[FF] THE REASON [UNTOLD – Part 1]


The Reason [Untold - Part 1]

Title     :  THE REASON [UNTOLD – Part 1]

Author :  Anastasia (@keiichiro_nana)

Genre :  Friendship, Romance, Family

Rating:   AG (All Age) / T

Cast     :  Park Chanyeol & Choi/Park Nara

Other cast: Found them by yourself🙂

when you have no options, this is the best choices.

and you have to believe, everything are going to changes!!

***********

Kami belum lama bertemu. Tidak saling banyak bicara untuk mengetahui sisi baik ataupun buruk dari masing-masing kami. Bahkan untuk memutuskan setuju atau tidaknya menikah, kami tidak memiliki banyak waktu, dan memang kami tidak memiliki hak untuk memutuskan. Kami hanya patuh, dan kami sekarang berada disini, saling berhadapan, dan bersiap untuk menjalani kehidupan yang bahkan kami belum banyak tahu apa yang ada di hadapan kami.

 

‘adakah yang bisa mengajakku kabur dari sini?!’

 

FLASHBACK

Entah apa yang terjadi pada bumi akhir-akhir ini. Sedang panas membara, lalu hujan badai. Haruskah aku membawa ini itu ke sekolah agar selalu rapi? Tidak mungkin! Dalam mimpimu. Choi Nara yang bodoh…

 

“aku pulang…” teriakku dari pintu depan. Rasanya beruntung sudah sampai di rumah. Di luar sangat panas. hampir saja aku meleleh. Hmm, tunggu. Aku bukan es krim, jadi lupakan kalimat sebelumnya. Mungkin aku butuh angin sekarang.

Ku taruh sepatuku di rak sepatu seperti biasa dan menggantinya dengan sandal rumah. Kemudian dengan langkah juntai aku memasuki ruang tamu. Namun baru beberapa meter aku melangkah, aku mendengar suara eomma dan appa sedang bercengkrama dengan beberapa orang. cukup ramai. Apakah banyak tamu?

“siapa mereka?” gumamku pelan saat melihat beberapa orang duduk bersama di ruang tamu. Aku belum pernah melihat mereka sebelumnya. Entah megapa aku seperti maling di rumahku sendiri. Mengendap-endap mengamati keadaan. Aku bahkan bingung, untuk apa aku seperti. Mengapa aku tidak langsung masuk dan mencari tahu siapa mereka. ya kalian benar, aku memang Bodoh.

 

“Nara… kemari sayang” eomma menyadari kehadiranku, lalu memanggilku dengan suara lembutnya. Aku segera menghampiri eomma dan duduk di sampingnya

 

“wah ini Nara? cantiknya” ujar seorang wanita yang menggunakan long dress biru muda. terdapat sedikit kerutan di dahinya, namun masih terlihat muda. Ia sangat cantik. Di samping wanita itu ada seorang laki-lak. Mungkin suaminya.

“senang melihatnya. ia sangat manis” imbuh lelaki tersebut. Sesekali lelaki itu berbicara dengan seseorang yang terlihat jauh lebih muda di sampingnya

Aku tersenyum pada mereka. Namun mataku mulai tertuju pada anak laki-laki di samping paman itu. ia hanya mengenakan jeans, kaos dan jaket. terlihat sederhana. mata kami bertemu, dan ia tersenyum

 

‘siapa dia?’

 

“Nara…” eomma membuyarkan lamunanku, “pergilah ke kamarmu. Ganti bajumu, lalu kemari lagi”

“nee~ permisi”

 

Aku berjalan cukup santai meninggalkan ruang tamu, menaiki anak tangga, dan terus melihat ke arah bawah, tempat mereka bercengkrama. ternyata melihat anak lelaki itu masih terus memandangaiku. Raut wajahnya tidak menunjukkan benci, penasaran, atau bahkan suka. hmm, entahlah. hanya saja

 

*beberapa saat kemudian*

“MENIKAH?!”

 

suaraku menyeruak seisi rumah. Mataku mulai membesar karena terlalu kaget dengan apa yang baru saja ku dengar melalui eomma dan appa langsung. Bagaimana tidak, AKU MENIKAH? YA TUHAN! Kali ini aku berlebihan, karena memang keadaan ini berlebihan!! Paman dan bibi ini pun tersenyum menatapku. Mereka menatapku penuh harap. Berharap aku mengiyakan pertanyaan mereka. Aku bahkan tidak tahu bagaimana ceritanya mereka bisa terdampar di rumahku. Mereka tiba-tiba datang tanpa undangan lalu memintaku untuk menikah dengan anaknya.

perusahaan keluargaku dan keluarga Chanyeol oppa ingin bergabung? Oke terserah! Namun mengapa kami yang harus menikah? Alasan mereka adalah karena mereka hanya memiliki anak laki-laki, jadi aku yang harus menikah. Seharusnya mereka mengadopsi anak perempuan dahulu, jadi anaknya bisa di jodohkan dengan oppaku, Choi Minho. Mengpa harus aku?!

 

*malam harinya*

“HA? MENIKAH?!”

 

Suara minho oppa menggelegarkan rumah ini setelah kami menceritakan hal siang tadi kepadanya. aku, appa dan eomma sampai kaget mendengar teriakan. Oppa duduk di sampingku dan menatapku dengan tatapan tajam. Seketika ruang tamu begitu hening. Aku hanya diam. Bahkan untuk menghembuskan napas saja aku pelan-pelan. Kau tahu, aku takut sekarang.

“bagaimana Nara menikah?” ujar oppa dengan suara khasnya. Tegas “dia itu…”

“minho duduklah dulu” eomma menenangkan oppa dengan sudah hampir naik pitam pada appa yang memutuskan semuanya begitu saja. jika sudah marah, aku tidak suka kelakuannya. Sungguh menyebal dan kasar.

“bagaimana bisa tenang kalau….”

“duduklah dulu. Aku kami jelaskan” imbuh eomma

“perusahaan kita dan perusahaan mereka harus di selamatkan. Jika tidak, kita semua tidak akan bisa membayar debit ke bank, dan….” ujar appa dengan suara payau. Aku tahu, semuanya sudah sangat di pikirkan orangtua ku dengan baik

 

“APPA!!” minho oppa berteriak sangat keras kepada appa di saat appa masih menjelaskan masalah hari ini. Aku langsung menarik bajunya agar diam. Minho oppa jika sudah marah, sungguh sulit menghentikannya. Jantungku hampir copot mendengar suaranya

“oppa, berhenti. Jangan begini” Aku tak pernah bisa mendengar seseorang saling berteriak “aku pasti baik-baik saja”

 

“appa… eomma… kalian menjual Nara demi perusahaan?!” tanya oppa dengan wajah penuh amarah. Aku tahu itu. aku mendengar dentuman giginya. Jujur saat oppa mengatakan ‘menjual Nara demi perusahaan’ hatiku sangat sakit. walaupun mungkin sebenarnya mereka tidak mungkin melakukan itu. tapi….

 

“minho, aku tidak mungkin menyerahkan anakku ke orang yang salah” ujar appa. Beliau bangkit lalu mendekat ke arah kami, “aku melakukannya demi kehidupan kalian, pendidikan kalian. Jika aku tidak seperti ini, jangankan sekolah, mungkin makan saja, kalian akan sulit!! Sama seperti keluarga mereka nanti. Chanyeol, Nara, dan kau, belum tentu bisa seperti ini!” suara appa mulai serak. aku melihat butiran air matanya jatuh perlahan. Saat ku lihat eomma, beliau sudah menangis sedari tadi. Begitu terisak.

“setelah perusahaan kami bergabung, semua akan menjadi dua, ah tidak, empat kali lipat lebih baik hari sekarang. Semua untuk Chanyeol, Kau, dan Nara tentunya. Chanyeol tidak akan menyakiti Nara seperti bayanganmu, Minho” imbuh eomma sambil menghapus air matanya

 

Appa bukanlah seseorang yang mudah mengambil keputusan. Semua keputusan yang ia terapkan dalam kehidupan kami tidak pernah salah. Eomma-pun menganalisa semua keputusan dengan teliti. Mereka tidak mungkin sembarangan mengambil keputusan ini. apalagi keputusan untuk menikahkan aku dengan seseorang itu, bukanlah keputusan yang asal. Mungkin sudah banyak sekali pertimbangan yang mereka lakukan

Minho oppa menangis. Untuk pertama kalinya aku melihat ia menangis. Entahlah. hanya saja aku aneh melihat lelaki menangis. Hari ini aku melihat dua lelaki yang aku cintai menangis. haah, terserahlah.

“tapi Nara, kau melipat selimutmu saja masih selalu ku ingatkan. Kamarmu saja selalu kita rapikan berdua. Jika makan tidak habis selalu aku yang habiskan! Kemampuan masakmu belum tinggi! Bagaimana bisa menikah sekarang! Kau masih kecil”

“oppa…” aku mulai menangis dalam pelukan Minho oppa. Untuk sedetik, aku tidak mau menikah dan ingin terus di samping Minho oppa. Ingin selalu menjadi adik kesayangan-nya yang bisa bermanja-manja setiap hari padanya. Aku takut suamiku nanti tidak bisa seperti Minho oppa. Aku juga takut tidak bisa beradaptasi dengan baik saat bersamanya

“appa, dia tidak bisa menjaga dirinya sendiri. Setiap hari aku yang selalu mengawasinya mengerjakan banyak hal. Bagaimana nanti dia hidup berdua saja dengan seesorang itu?” imbuh oppa sambil terus menggenggam tanganku. Ia melihatku khawatir

 

“ia akan menjaga Nara dengan sangat sangat baik. aku sangat mengerti keluarga mereka. Terutama anak mereka” appa memeluk dan menciumku. Aku tahu, ini pilihan yang sangat berat. Namun aku bisa apa?

 

Siwon appa dan Yoona eomma sudah melakukan yang terbaik untuk kami. Sekarang aku harus memulai membenahi semuanya. Aku harus menyelamatan dua keluarga. Menikah bukan berarti aku tidak bisa bersenang-senang dengan sahabat dan keluargaku kan? Bahkan mungkin aku bisa mendapatkan keluarga baru dari suamiku kelak. Suami? Ya suamiku.

FLASHBACK END

 

Sungguh miris kehidupanku. Aku harus belajar untuk melakukan semuanya dengan baik. aku dan suamiku akan memiliki keluarga kecil. Kami akan saling menjaga. Ya sudah seharusnya begitu kan?

Di sampingku. Calon suamiku sekarang di sampingku. Aku cukup gugup menjalani acara ini. bagaimanapun juga, ini hari pernikahanku. Menikah hanya sekali seumur hidup. Ya harus sekali. Aku harus bisa menyesuaikan keadaan.

 

“Park Chanyeol, apa anda bersedia menerima Nara, mencintanya, menjaganya, dan bersamanya hingga akhir waktu memisahkan kalian?”

“ya, saya bersedia” ujar Chanyeol

“dan anda Choi Nara, apa anda bersedia menerima Chanyeol, mencintanya, menjaganya, dan bersamanya hingga akhir waktu memisahkan kalian?”

“ya, saya bersedia” ujar ku

“dengan ini kalian sah sebagai suami istri. Di mata hukum ataupun di mata Tuhan. Selamat”

 

‘kalian sah sebagai suami istri. Di mata hukum ataupun di mata Tuhan’

 

Kalimat itu membuatku terdiam sejenak. oke, aku tidak akan mungkin bisa kabur seperti di drama-drama yang bisa eomma tonton. Lagi pula siapa yang akan mengajakku kabur? Daehyun? haah, tak mungkin dia mau membawaku pergi. Suasana sangat ramai, dan terlihat senyuman sejauh mata memandang. Namun aku merasa tidak mendengar apa-apa. entah rasanya, aku tidak merasa ini benar-benar terjadi. Aku masih berpikir, kenapa harus aku. bukan menyesal, hanya saja, tidak mengerti dengan rencana Tuhan

 

**malam harinya**

Aku pikir hanya sekedar acara, namun tak ku sangka banyak sekali pejabat penting yang datang. Jangankan aku, Chanyeol pun sangat kaget dengan hadirnya banyak sekali tamu penting. Namun ia tetap di luar dan menyapa mereka dengan ramah. Minho oppa datang bersama sahabatnya dan tersenyum melihatku. Ia mengingatkanku untuk bisa mengerti bahwa laki-laki adalah pemimpin. Aku harus bisa dan mau untuk menurut dan memahami semua tentang suamiku. Park Chanyeol.

Malam ini aku dan Chanyeol tinggal di hotel tempat kami mengadakan resepsi pernikahan kami. Kamar yang sangat bangus. Aku belum pernah menginap di hotel dengan kamar sebagus ini. tidak tahu kalau Chanyeol. Mungkin pernah. ia terlihat memandang keluar jendela kamar yang langsung menghadap jalan raya. Karena ini di lantai 10, jadi tidak bising sama sekali. Hanya sesekali angin yang cukup dingin masuk ke kamar. Aku begitu norak. Ya memang. Terus kenapa?? Aku memang tidka pernah masuk ke kamar hotel semewah ini!

 

“aku masih belum siap menikah” ujar Chanyeol sambil melonggarkan dasi-nya. Ia berjalan ke arahku dan duduk di pinggi ranjang. Menghadap ke arahku. Ah tepatnya, duduk di belakangku. berulang kali menghela napas, seakan-akan ia menyesal menikah denganku. aku hanya bisa diam memandang diriku didepan cermin hias ini.

“aku baru tahu kalau aku bisa juga cantik” bathinku saat menunggu apa yang akan Chanyeol ucapkan lagi. Namun sudah hampir 10 menit ia diam. kami begitu hening. Aku mencoba melepaskan jepit yang berada di kepalaku. Sulit.

“maafkan aku Nara…” ujarnya yang tiba-tiba sudah di sampingku. Ia bersimpuh di kakiku dan membuatku kaget setengah mati. Aku langsung memegang bahunya dan mengisyaratkannya untuk bangkit. Dasar, mengagetkanku saja!

Aku memandangnya bingung, “kenapa meminta maaf?”

“bukan begitu. Aku hanya…”

“aku mengerti. seminggu setelah bertemu, kita langsung menikah. Tanpa pernah tahu bagaimana sifat dan sikap dari masing-masing kita. Jalani saja semua dengan baik. Tuhan memiliki rencana di balik semua ini” ujarku sedewasa mungkin. Sebenarnya, ini adalah kalimat eomma sehari sebelum aku menikah. Kalimatnya begitu menusukku. Tapi tersimpan baik di memori card otakku

 

~[BACKSOUND: BABY – EXO]~

“aku janji akan menjagamu”

“ha?”

“Aku akan berusaha menjadi suami yang baik untukmu” imbuhnya dengan suara yang berat. Aku masih diam menatapnya

“hmm…”

“setelah ini kita akan hanya akan tinggal berdua, dan…”

“tunggu. Berdua? Maksudmu?” ujarku memotong ucapannya

“apa mereka tidak memberitahumu?” Chanyeol duduk di sampingku dan menghadap ke arahku

aku memutar mataku, dan mengangkat bahuku, “mungkin belum”

“aku janji akan menjagamu, Park Nara. percaya padaku” imbuhnya lagi. Dan ia menanggilku dengan sebutan ‘Park Nara’. ya mungkin aku memang harus mulai terbiasa mendengar nama itu. no more Choi Nara, but Park Nara. oke, aku akan mencoba.

“ya. aku percaya padamu” ujarku. Ia tersenyum, lalu membantuku melepas jepitan di rambutku

 

“oh iya!!” imbuhku, lalu berbalik menatap Chanyeol “oppa…”

“kita sudah menikah. Kau bisa memanggilku Chanyeol saja”

“hmm baiklah. Chanyeol”

“ada apa?”

“hmm… kita kan masih sekolah. jadi…”

“jadi?”

“hmm…” astaga bagaimana mengatakannya!! Aku ingin mengatakan ‘tidak akan ada hubungan yang seperti itu kan setelah menikah?’. Ya ku rasa kau tahu maksudku itu apa

“jadi apa?”

“setelah menikah tidak akan ada yang seperti itu kan ya?” ujarku perlahan karena malu. Lalu ia tersenyum. Aku yakin ia pasti mengerti apa yang aku maksud

“oh aku mengerti. hahaha. iya. bukannya tidak, tapi belum”

“ya, belum” ujarku. pasti wajahku sangat merah karena ucapannya barusan.

 

‘bukannya tidak, tapi belum’

 

Suaranya yang berat sungguh membuatku malu. Suara dan wajah sama sekali tidak sinkron. Ia sangat manis dan lucu. Namun setelah kau mendengarnya bicara, itu akan sangat berbeda. Ia terus tersenyum menatapku di kaca ambil membantuku membuka jepit rambutku. Selain Minho oppa dan daehyun, tidka ada laki-laki yang dekat denganku sejauh ini. oke memang ada appa-ku yang tampan. Tapi itu tidak masuk hitungan! Astaga, aku malu! Oke. Tampar aku sekarang! Tampar aku, tampar aku!

 

Andai saja ia benar-benar suamiku. Aku pasti sangat bahagia saat ini.

Seorang suami yang menikah denganku, karena ia mencintaiku.

Mencintaiku dari hati, dan tulus menjagaku

Bukan karena sesuatu hal yang datangnya dari luar nurani.

Tapi dari perasaan yang sesungguhnya.

 

Sudah hampir dua minggu kami menikah, dan semua tidak ada yang berubah. Hanya saja aku sudah tidak tinggal bersama eomma dan appa lagi. Aku dan chanyeol tinggal di rumah mungil dengan fasilitas yang bisa dibilang sangat lengkap. Aku sudah mulai terbiasa dengan suara beratnya yang selalu membuatku gugup. Entahlah. hey akujuga tidak tahu, pokoknya aku gugup! selain itu, aku juga sudah mulai terbiasa dengan sifat, sikap, dan kebiasanya. Sejauh ini mudah. Tidak ada bulan madu atau sejenisnya. Tentu saja, kami masih sekolah! haaah, entahlah.

Setiap hari aku memasak, membersihkan rumah, dan lain sebagainya. Semua ku kerjakan berdua chanyeol. Yang di pikiranku adalah, kita bukanlah suami istri. Tapi lebih kepada kakak-adik. Mungkin tidak apa-apa. sampai saat dimana kami berdua siap untuk menyakini bahwa kami ini sudah menikah. Hanya beberapa orang saja yang tahu kalau kami sudah menikah. Mungkin tidak perlu disebarluaskan, dan tidak perlu juga ditutupi. Jalani seperti ini saja. mungkin yang terbaik.

Aku bingung mengapa ia menerima perjodohan ini dan bersikap biasa saja. bahkan aku bisa mengingat dengan jelas saat ia tersenyum dan bergabung ke keluargaku. Ia menyalami para tamu begitu ramah, seakan-akan ia memang sedang berbahagia. Hmm, aku bahagia. Tapi tingkat bahagianya berbeda sepertinya

 

“Chanyeol” panggilku, dan ia menengok ke arahku

“ada apa?” ia berhenti menatap televisi

“kau mengapa menerima perjodohan ini? ah maksudku, kau belum pernah melihatku sebelumnya kan?”

“melihatmu? ya ketika kami datang ke rumahmu. Itu pertama kalinya aku melihatmu”

“lalu mengapa dengan santainya kau menerima pernikahan ini??”

“kenapa? kau menyesal?” ia bertanya dengan suaranya yang berat, dan itu membuatku cukup takut

“bukan. bukan. hanya penasaran sebenarnya. YAA!! jawab saja…” wajahku mulai memerah karena ia menatapku dengan tatapan, ‘kau yakin mau tahu?’-nya itu. entahlah, ia suka seperti itu.

“hahaha sebenarnya…” ia mengalihkan pandangannya padaku dan tersenyum, “orangtua-ku menjelaskan masalah keluarga kami juga sama seperti orangtua-mu menjelaskannya padamu. bedanya ya. kau di jelaskan lebih rinci, dan kau juga melihat siapa yang akan menikah denganmu, yaitu aku. Tidak seperti aku. aku hanya bisa menerka siapa istri-ku nanti, apakah ia cantik? apakah dia baik? apakah dia sesuai yang aku harapkan? Aku tidak tahu. mungkin karena aku sadar bahwa aku sebagai anak satu-satunya harus bisa membanggakan mereka. jadi aku memilih untuk menurut”

“apa aku sesuai dengan yang kau harapkan?”

“hahaha, ya bisa di bilang seperti itu” ujarnya dengan suara beratnya sambil tersenyum, dan goal! Membuatku merah padam! Senyum dan suaranya sangat amat berbanding terbalik. Jantungku berdetak lebih cepat hingga aku pikir jantungku akan lepas bagitu saja.

Aku mencoba tenang dan terus menatapnya, “Chanyeol, kau melakukan ini demi keluargamu?”

“tentu saja. bukankah kau juga?”

“ya”

“tapi Nara, kita harus bisa menyesuaikan diri dengan baik. sekarang kita hidup bukan demi mereka. tapi demi kita sendiri. Kita berdua. kau mengerti kan maksudku?”

“ya, aku mengerti”

 

Aku kembali berkutat dengan cucian piring di dapur. Pikiranku masih absurd. Hey, aku dan chanyeol tidur di kamar yang berbeda. Kami belum berpikiran untuk tidur di kamar yang sama. Terlalu dini untuk berpikiran kesana. Atau hanya aku hanya berpikiran seperti ini? haah, bodoh! Chanyeol terlihat santai saja sejak menempati rumah ini. aiish~ entahlah

 

“hey Nara, lusa kita sudah masuk sekolah. apa kau tidak ada rencana?” tanya Chanyeol sambil menghabiskan snack-nya. Aku hanya menggeleng. Tahun ini aku kelas dua, dan chanyeol kelas tigas. Sudah seharusnya kami serius belajar. Kami bersekolah di sekolah yang berbeda arah. Mungkin ketika kami mulai sekolah, semua akan berbeda.

 

Chanyeol mendekat ke arahku, “mau belanja? Ku temani…”

“150 meter depan supermarket, 50 meter ke sebelah kiri internet café, depannya laundry, di samping rumah sekitar 35 meter adalah salon, 200 meter ke belakang toko pakaian dan kosmetik, tepat di belakang rumah ada…..”

“stop!” Chanyeol membekap mulutku dengan tatapan anehnya “sehafal itukah? Haha”

“geureom. kita sudah  hampir dua minggu disini. lagi pula, aku juga bingung mau apa dan kemana. sahabatku sedang keluar kota dengan keluarganya. Orangtua kita sedang berbisnis ria di Macau. Minho oppa sedang liburan dengan teman kampusnya. ya tidak ada rencana ke-”

“HAJIMA!” ia membekap mulutku dengan tangannya lagi, “kau jika sudah berbicara tidak memiliki titik koma ya?” ujarnya dengan suara-nya yang berat. Maksudnya bukan berat berapa kilo sebenarnya, itu perumpamaan. He has the deep voices. Haha. Aku sangat suka suaranya. Terkesan sangat manly. Ya terdengar keren, dan selalu membuatku gugup

“baiklah aku diam” aku kembali berkutat dengan vacuum cleaner, dan mendengarkan lagu di playlist Ipod-ku. namun aku melihat Chanyeol terus menatapku dengan senyuman, dan aku tidak mengerti apa arti senyuman itu

 

“Chanyeol” panggilku

“apa?”

“berhenti menatapku begitu! rrgghh~” aku mengacungkan gagang vacuum cleaner ke arahnya dan ia hanya tertawa

“haha, hwajeom naejima nara-ya”

“YA!! GEUREOJIMA!”

“hahaha~”

 

** In November**

*November 3rd*

hari ini adalah ulang tahunku yang ke-16. Kalian tahu, aku sangat menunggu ulang tahun-ku yang ke 16. Kenapa? Karena eomma dan appa berjanji membelikanku smartphone baru. yeaay. Tapi kau tahu? CHANYEOL MELARANG! aaaakk, keterlaluan. Akhirnya eomma dan appa tidak jadi membelikanku smartphone impianku itu!! oke aku tahu dia suamiku. Tapi kenapa tidak boleh sih? hanya smartphone!

Sesampainya di rumah, aku langsung duduk dan menonton televisi. aku tidak marah, hanya masih sangat kesal padanya. Untung eomma Chanyeol memasak sangat amat enak. Jadi hampir tertutupi dengan kepuasan itu. tapi tetap saja, kesal. huuh.

“kau marah?” ujar Chanyeol seraya duduk di sebelahku.

Ia terus menatapku dengan tatapan, ‘ayolah jangan marah’. Lalu aku menggeleng pelan, namun tidak mengalihkan pandanganku dari televise. sejujurnya Chanyeol tidak suka ketika ia bicara padaku dan aku tidak menatap matanya. tapi kan sekarang aku sedang kesal. jadi tidak masalahkan?

“kau ingin smartphone?” tanya-nya lagi, dan aku mengangguk pelan. Aku mendengar hembusan nafasnya yang cukup berat. Ia menghadapkan tubuhku padanya. Kini kami berhadap-hadapan. Ia menatapku dengan wajah bersalah. hmm, aku tidak tahu, tapi ya semacam itulah saat ini rautnya. Seketika aku merasa bersalah karena meraung ingin smartphone

“aku akan menabung, dan aku janji akan membelikanmu smartphone. Kita akan membeli yang couple-nya. Setuju?” ujarnya sambil mengacak-acak rambutku. Kau tahu, aku kaget ketika ia mengucapkan kalimat itu. aku sungguh, hmm, speechless. Tetapi…

“ah tidak usah. maaf karena aku masih seperti ini. aku janji tidak akan meminta macam-macam. Maafkan aku” aku menunduk dan sangat merasa bersalah

“tidak, tidak. aku tidak masalah. Aku suami-mu, jadi jika kau mengingkan sesuatu, kita bisa menabung dan membelinya bersama. Katakan padaku dulu apa yang kau inginkan”

“Chanyeol…”

“ya??”

“aku mohon jangan ya. uang untuk smartphone? Bagaimana uang untuk menambah sesuatu di rumah ini? atau uang untuk tambahan belanja?”

“kau yakin?” tanya-nya dengan alis-nya yang terangkat, “jika kau sangat menginginkan sesuatu dan tidak mendapatkannya, maka raut wajahmu akan menjadi seperti sekarang ini”

“kalau begitu harus berubah”

“hmm??”

“sudah, sudah. Aku bersyukur seperti ini, dan aku berjanji, tidak akan meminta yang tidak penting. Sudah ya, jangan di bahas lagi. Bisa?”

“baiklah”

 

Handphone-ku memang masih bagus, begitu juga handphone Chanyeol yang notabene iPhone 4gs! ITU MASIH SANGAT KEREN! rrgghh. Jadi mungkin jika kami yang harus mengumpulkan uang untuk membeli smartphone couple yang baru, entahlah butuh berapa lama. Sedangkan sekarang kami harus bisa mengontrol uang pemberian orangtua kami. Hey, aku baru berumur 16 tahun, tapi mengapa sesulit ini bermana-manja pada orangtua!

 

*November 27th*

Hari ini ualng tahun Chanyeol. Hari ini dia genap berusia 17 tahun. Waaah, suamiku sudah lebih dewasa. Atau aku yang masih anak-anak? Haah, entahlah. tidak usah di bahas. Kami menikah kan masih bocah. Jadi wajah kami masih sangat imut begini.

“Happy sweet seventeen uri Chanyeol” ujarku sambil menyodorkan cake berukuran kecil dengan lilin di atasnya

“gamsahamnida uri Nara”

“beli cake dimana?” tanya-nya, dan raut wajahku terlihat kesal. apa terlihat? Oke lihatlah lebih seksama. Aku sebal!

“aku membuatnya sendiri!”

“jeongmalyo? Hahaha, gamsahamnida” ujarnya, lalu tertawa

 

Aku dan Chanyol duduk di ruang tamu dan meletakkan cake di atas meja. ini adalah cake buatan-ku sendiri. Hebat kan? Aku sudah belajar bebeapa hari saat Chanyeol sedang keluar dengan temannya. Akhirnya aku bisa membuat cake dengan rasa yang tidak kalah enak dengan cake di café seberang. hahaha

 

aku menyodorkan kado yang ku bungkus dengan rapi, “ini untukmu”

“untukku? Ini apa?”

“bukalah” ia segera membuka kado yang ku berikan, dan ia tersenyum “kau menabung berapa lama?” imbuhnya dengan suara yang supeer membuatku senang. Suara berat-nya saat berbicara padaku

“suka tidak?”

“sangat. Sangat suka. gamsahanida Nara”

“ah jeongmalyo? Syukurlah~”

“aku akan memakai jam ini mulai besok ke sekolah”

“nee”

“tas yang ku berikan kenapa tidak di pakai? Kau tidak suka ya?”

“bukan. bukan. bukan. aku takut rusak jika di pakai terus” aku menunduk. Suara beratnya selalu sukses membuat jantungku nyaris lepas. Apabila jika ia mengatakan hal yang sebenarnya bukan seperti itu. aku hampir tidak bisa bicara saking gugupnya

“pakailah. Aku susah payah mencarikannya untukmu. lebih tepatnya butuh watu lama bagiku untuk berpikir hadiah yang cocok untuk istriku. yaksokhae?”

“nee. yaksokhae”

 

‘untuk istriku’

 

Aku tersenyum dengan apa yang baru saja ia katakan. Ia terkadang menyebal, sangat menyebalkan. Terlalu cuek dan selalu saja membuatku kesal. tetapi di balik itu semua aku melihat sisi Chanyeol yang berbeda. Setidaknya sejauh ini terlihat baik-baik saja. santai Nara, ini baru beberapa bulan. Kehidupan masih sangat panjang. Jauh lebih panjang di bandingkan harus keliling dunia. Oke berlebihan!

 

Heart beats fast,

Colors and promises,

How to be brave,

How can I love when I’m afraid to fall,

But watching you stand alone,

All of my doubt suddenly goes away somehow,

One step closer.

(A Thousand Years – Christina Perri)

One response

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s