnya dan aku kesal dengan ucapannya

“stop menveramahiku!” ujarku tegas pada Jongwoon dan ia menatapku datar

“kalau begitu, kau stop menyalahkan dirimu atas semua yang terjadi dulu! Pakai otakmu! Dulu mungkin kau tak punya akal sehat, sekarang punya kan? PAKAI!”

“…”

“kau diam? kau diam? sekarang jelaskan padaku!! Ini mengapa Raekyung noona selalu mengultimatum mu keras”

“…”

“KAU MENYUKAINYA!”

“Kim Jongwoon!”

“CHOI JUNHONG!!” teriaknya tak kalah keras. lalu ia mengendurkan urat nadinya dan menatapku tenang, “Aku mohon. Sampai kapan kau mau seperti ini?”

“sampai-”

“sampai kau kehilangan Nara tanpa sedikitpun jujur ataupun berjuang?”

“mworagoo?”

“kau tidak mau memperjuangkannya? Itu yang kau mau?”

“…”

“BAIK LAKUKAN SESUKAMU! Aku tidak mood kuliah. Aku pulang”

Jongwoon langsung pergi meninggalkanku. Boleh jujur? SAKIT! aku tidak pernah ribut seperti dengannya.  Seharusnya aku mengerti, ia seperti ini karena ia sangat peduli padaku. Namun aku belum bisa memperjuangkan Nara.

Aku takut! aku hanya takut, aku kalah sebelum berjuang. Aku merasa sudah kalah, bahkan mungkin sebelum bertemu dengannya. Kalimat itu terus saja membelengguku! Aku tahu, sesuatu hal pasti mengandung resiko. Aku hanya tidak tahu, resiko apa yang akan aku terima. Aku takut dan mungkin memilih untuk tidak berjuang

‘jika aku memperjuangkanmu, maukah kau bertahan bersamaku, Park Nara?’

7 responses

  1. Oh sunbae skateboard itu zelo….

    Hmm, zelo, kyuhyun, raekyung. Mereka bertiga punya hubungan apa? Kok raekyung kayak kenal banget zelo..masa iya sepupu juga?

    Si bodoh nara banyak banget yang suka-_- dan semua cowok ngerasa nyaman banget di deket dia.
    Gak ada gitu ya yang gak suka sama dia?

    Ceritanya menarik, apalagi kalo dibikin agak lebih panjang lagi hehehe

    and thanks for include kjw in this story hehe

  2. kyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa ini ffnya kerennnnnnnnnnnnnnnnnnn……… enak banget jadi nara disukain cowo2 gantengggg >_<
    huaaaa chingu next partnya jgn lama2 eapzzz

  3. Eonni,kpn next chapt nya??? Ini udh tahun 2014 lho bulan mei lagi..kekeke
    Next chapter secepatnya ya….hwaiting!!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s