THE REASON [UNTOLD – PART 8]


01

Title     :  THE REASON [UNTOLD – Part 8]

Author :  Anastasia (@keiichiro_nana)

Genre :  Friendship, Romance, Family

Rating:   AG (All Age) / T

Main Cast     :  Park Chanyeol, Park Nara, Cho Kyuhyun

Other Cast : Found them by yourself  :)

 

jika kau mau mempertahannya, kau coba bimbing dia agar lebih baik lagi. Ada alasan mengapa ia berbuat demikian. Ia setia padamu, kau bisa pegang perkataanku ini. kalian hidup untuk dipertemukan, bersikaplah dewasa dan cobalah untuk menetralkan hatimu. Jangan sampai semua berantakan’

Kalimat itu terus membelengguku akhir-akhir ini. Memang seharusnya ada yang mengalah di antara kami. Tapi mengapa harus selalu aku? aku hanya takut Chanyeol merasa lelah akan sifatku yang manja dan mungkin menyebalkan. Aku tahu aku menyebalkan tapi-

*bruuuuk*

“aduh pinggangku” gerutuku ketika terjatuh

Seseorang mengulurkan tangannya padaku. Aku mendongak dan melihat siapa orang yang membuatku terjatuh. Astaga, “KAU?” ujarnya datar. Lebih tepatnya membentakku.

“bukan KAU! Tapi NARA. aku punya nama, dan namaku Park Nara” gerutuku. Aku berdiri tanpa bantuan tangannya. Ia menatapku sedikit sinis. Dia selalu sinis padaku, tidak masalah, sudah biasa

“terserah” ujarnya datar, “aku minta maaf”

“kenapa kau selalu menubrukku? Aku kurang besarkah hingga tidak terlihat?”

“kau tidak sebesar itu untuk bicara demikian” jawabnya datar. Sedatar tembok di kantin kampus

“kenapa kau menatapku begitu?” tanyaku ketus dan ia memandangku aneh, lagi.

“…”

“YAA!! oppa!” teriakku dan ia tambah menatapku sinis. Lalu ia pergi meninggalkanku begitu saja. ia terkadang begitu ramah dan peduli. Namun ia juga bisa sangat amat dingin, sama seperti saat ini yang begitu saja mengabaikanku. Kalah es batu ibu kantin

“oppa!! aku kemarin pulang dengan seseorang!” ujarku asal, lalu ia berhenti. Ia berbalik dan menatapku. Aku pun menatapnya sinis, kemudian ia kembali mendatangiku. Mati kau Nara! “ada apa lagi?”

“kau punya telinga tapi tidak digunakan dengan baik gadis bodoh?”

“punya! Dan orang di hadapanku ini punya mulut tapi tidak digunakan dengan baik juga, sunbae aneh!” aku pergi meninggalkannya, dan ia menarik tanganku

“kau pulang dengan siapa!!” teriaknya keras.

“ish sakit!!” aku mencoba melepaskan genggamannya. Ia menatapku sangat tajam, dan aku takut. aku pasti salah bicara. Aku begini karena sikapnya selalu aneh. ia perhatian tapi selalu membuatku sedih dan sakit hati dengan ucapan kasarnya, “oppa lepaskan! Sakit!”

“janji padaku kau tidak boleh pulang dengan orang asing!” ujarnya lagi, dan aku semakin bingung dengannya, “dengar?!”

“kenapa aku harus janji padamu?”

“…”

“ini kan hidupku, aku bisa mengurusnya dengan baik”

“jangan berisik!! Sudah ikuti saja kata-kataku. Mengerti!!”

“…”

“jika tidak ada yang menjemput atau mengantarmu pulang. cari aku! aku selalu ada di fakultas musik”

“…”

“DENGAR TIDAK?!”

“aku dengaar! Jangan berteriak!”

“jawab kalau memang dengar! Jangan hanya diam!”

“iya iya! lepaskan tanganku. sakit!” aku melepas paksa genggamannya. Aduh sakit. lenganku memerah karena genggamannya begitu kuat, “lagi pula aku berbohong”

Ia mengangkat alisnya dan lebih mendekat padaku, “berbohong?”

“aku tidak pulang dengan sunbae yang tidak aku kenal. Aku hanya pulang dengan teman-temanku menggunakan bis” ujarku datar, aku tidak berani melihat matanya. sudah pasti matanya membesar dan itu membuatku takut

Aku bisa mendengar ia menghembuskan napas yang panjang, “kenapa berbohong?”

“…”

“pergelanganmu tidak apa-apa?” ia memegang tanganku, kali ini lembut, “ku antar ke rumah sakit”

“tidak usah” aku segera menarik lenganku, “aku tidak apa-apa. tadi hanya kaget” ujarku bohong. Padahal sebenarnya lumayan sakit

“kau yakin? Mau ku antar hingga ke kelas?”

“tidak usah oppa. Aku bisa sendiri”

“yakin?”

“nee”

“ya sudahlah” ia menepuk kepalaku. Akhirnya ku beranikan menatapnya. IA TERSENYUM! WOHOOO~ aku sampai kaget dan ikut tersenyum, “kenapa kau tersenyum?” tanyanya ramah

“karena kau tersenyum”

Ia tertawa dan menepuk kepalaku pelan, “jika aku tidak tersenyum, kau tidak akan tersenyum?”

“tidak juga. Selama ini aku selalu tersenyum tapi kau selalu menyeramkan, oleh karena itu aku takut tersenyum”

“ya sudah Nara, kau kuliah lah sana” ia berjalan berlawanan arah denganku

“kau tidak kuliah?” teriakku, lalu ia berhenti dan berbalik

Ia tersenyum, “aku sedang ada urusan, izin kuliah dulu. Sudah ya”

 

“oppa!!” teriakku dan ia berbalik lagi, “hati-hati”

“nee”

Ah iya namanya!! “oppa?!”

“ada apa?” ia berbalik lagi dan lagi.

“ireumun mwoaeyo?”

“nee?”

“ireumun mwoayeo?” aku berteriak lebih keras lagi

 

Ia menatapku. terus menatapku. Tidak ada tatapan sinis atau datar. Aku tersenyum, menunggu jawabannya. Akhirnya ia tersenyum padaku, “Cho Kyuhyun” ujarnya, dan ia bergegas berjalan meninggalkan kampus

 

“CHO KYUHYUN”

 

***

“Kyuhyun?” ujar Sehun sambil melipat tangannya “kalau tidak salah dia dari fakultas-”

“musik” imbuh Kyungsoo dengan mata bulatnya

“ah pasti kau mengenalnya ya Kyungoo?” tanya Jongup dan kami terus mendekat agar bisa mendengar Kyungsoo berbicara. Ia sangat lembut dan ramah. Tapi terkadang sangat meyebalkan

“…”

Kyungoo malah terdiam, dan Sehun menatapnya khawatir, “kau ada masalah dengannya?”

“nee?”

“kenapa raut wajahmu begitu?” imbuh Jongup dan aku terus menunggu jawaban Kyungsoo

“aku tidak mengenalnya bagaimana bisa punya masalah?” jelasnya datar dan mata kami tampak seperti ini (O~O) karena kesal

 

“Nara…” ujar Sehun, “sunbae itu-”

“ah sunbae skateboard” gumamku

“aku pernah melihatmu berbicara denganmu dan ia sepertinya sangat galak” imbuh Kyungsoo dan aku hanya tersenyum

“jeongmalyo??” imbuh Kyungsoo. Lagi-lagi bertanya dengan tatapan datar!

“aku duluan ya” aku langsung berlari ke arah sunbae itu

 

“oppa!!” teriakku dan sunbae itu berhenti

Ia menatapku aneh, seperti biasa, “ada apa?”

“aku Nara, masih ingat?”

“mengingatmu bukan hal yang wajib. Biasa saja” ujarnya datar lalu berjalan lagi. Aku berjalan cepat dan menyamakan langkahku

“oppa”

“hmm…”

“kalau tidak keberatan-”

“sangat keberatan”

“memang aku mau apa?” gerutuku padanya dan ia berhenti, lalu menatapku sinis

“kau ingin tanya namaku kan?” tebaknya. TEPAT. Aku tersenyum dan mengangguk, “lebih baik kau pulang sana”

Ia mengusirku kasar dan aku tetap menyamakan langkahku dengannya, “PERGI!!” bentaknya luar biasa keras, aku sampai kaget

“SHIREO!!”teriakku tak kalah keras, dan orang sekitar melihat kami. Oppa ini pun menatapku datar, “Aku kan hanya mau namamu. Tidak enak terus memanggilmu sunbae atau oppa-”

“kalau begitu tidak usah memanggilku”

“tapi-”

“aku duluan”

 

Ya…selalu seperti itu, selalu meninggalkanku. Entahlah.

“menyebalkan!”

Tapi meskipun ia selalu meningalkanku, ia selalu pamit padaku dengan mengatakan ‘aku duluan’ atau ‘aku pulang’. aneh.

 

*Few Days Later*

Astaga kenapa Jungsoo ssaem tidak mengabari salah satu di kelas jika tidak masuk! tahu seperti ini aku tidur atau memasak saja di rumah. mungkin aku mau mampir ke supermarket dulu, belanja bahan masakan. Lagi pula cemilan Chanyeol juga sudah hampir habis. Kerja rodi membawa barang berat! Great! Babo Nara!

 

“hey gadis bodoh” teriak seseorang, dan entahlah aku langsung menengok ke arah suara itu. aku hanya merasa yang memanggilku bodoh hanya sunbae aneh itu. Kyuhyun.

benar saja! ia yang memanggilku, “ada apa?” jawabku ketus

“haha kau kenapa?”

“aniya, gwaenchana”

“minumlah” ujarnya sesaat setelah Ia melemparkan sekaleng minuman soda ke arahku. Untung aku sigap menangkapnya. Aku sering seperti, waktu SMA dulu bersama Daehyun. ah aku rindu bocah berisik itu.

“gomawo oppa”

Aku kemudian duduk dan bersandar dibangku disampingnya. Rasanya lelah sekali. Hey, aku baru dua bulan kuliah namun ada saja yang aneh. Mulai dari sunbae skateboard itu dan sunbae bodoh ini. Belum lagi jika para sunbae menanyakan hubunganku dengan Sehun, atau nilai-nilaiku yang belum mencapai target Chanyeol. I wanna kick myelf!

“sedang ada masalah” tanyanya sambil menepuk kepalaku. Aku menatapnya sinis. Aku hanya tidak mengerti dengan Kyuhyun oppa, ia selalu ada tepat di saat aku sedang stress. Astaga aku butuh Chanyeol sekarang

“tidak apa-apa” ujarku sambil tersenyum, “oppa boleh aku bertanya?”

“silahkan” ujarnya setelah menyeruput minumannya

“Raekyung eonni-”

“kau di apakan si bodoh itu?” ujarnya dengan nada cukup tinggi dan membuatku kaget

“tidak di apa-apakan”

“lalu bagaimana kau mengetahuinya? Ia-”

“ingat ketika kau mengantarku pulang? nah ia melihatmu memboncengku, dan keesokan harinya kami bertemu. Kami mengobrol”

“mengobrol? Raekyung? Mana mungkin” matanya menatapku tajam. Seram.

“haha serius. Ia bilang kau adalah oppa-nya”

“kami sepupu, margaku Cho dan ia Shin haha”

Aku mengangguk paham, “oh haha begitu ya”

“ada apa?”

“aniya”

“ada lagi?” ujar Kyuhyun oppa. Ia tersenyum! Ah killer sekali senyumnya

 

“oppa aku pulang yaa”

“lho tidak masuk?”

“dosenku tidak masuk, jadi aku pulang”

“pulang sendiri?”

“bukankah aku biasanya sendiri?” ujarku datar. Ups maaf, tidak juga. Aku suka bertemu chanyeol di café dekat kampus. Haha. saling menunggu untuk pulang bersama

“aku antar saja ya” ia bangkit dari duduknya. “dari pada kau pulang dengan orang asing-”

“haha tidak mungkin”

“aku temani hingga-”

“mianhae, aku sedang butuh sendiri”

“kau sedang badmood?”

“tidak juga sih”

“dasar gadis aneh haha”

“haha sudah terbiasa dengan kata-kata itu”

“Nara…”

“nee?”

“hati-hati pulangnya. Aku masuk kuliah dulu”

“nee”

 

Aku yang aneh atau kau yang aneh. kau tiba-tiba masuk dengan memaksa ke kehidupanku. Kau baik, bahkan sangat baik, dan juga tampan. tapi sayang, aku lebih tertarik dan setia pada Chanyeol.

 

“eh?”

aku melihat sunbae skateboard itu menuju taman dengan skatebardnya, “wajahnya sedang murung. Kenapa ya?”

Tanpa sadar aku berlari mengikuti sunbae itu. ya namanya jalan dengan menaiki sateboard pasti berbeda, aku sudah berlari, tapi tetap tidak terkejar. Akhirya sunbae aneh itu berhenti di danau Kyunghee. Jangan tanyakan aku nama danaunya apa, karena aku hanya tahu danau Kyunghee.

 

“kau bolos yaaa?” ujarku, dan ia sepertinya kaget melihatku di sampingnya. Ia menatapku tajam. Hei, sudahlah, aku sudah cukup stress beberapa sunbae menatapku aneh hari ini

“jangan tatap aku begitu” aku menengok ke arah lainnya, menghindari tatapannya. Dia seram.

“kenapa kau selalu di sekitarku?”

“aku kan kuliah disini juga, jadi jika kau melihatku, kan wajar” ujarku sambil tersenyum, dan lagi-lagi, senyumanku hanya dianggap angin, “beruntung kau melihatku yang manis ini”

“tidak juga” ucapnya datar, lalu ia pergi meninggalkanku dengan skateboardnya. Ish tidak sopan!! Kau tidak tahu kan lelahnya mengejar seseorang yang menggunakan skateboard. Nafasku hampir habis!

Namun tak lama ia berhenti dan menengok ke arahku, “kau ada waktu sekarang?” teriaknya. Lalu aku mengangguk, dan berlari mendekatinya. Ada apa ya?

 

ASTAGA! Ia menyuruhku menemaninya dan berbicara apa saja selama satu jam. Awalnya aku merasa seperti orang bodoh karena bicara sendiri tanpa disauti sedikitpun. Namun ketika aku diam, ia akan berbicara sedikit. Ia memang tidak tersenyum, namun aku melihat keramahan di matanya. Seperti autobots saja!

Aku terus menatapnya. Entahlah, aku suka sekali disampingnya seperti ini. nyaman, “oppa”

“waeyo?”

“jeo neun Nara imnida”

“arayo”

“neo ara?”

“kau sering mengatakannya”

“hmm, geurom, Ireumun mwoaeyo?”

“…”

“oppa ga…”

“…”

“kenapa setiap ku tanya nama kau selalu begitu?”

“begitu?”

“apa kau membenciku?” tanyaku takut

“jika aku tidak memberitahukanmu namaku, apa itu berarti aku membencimu?”

“tidak juga. kau tidak membenciku kan?”

“…”

“oppa?”

“terima kasih sudah menemani. Mau ku antar pulang?” ajaknya dengan tatapan ‘mau atau tidak! cepat jawab!’

“daripada kau antar pulang, lebih baik kau beritahu aku siapa namamu”

“kalau tidak mau, ya sudah, aku pulang duluan ya” ia bangkit, lalu meletakkan skateboardnya di trotoar, dan langsung meningalkanku begitu saja

YAA!! JEONGMAL!          

“ish kan aku tidak bilang tidak mau” gerutuku sambil terus melihatnya menjauh, “sunbae yang sangat aneh”

 

Aku kembali berjalan sendiri ke arah gerbang utama. Aku harus pulang sendiri karena sunbae skateboard bodoh itu! menyesalkan!

“Sungguh terla-”

 

“NARA!”

Ah itu Chanyeol! Tuhan, beruntungnya aku, “Chanyeol!” aku berlari mendekatinya, dan ia tertawa, “aku ikut ya”

“memang kau mau kemana?”

“lho kau mau pulang kan? Atau kau mau main?”

“haha ya aku mau pulang, sudah sore. Ayo”

“YA! jangan menggodaku begitu” gerutuku dan ia tersenyum, “ayo pulang”

“kau terlihat lelah. Ada apa?”

“tidak apa-apa”

“kuliah hari ini lancar tidak?”

“lancar, tidak ada masalah”

“baguslah”

“kita ke supermarket dulu ya, bahan makanan si kulkas menipis”

“oke”

“ah iya kau mau makan apa? nanti ku masakkan”

“apa saja yang kau masak”

“Chanyeol jangan mulai”

“aku tidak mulai. Kalau kau mau masak ya masak saja, nanti aku pasti makan”

“maksudku, makanan kesukaanmu apa, nanti pasti kau makan lahap”

“apa saja Nara, pasti ku makan dengan lahap”

“aduh ya sudah!” ujarku sambil menarik Chanyeol pulang

 

Aku pasrah. Pasrah sudah, pasrah. Sampai kapanpun ku kira ia tidak mungkin mengatakan makanan yang ia suka ataapun tidak suka. sudah dua tahun, aku baru tahu beberapa makan kesukaannya. Ada Sup daging, nasi rempah, tahu sosis, jus lemon, dan masakan segar lainnya.

Walaupun begitu, aku tetap mengutamakan kesehatan suamiku. Hahaha suami? Rasanya agak sedikit riskan ya. tapi kan memang begitu adanya. Ia suamiku. Aku harus mengurusi semua keperluannya. Menyiapkan sarapan, makan  malam, snack, merapikan rumah, mengingatkannya untuk membayar ini dan itu, dan masih banyak lagi. Bersyukur Chanyeol suamiku. Haha. hei hei, sudah. jangan buat wajahku memerah karena malu.

“wajahmu kenapa tiba-tiba merah?” tegur Chanyeol. TUH! Sudah, sudah! untung sudah di bis, jadi tidak terlalu salah tingkah

“ah tidak apa-apa”

“apa kau senang pulang bersamaku haha?” ujarnya yakin dan aku tersenyum

“nee, sangat” aku pun memeluk lengannya

“kau tidak malu memelukku di tengah orang banyak?” ia mengacak-acak rambutku dan tertawa

“kenapa harus malu? Ahhaha. Ah Chanyeol aku sayang padamu”

“aku juga sayang padamu. haha”

 

SAYANG?

Ya memang. Kami memang saling menyayangi. Namun perasaan cinta belum mulai Nampak, atau mungkin kami yang belum sadar. Jadi kami hanya menjalani semaunya dengan baik. aku bersyukur ia selalu mengertiku dengan caranya sendiri. Walaupun terkadang harus berurai air mata

 

“dasar kau haha ada-ada saja”

“setidaknya aku kan tidak melihat ke yang lain” ujarku datar padanya dan ia diam

“maaf”

“hanya maaf? Untuk apa penjara dibuat?”

“kau mau memasukkan suamimu ke penjara?”

“Oh… kau suamiku ya?”

Chanyeol menundukkan kepalanya. Sebenarnya aku hanya bercanda karena aku sudah memaafkannya, walaupun masih kesal jika mengingat ia berciuman dengan gadis itu

“Nara… maaf” ia memeluk lenganku seperti bocah, rasanya aku ingin tertawa tapi ku tahan, “Nara…”

 

Orang-orang yang berada di bis tertawa dan tersenyum melihat tingkah Chanyeol yang seperti bocah merangkulku. Aku malu tapi aku juga senang ia bersikap seperti ini. aku hanya tidak mau kehilangannya. Meskipun aku tidak mengerti kapan perasaan itu muncul, aku hanya ingin menjalani hidupku dengannya. Selamanya.

“haha kau ini kenapa? Jangan manja” aku menepuk lengannya dan ia tersenyum

“jangan begitu lagi. Aku mental breakdown mendengar kau bicara itu”

“oh jadi kalau orang lain tidak apa-apa?”

“Andwae! Andwae! Maldo andwae!! Ah mianhae, jaebal” teriaknya cukup keras di bis dan semua orang tertawa saat melihat kami. Aduh malu

“arasseo. geumanhae, nan gwaenchana”

“Nara”

“waeyo?”

“thankyou for always here”

“always here”

“jangan pernah lelah untuk menungguku”

“akan ku coba”

 

“sebentar lagi Natal, barbeque di rumah ya” ujarku member sinyal, dan ia tertawa

“boleh. Aku yang akan membeli daging dan-”

“kita pergi bersama saja”

“haha baiklah. mau ajak Daehyun sekalian?”

“jeongmalyo? Gwaenchana?”

“tentu saja. lebih banyak lebih menyenangkan, dan pekerjaan lebih cepat selesai”

“kau benar. Haha uri Chanyeol smart!”

“jika aku tidak smart, mana mungkin bisa mendapat beasiswa terbaik di Kyunghee” ujarnya bangga

“eish! stop!”

“haha arasseo”

“boleh ajak Sehun juga kah?”

“NARA!”

“haha arasseo”

 

Sesungguhnya aku hanya ingin lurus! Lurus menjalani hidupku dengan Chanyeol hingga tua nanti. Namun mengapa selalu ada hal yang membuatku tertekan dan ingin menyerah? Mengapa ia selalu melakukan hal yang diluar dugaanku? Dalam hidup memang selalu ada pertanyaan, dan kita memang harus mencari jawabannya. Normal.

Aku akan terus mempertahankanmu, aku juga tahu kau akan mempertahankanku. Namun jika aku merasa harus pergi, tolong jangan tahan aku, karena aku tidak akan mau berhenti untuk berbalik padamu. Bukannya aku tidak menyayangimu, justru karena aku menyayangimu, aku akan membiarkanmu pergi dan mendapatkan yang terbaik.

 

‘I wonder if you’re hurt like me. I wonder if you’re crying like me’

TO BE CONTINUE🙂

One response

  1. Eh? Maksud kalimat terakhirnya nara itu apaaahhhh??

    Oh jadi yang anterin nara pulang itu kyuhyun. Kyuhyun kok perhatian banget sih sama nara padahal kenal juga enggak kan? Ada apa nih sebenernya???

    Terus namja skateboard itu siapaaaahhhh??? Oalaaaahhhh……

    Psed: jangan berulah ya na~chan dengan gak kasih tau aku kalo kamu udah post ini. Aku mau merajuk(?) ke kamu. LOL

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s