[FF] THE REASON [UNTOLD – PART 2]


2st-1

Title     :  THE REASON [UNTOLD – Part 2]

Author :  Anastasia (@keiichiro_nana)

Genre :  Friendship, Romance, Family

Rating:   AG (All Age) / T

Cast     :  Park Chanyeol & Choi/Park Nara

Now your one person, one heart will become us, two people

Even if time passes, we will keep this beautiful moment forever

I have come to express honestly and become a little timid

I’ll get closer closely

I believe that you will be my last love

Forever With You

(Grumbling – Leeteuk ft Krystal)

 

** 3  Months Later **

Hari ini genap tiga bulan pernikahanku dengan Chanyeol. Tidak pernah ada hal yang membuatku risih. bukan aku yang menyesuaikan diri dengannya. Namun ia yang selalu meyesuaikan dirinya denganku. hampir di semua aspek, dia yang terlihat paling berusaha. Contohnya di saat aku tidak suka udang, ia menyuruhku untuk tidak memasak udang. walaupun aku tahu ia suka sekali udang dan beberapa makanan laut. lalu aku yang terbiasa membeli buah jeruk dan anggur, jadi ia selalu memakan apa yang aku beli dan aku buat. walaupun ia tidak terlalu suka jeruk dan anggur. Aku merasa sedih setiap kali aku bertanya apa yang ia suka, namun ia hanya menjawab ‘kau tidak perlu tahu apa yang aku suka. masak dan belilah apa yang baik. aku akan memakannya’ atau ‘belilah apa yang kau suka. nanti aku juga akan memakannya’. Intinya sama bukan? Padahal aku hanya ingin menyediakan makanan yang ia suka. apakah aku salah? Tidak kan? Aku benar. Namun ia selalu begitu. ia selalu membuatku sedih dengan bersikap seperti itu.

setiap pulang sekolah, ia sudah menungguku di gerbang. Ia tidak pernah terlambat menjemputku. Mungkin karena sekolahnya lebih cepat satu setengah jam memulangkan semua muridnya. Aku sangat berterima kasih karena ia selalu menjagaku dan tak pernah menyakitiku. Mungkin belum. Namun aku harap itu tidak akan pernah terjadi. Jangan berpikir yang aneh-aneh. Aku hanya berharap bisa bersamanya dengan baik. itu saja. karena aku harus bisa mempertahankannya selamanya. Aku benar kan?

 

“sudah makan?” tanya-nya sambil menyodorkan kue saat kami baru saja duduk di bus

“siang tadi sudah”

“hari ini dessert-ku cake. Aku sengaja tidak memakannya. Untukmu”

“untukku?”

“hmm…”

 

Beda dengan sekolahku. Sekolah Chanyeol menyediakan menu makan siang. Jadi aku tidak perlu membawakan bekal makan siang untuknya. Setidaknya sedikit menghemat. Sekolahnya termasuk sekolah mahal. Jadi tidak usah heran dengan apa yang baru saja ku katakan. Beda dengan sekolahku. Mungkin sekolahku 2 level di bawah sekolahnya. Ah peduli apa dengan sekolah. aku hanya peduli pada Chanyeol sebenarnya.

 

“buka mulutmu…” aku menyendok cake dan menyuruh Chanyeol membuka mulutnya. ia tersenyum, “Chanyeol ppalli…”

“aaa….” Ia membuka mulutnya dan memakan cake itu perlahan, “cake-nya enak lho. Ayo sekarang kau yang ku suapi” ia mengambil sendok dan menyendok cake itu “buka mulutnya…”

“aaa….” Aku mengunyah perlahan cake-nya. dan benar, rasanya sangat enak dan lembut “enak! Kapan-kapan beli cake dan kita makan di rumah ya” pintaku semangat dan ia langsung mengangguk

“lain kali aku coba buatkan strawberry cake untukmu” ujarnya sambil mengacak-acak rambutku

“memang kau bisa?”

“ya di coba dulu”

“aku tidak mau dapur kita kebakaran!” ujarku dengan tatapan, ‘jangan macam-macam’

“sembarangan. kan belum di coba. Haha. Aku akan berusaha”

“benarkah?”

“ya, tentu saja”

“yeaaay~” aku spontan memeluknya. Rasanya aku tidak canggung seperti dulu. Semua sudah lebih nyaman. Ia bisa membuatku merasakan hal yang sebelumnya tidak pernah ku rasakan. Semua orang di bus tersenyum melihat tingkah kami. Mereka berpikir kami adalah pasangan kekasih. no no no, he’s my husband. Jangan macam-macam. haha

Bila ia di sampingku, aku merasa aman. Aku tahu ia akan selalu menjagaku. Aku ingin terus seperti ini. selamanya. Bahkan kalau bisa, menjadi jauh lebih baik. Bersamanya, hidup dengannya, dan mengerti bagaimana bertahan

 

Unable to hide such expressions. Everything about me being discovered. What should I do, if I somehow like it? Mind goes entirely empty, when I’m looking at you. Escaping from you, like a child. Perhaps you were thinking that I was strange and abnormal. Why did I become like this?

 

**Few Months Later**

“Happy 1st Anniversary Nara!” Chanyeol datang dengan membawa strawberry-cheese cake yang bertuliskan ‘Nara – Chanyeol, 1st anniversary’. Astaga jantungku hampir copot karena terlalu kaget “ayo kita rayakan”

“woaaah!!!” aku tersenyum saat ia meletakkan kue itu di meja. Aku sangat terharu dengan apa yang ia lakukan. ku pikir ia tidak ingat, dan sengaja untuk sibuk sendiri. Ya karena bulan depan ia sudah masuk kuliah, jadi semua dokumen harus ia siapkan. Jadi jika ia tidak ingat, maka malam ini rencananya aku ingin membuat makan malam spesial. Tapi ternyata ia pulang dengan ini dan itu, sungguh membuatku terkejut. Ia menaruh pizza, cola, dan makanan lainnya di meja. Memutar lagu romantis dari ponselnya, dan menatapku dengan sangat lembut.

“happy first anniversary, uri Park Nara”

“happy first anniversary too, uri Park Chanyeol”

“ayo tiup lilinnya bersama” ujarnya sambil mendekatkan diri padaku. Sekarang ia benar-benar di sampingku “make a best wishes for us ya. haha”

“nee. one, two, three”

 

‘semoga aku bisa hidup bahagia dengan chanyeol. Semoga perasaan cepat tumbuh di hati masing-masing kami. Semoga urusan sekolah dan kuliah kami lancar. Amin’

 

“apa yang kau minta?” tanya Chanyeol sambil memotong kue pertama, dan memberikannya padaku

“RA-HA-SI-A. haha. Yang jelas, aku selalu berdoa semua yang terbaik untuk hidup kita”

“aku tahu itu. terima kasih sudah menemaniku setahun ini” ia memelukku, dan aku membalas pelukannya

“sama-sama”

“semoga kita bisa terus bersama”

“nee~”

 

kami merayakan ulang tahun pernikahan kami yang pertama secara sederhana. semoga kehidupanku dan chanyeol bisa jauh lebih baik. kami mengambil beberapa selca dan Polaroid untuk kami pajang di beberapa tempat di rumah. We are fighting, dreamer!!

 

This moment when I’m closing my eyes to pray.

I will hug the heart in you slowly.

Today is a one time chance.

My first footstep I take.

I will promise I’m going to do good.

As expected I, as predicted, happily.

Us two’s own dream That first step 

(BABY – EXO)

 

Sudah setahun aku dan chanyeol menikah. Namun aku tak pernah mengerti bagaimana perasaanya padaku. Apakah ia menyukaiku atau menyayangiku? Hanya saja, aku sedikit risih dengan banyak gadis yang selalu mendekatinya di sekolah. aku tahu ia tidak mungkin berbuat yang aneh-aneh. Tetapi, aku seorang istri. istrinya. Hmm, istri adalah tingkatan tertinggi seorang wanita kan? Jadi aku ingin ia melihatku. Aku ingin ia menyayangiku sebagai wanita. Walaupun aku masih harus memikirkan apa yang aku rasakan saat ini. perasaanku normal kan?? Aku tahu otakku sedikit tidak normal. Tapi bisa kan tidak mengungkitnya dulu?!

 

I know. I’m not the one

But I still don’t want to lose you.

Just this one, listen to me.

I’m your lady, standing in front of you

Am I still not the one? Aren’t I good enough?

Just believe me for this once. I can be good to you

(SNSD – Bad Oppa)

 

**Few Months Later**

Hari ini sekolahku hanya setengah hari, lebih tepatnya hanya kelas satu dan dua. karena kelas tiga sedang mempersiapkan ujian. Oleh karena itu kami di pulangkan lebih cepat. Hari ini aku yang akan menjemput Chanyeol di sekolahnya. Aku sengaja tidak menghubunginya. Aku ingin merasakan apa yang Chanyeol rasakan saat 1 jam menungguku pulang, dan sungguh, sangat membosankan! Bahkan baterai handphone-ku sudah sekarat sedari tadi. entahlah, bagaimana rasanya Chanyeol yang sudah satu tahun menungguku sendiri selama hampir satu jam di sekolah. Sudah hampir 2 jam aku menunggu disini, aku belum mendengar bell pulang sekolah ini. mungkin sebentar lagi…

 

‘ting tong~ ting tong~ ting tong~’ (karena bingung dengan suara bell pulang sekolah, jadi anggap saja bunyi-nya seperti ini. Haha)

 

akhirnya… muncul harapan juga. tak lama kemudian banyak murid berhamburan keluar gedung. Dan di sekitaran murid itu, aku melihat chanyeol dan teman-temannya keluar. Namun, di sekitaran chanyeol ada gadis-gadis cantik. Bahkan jauh lebih cantik dariku.

Ia seperti nyaman dengan keadaan ini. terlihat dari raut wajahnya. Gadis-gadis itu menggunakan rok yang cukup pendek dan terlihat merawat dirinya dengan baik. sangat berbeda denganku. Aku memang tidak seperti, dan terlihat biasa saja. sangat biasa mungkin.

 

“pantas chanyeol terlihat biasa saja padaku…” ujarku pada diri sendiri sambil melihat cara berpakaianku. Aku memang masih tidak mengerti bagaimana berdandan seperti eonni-eonni itu. chanyeol terlihat begitu serasi dengan beberapa gadis. Tentu saja chanyeol cukup tampan, dan, ah sudahlah…

“apa yang ia lakukan. lama!” gerutuku. akhirnya aku mendekatinya perlahan. Ia dan teman-temannya duduk di taman itu. namun aku cukup penasaran dengan obrolan mereka. Karena tadi sempat mendengar kata ‘menikah’ di sela-sela canda mereka. Hei, menikah bukanlah candaan!  kan kalian tidak tahu sulitnya mengurusi seseorang tiba-tiba, dan tinggal jauh dari orangtua! Kalian juga pasti tidak bisa mandadak mandiri, bukan? Huuh!

Aku mendendap-endap seperti maling lagi. Aku ingat, aku seperti ini saat pertama kali bertemu Chanyeol di rumahku. Mirip seperti maling. Perlahan aku mendekati tembok gedung dan berusaha mendengar apa yang mereka bicarakan. Karena chanyeol begitu santai

 

“oppa, aku sangat sedih kau menikah secepat ini’ ujar seorang gadis cantik. Di name-tag nya tertulis ‘Kwon Yuri’. Dan beberapa gadis yang berdiri di sekitar chanyeol terlihat begitu manja mendekati chanyeol. Astaga eonni ini begitu seksi! Baju ketat dan rok pendek!

“istrimu tidak cantik. Tapi manis juga” seorang lelaki yang bernama ‘Byun Baekhyun’, menyeletuk dan chanyeol tersenyum dengan smirknya. Aku tidak pernah melihatnya bersikap begitu

“tinggi-nya hanya sekitar 167. Cukup timpang bila dibandingkan denganmu” imbuh seorang gadis cantik lain yang bernama ‘Choi Sooyoung’. Ia terlihat sangat tinggi dan serasi dengan Chanyeol. Mungkin tinggi sekitar 177cm. hei 167 itu sudah bagus lho eonni. lagi pula sekarang aku sudah lebih tinggi 1,5 cm! rrgghhh~

“siapa namanya? Nara kan?” tanya seseorang yang bernama Kai dengan raut tidak bersahabat. Eh, tapi di name tag-nya, tertulis ‘Kim Jongin’. Mungkin Kai nama panggilannya. Kai? Jongin? Dimana letak persamaannya? Hmm, sudahlah. membahas ini di saat sekarang sama saja bodoh. Namun ia adalah salah satu lelaki yang datang di pernikahanku. Namun waktu itu ia terlihat tampan dan rapi. Apa hanya kedok? Ck!

“iya, Choi.. ah Park Nara. haha” ujar Chanyeol memperbaiki namaku. Ia terlihat tidak menyukaiku di depan teman-temannya. Apa aku bergitu berbeda?

“kau tidak pulang? bukankah kau harus menjemput Nara?” ujar seorang gadis bernama ‘Jung Soojung’. Ia tidak terlalu tinggi, namun ia yang paling cantik di antara semua gadis. Di saat ia mengucapkan namaku, terlihat wajah sedih. Apa ia menyukai chanyeol. Apa secara tidak langsung, aku merebut Chanyeol?

“ah iya benar. Cepat” imbuh Baekhyun sambil menepuk bahu Chanyeol

“iya, sudah telat 10 menit. tapi aku masih bisa menunggunya satu jam lebih disana. Ya sudah, aku duluan ya. jangan lupa kerjakan tugas halaman 17” ujar Chanyeol sambil bergegas jalan keluar gerbang.

 

“astaga…” aku langsung berlari cepat ke luar gerbang. Aku duduk di bangku yang ada di luar gerbang, seperti berpura-pura menunggunya. Namun ia belum juga sampai. Tapi sebenarnya ya aku memang menunggunya!

“Nara…” tak lama ia datang. Aku tersenyum dan langsung bangkit dari duduk pura-puraku “sedang apa disini?” ia tersenyum lalu menguap-usap rambutku. Saat ia mengusap rambutku, aku hampir lupa apa yang ia dan teman-temannya tadi bicarakan. Rasanya cukup sakit mendengar semua itu. kesal lebih tepatnya

“aku menjemputmu. Tadi aku pulang lebih cepat. Tidak masalah kan?” tanyaku datar, dan ia tersenyum

“tentu saja. ayo pulang” ia menggandeng tanganku dan kami bergegas pulang ke rumah

 

Di perjalanan aku hanya diam tanpa kata. Aku masih memikirkan yang mereka katakan. Di perjalanan pulang Chanyeol selalu bertanya apakah aku baik-baik saja atau yang intinya mengapa aku diam saja. aku tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya. aku mendengar apa yang chanyeol dan mereka katakan tentangku. Aku seperti seseorang yang mengharapkan seseorang yang bahkan tidak melihatku. Apakah aku tidak bisa kau sayangi?

 

Why do you keep smiling to me?”

Am I still a child to you?

Just this one, listen to me.

I’m your lady, standing in front of you

 

~[Backsound: Baby Don’t Cry – EXO]~

**Di Rumah**

“sejak tadi siang, kau diam saja. makan-mu juga tidak benar” ujar Chanyeol sambil menyendok soup dari mangkuk, “kau sakit?”

“biasa saja”

“lihat nasi dan laukmu” ujarnya datar, lalu ku lihat makananku. Ya ia benar. Berantakan, “Nara?”

“nee?”

“jika ada masalah kau boleh cerita padaku. Tidak usah datang ke Minho hyeong, atau ke eomma dan appa mu, jangan juga datang ke rumah eomma dan appa ku dengan wajah kusammu”

“kau melarangku bercerita pada mereka?” ujarku dengan nada yang sedikit kesal

“sebenarnya bukan melarang tepatnya”

“Aku selalu cerita pada eomma-mu”

“begini Nara” ia meletakkan sumpit dan memandangku, “aku ini suamimu. Aku harus bisa menjaga perasaanmu. Aku akan bersikap jauh lebih baik lagi sekarang. Aku akan berusaha lebih mengerti dirimu, dan akan selalu berusaha. Tolong ya Nara”

 

Entah mengapa aku merasa bersalah. Aku seperti tidak melihat Chanyeol sebagai suamiku. Aku hanya melihatnya sebagai kakakku. Sama seperti Minho oppa. Tapi sesungguhnya ia memperlakukanku sangat baik. Aku masih terlalu kekanak-kanakan. Bahkan ia sampai meminta agar aku hanya berbicara masalah intern kami padanya saja. nafsu makanku hilang seketika, “aku selesai makan”

“tapi belum habis. Habiskan dulu”

“aku tidak nafsu makan. Kau makan saja. ah iya hari ini tolong cuci piring ya” aku bangkit lalu berjalan malas ke kamar sambil memikirkan kalimat-nya tadi. Chanyeol berlari dan menahan tanganku

“lihat aku” ia membalikkan tubuhku dan memintaku melihatnya. tatapannya, “aku akan menjagamu. Aku tidak mau kau sakit. tolong mengerti kekhawatiranku ini”

“aku tahu. tapi aku mohon, aku sedang tidak mood untuk melakukan apa-apa, dan…”

“apa karena ucapanku tadi?” ia menarikku ke dalam pelukannya “maafkan aku. aku seperti ini karena ingin kau belajar dewasa. Aku akan membantumu berpikir dewasa dan mandiri, karena aku suamimu, Park Nara. kita harus mulai untuk mendewasakan diri kita. Aku tahu ini sulit. Namun kita ini hidup bersama, dan akan selalu seperti ini selamanya. Kau paham kan maksudku?”

 

Aku hanya diam saja di pelukannya saat ia mengatakan hal yang sangat membuatku kaget. Mungkin selama ini aku jauh dari kata dewasa. Aku masih terlihat seperti anak-anak. Namun aku selalu berusaha untuk mengerti dirinya. ia tidak pernah sekali-pun marah atau mengatakan sesuatu dengan nada tinggi atau nada yang membuatku kesal. Ia selalu bisa mengatur emosi-nya. Walaupun aku tahu aku sangat manja dan menyebalkan. aku ingin menangis rasanya

 

‘Jeongmal Mianhae, uri Chanyeol’

 

“maafkan aku ya” ia tersenyum, dan mengecup keningku. MENGECUP KENINGKU!! aku hanya menunduk. Aku yakin wajahku pasti merah seperti kepiting rebus! Bodoh!

“kau tidak apa-apa?” panggilnya lagi. Ku dongakkan kepaaku dan mencoba tersenyum

“gwaenchana. arasseo”

“bagaimana kita makan di luar saja?”

“YAA!! ANDWAE! AKU SUDAH MEMASAK!” teriakku tak terkontrol mendengarnya ingin makan di luar. Padahal aku sudah memasak. Kau tidak tahu setengah mati aku belajar masak sebelum hari pernikahan kita!! rrgghhh~

“hahaha, nah seperti ini kan lebih baik. baiklah, ayoo kita makan” ia menarikku ke meja makan lagi, dan aku pasrah “duduklah. Ayo ku suapi. Buka mulutmu~”

“aku tidak lapar lagi”

“ayo buka~”

“Chanyeol, aku bisa sen-” ia langsung memasukkan sesuap nasi dan lauk ke mulutku

“sudah makan saja. hahaha”

“jangan pernah lakukan itu lagi!”

“aku suamimu. Terserah aku. hahaha”

 

What I’m feeling must be love.

It’s hard to hide it, when a smile appears on my face.

I start to miss you, before the day even ends.

What should I do? My heart is fallen ill

 

**Few Days Later**

“wah kemajuan!!” ujar Daehyun heboh. Hanya dia sahabatku di sekolah. teman baik ada, teman pun banyak. namun hanya ia sahabatku sejak SD.

“ya begitulah. Kemarin ada masalah sedikit”

“ya sudah. Coba untuk selesaikan dengan baik kalau begitu”

“kau tidak penasaran apa masalahku?”

“YA!! aku tidak se-kepo itu bertanya tentang rumah tangga sahabatku sendiri. Mungkin saja kalian ribut saat di ranjang atau bagaimana, dan-”

“YAA!! JUNG DAEHYUN!!!” aku menjitak keras kepalanya, dan ia meringis kesakitan, “jangan berteriak!! Kau mau satu sekolah tahu?” imbuhku sambil berbisik dan terus memukul lengannya

“ah iya aku lupa, maaf” ia menutup mulutnya, “Tapi Nara, apa pernikahanmu ini rahasia?”

“ah tidak juga. Tapi tidak terlalu terekspose makanya tidak heboh”

“tidak mau di-ekspose?”

“YAA!! mati kau jika menyebarkannya!!” aku menjambak rambutnya

“YAA! SAKIT! arasseo!!”

“good!!”

“oh iya kau mau tahu tidak?”

“apa?”

“waktu Chanyeol hyeong menjemputmu, ada beberapa gadis mengerubutinya. Tidak tahu apa yang mereka tanyakan”

“oh…”

“Nara… kau tidak apa-apa?”

“heemm…”

“kau tiba-tiba begitu, dan-”

 

Seketika aku tidak bisa mendengar apa yang Daehyun katakan. Ia hanya fokus menatapku dan aku hanya bisa menerka dari ekspresi dan gerakan mulutnya. entahlah, jujur aku tidak terlalu suka jika aku tahu suamiku di dekati oleh gadis-gadis. Ingin marah. Tapi aku tidak punya hak sepertinya. Salah sendiri, punya suami kelewat tampan dan memiliki suaranya yang supeer sekali. Tidak perlu ku jelaskan lagi nilai tambah yang ada di Chanyeol. Mungkin nilai kurang nya ada di diriku semuanya. Sungguh kasihan kau Park Nara

 

“Nara!!” teriak Daehyun membuyarkan lamunanku. Ku angkat kepalaku, eh bukan si bodoh!!

“CHANYEOL??”

“kau pikir siapa, huh? Ada apa melamun?”

“lho Daehyun, kemana?”

“barusan pulang. ia sudah memanggilmu, tapi kau diam saja. kau ini kenapa?”

“oh sudah pulang”

“hei, jawab pertanyaanku”

“yang mana?”

“astaga Tuhan. Ya sudah ayo kita pulang”

“oke”

“hei apa kau sakit?”

“tidak. biasa saja”

 

Mungkinkah aku menyukainya? Aku bahagia melihatnya di sampingku. Sampai detik ini aku takut menyadari perasaan yang ada. terlebih Chanyeol tidak menunjukkan jika ia mau membuka hatinya untukku. Aku istrinya. Ya memang, tetapi aku tidak tahu apakah aku memiliki hatinya.

Aku selalu cemas jika ia pulang terlambat dari kampus. Takut jika ada gadis centil yang mendekatinya. Terlebih juga, tidak ada yang tahu kalau ia sudah menikah di kampus. Memang tidak di rahasiakan, tapi tidak juga di beritahukan kepada yang lainnya. Ah entahlah!

 

CHANYEOL

** November 3rd**

“Happy Birthday, uri Park Nara” ujarku saat ia baru saja bangun tidur. Ia kaget dengan dekorasi yang sudah ku siapkan

“woaaah!! Daebak! Hahaha, gamsahamnida”

“happy sweet seventeen. Best wishes for you, Nara”

“Chanyeol… terima kasih” ia berlari ke arahku dan memelukku erat. Terkadang ia bersikap layaknya sahabat, terkadang ia bisa menjadi dongsaeng ataupun noona. terkadang ia bisa menjadi sangat manja, dan di saat yang lain, ia bisa menjadi dewasa dan mandiri dengan caranya sendiri

“kau sudah sarapan? Mau makan a-” ia mendekat ke arah meja makan dan tersenyum melihat yang berada di atas meja

“kau membelinya dimana? Haha” ujarnya sangat yakin. Ya aku memang tak bisa memasak. Aku meminta bantuan bibi sebelah untuk memasakkan beberapa makananan untuknya

“kau tidak perlu tahu. haha. Kenapa kau tidak bertanya ‘kau masak sendiri?’ padaku?”

“karena jika kau memasak, aku tidak tahu apa yang terjadi pada dapurku. Haha. Tidak ada tanda-tanda sesuatu habis di masak. Dasar bodoh”

“eish kau ini tidak bisa kah berpura-pura manis. Ini kan ulang tahun-mu. Dasar bocah”

“aku sudah manis suamiku yang manis. Haha”

“aku tahu istriku yang cantik”

 

Ia sangat senang saat aku membelikannya kalung di ulang tahunnya. Ia terus saja bercermin dan melupakanku. Ia seperti orang bodoh bergaya setiap waktu. Dan aku juga tidak kalah bodohnya. Tersenyum saat ia melakukan hal bodoh. Aku senang melihatnya tersenyum. Hey, aku ini suaminya, jadi sedikit banyak kebahagiannya adalah bahagiaku. Walaupun aku masih tidak mengerti apa yang gadis itu pikirkan. Bahkan terkadang aku lupa jika ia suka berpikir. Haha. Ia sering tidak terkontrol, dan kelakukannya sangat sulit di tebak. Hmm, wajar kan jika aku memperhatikannya. Sudahlah, jangan membuatku malu pada diri sendiri karena membicarakan istriku di rumahku. Oke, lupakan. aku seperti orang bodoh. aku serius!

Sekarang Nara sudah kelas tiga, dan kau tahu, ia mulai belajar berdandan. APA-APAAN INI!! Ia sekarang lebih suka menggerai rambut coklatnya saat pergi, ia mulai menggunakan baju feminim dengan warna perempuan. entahlah, sekarang banyak laki-laki yang mendekatinya. Awas saja sampai ia melenceng! aku juga sudah kuliah. Di kuliah aku menemukan banyak hal baru. teman baru, suasana baru, pelajaran baru, dan banyak gadis cantik di kampusku. Haha. Hey aku tidak playboy. Aku hanya suka melihat mereka yang menggunakan pakaian feminim, dan aksesoris lainnya. Namun aku tidak suka jika Nara berdandan seperti itu. dia itu istriku, dan hanya aku yang boleh melihatnya dalam keadaan cantik atau jelek.

Untuk sekolah, aku tetap mejemputnya, tapi tidak setiap hari. karena dalam seminggu ada satu atau dua mata kuliah sore. Jadi aku tidak bisa menjemputnya. Awalnya sedikit kesulitan karena harus menghilangkan kebiasaan itu. sulit? Ya sulit. Karena aku sangat senang melihatnya menghampiriku ketika aku menunggunya pulang. wajah semangatnya, dan saat ia menggandeng tanganku.. aku sudah sangat terbiasa dengan itu.

Ia marah padaku di minggu-minggu pertama aku kuliah. Aku sering pulang sore, dan bahkan dalam seminggu itu aku tidak bisa menjemputnya. Aku jarang di rumah, dan ia kesepian. Akhirnya ku putuskan untuk tidak aktif di kegiatan mahasiswa. Aku tahu, kemampuanku berorganisasi sangat menguntungkan. aku seperti ini karena tidak mau melihatnya muram karena menunggu ku pulang. sudahlah, jangan membuatku bersalah. sekarang aku bisa menjemputnya, walaupun tidak selalu bisa. ia sangat mengerti, dan bahkan ia melarangku menjemputnya. Hmm, sudah ku bilang kan tadi? Sulit. Aku tidak bisa untuk tidak melihatnya. mungkin karena aku suka melihatnya menggunakan seragam sekolah. manis. gaaah, sudah keluar jalur. Lupakan

 

Hari ini aku pulang sore, dan seperti biasa, Nara sudah di rumah dan sudah siap dengan makan malam buatannya. Ada plastik besar di pojok yang membuatku penasaran

“Nara, isi plastik ini apa?” tanyaku. Ia mendekat ke arahku dan tersenyum

“itu plastic. Ada isinya”

“…”

 

Lihatkan! Aku yang bodoh, atau dia yang bodoh. bukankah tadi aku sudah bertanya, ‘Nara, isi plastik ini apa?’. apakah kabelnya putus?

“jangan melihatku begitu Chayeol!!” Nara meonyongkan mulutnya seraya kesal. aku tahu ia tidakk suka ku pandangi seperti ini. tapi kelakukannya astaga

“kemari” aku memanggilnya. ia duduk di hadapanku dan menatapku bingung. Ku raba kepalanya, dan Nara kembali memonyongkan bibirnya

“YAA!! APA YANG KAU CARI?”

“kabel”

“kabel?” ujarnya bingung. Wajah polosnya layak untuk masuk museum sepertinya

“kabel otakmu”

“ha?”

“aku pikir kabel otakmu lepas atau kendur. Makanya ku ajak bicara tidak konsen”

“YAA!! KAU PIKIR AKU ROBOT?!”

“robot saja jauh lebih pintar darimu”

“terserah!!” ia menjauhiku dengan wajah tertekuk. Haha. Aku suka menggodanya begitu. ia akan menggerakan mulutnya ke samping kanan dan kiri sambil terus menggerutu

 

“baik ku ulangi pertanyaanku. Isi plastik hitam ini apa?” tanyaku pelan-pelam, lalu ia menatapku

“coklat, boneka, kue, sepatu-”

“ha kau beli sebanyak ini?” ujarku syok. Bisa kau bayangkan wajah syokku. Aku membelalakkan kedua bola mataku saat ku keluarkan satu persatu barang dari plastik ini

“teman-temanku memberikanku. Haha”

“teman-teman? Gratis?”

“geuromyeon. Mereka menyatakan cinta padaku. Haha. Aku jadi idola, ckck”

“jadi idola ya…”

“karena aku cantik dan manis. Haha. Seharusnya dari dulu ya aku begini”

“memangnya kenapa?”

“pasti aku punya pacar”

“hey hey hey, kau sudah punya suami. Dasar bocah”

“aku tahu. dasar orang tua. Ahaha”

“aku mau ya coklat dan biskut ini” pintaku dan ia mengangguk cepat, “ambil toples. Di tempati saja agar tidak berantakan”

Ia menghampiriku dan membawa beberapa toples, “tolong kau tempati ya. aku mau menata makan malam. Ah iya aku buat sup, hehe”

“sup?”

“Coba cium, baunya sangat enak kan?”

“hmm…”

“sup daging kesukaanmu kan? Kau suka makanan apa lagi, nanti ku coba masakkan kesukaanmu”

“kesukaanku? Sok tahu. haha. Masak saja, aku akan makan apapun yang kau masak”

“aku mengantri susah saekali demi daging ini. huuh”

“tidak perlu daging. Apa saja boleh Park Nara. haha”

“ya..ya..ya.. terserahmu”

 

Ia menyiapkan makan malam dengan wajah masam. Aku tahu ia kesal. ia selalu bertanya makanan kesukaanku, atau apapun yang aku suka atau yang tidak ku suka. aku tidak mau ia tahu karena ku beri tahu. aku ingin ia tahu perlahan drai caranya merwatku. Seperti hari ini, sup daging. Ia tahu akhirnya aku suka sekali sup daging. She does her best. Thank you

Aku ingin tahun-tahun berikutnya ia tetap di sampingku. Aku tahu aku banyak kesalahan. Aku belum bisa mengerti sifatnya, aku belum bisa banyak jujur akan banyak hal, aku bahkan tidak yakin dengan perasaan yang aku punya. Namun akuy akin, seiring berjalannya waktu aku pasti bisa menyayanginya lebih dari ini. selain itu aku hanya akan menyerahkan hidup dan hatiku, hanya untukknya. Walau entah kapan hal itu terjadi. Ku mohon tunggu aku yang menyatakannya pertama padamu, PARK NARA

TO BE COUNTINUE

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s