This is My Choice


ketika 2 pilihan berarti

Pilihan mana yg ku pilih?

ketika aku memilih 1 pilihan

mengapa pilihanku tidak memilihku?

 

*15 tahun yang lalu*

 

**Flashback**

Seulong

hari ini aku dan Yoora ke dokter. Yoora positif hamil 1 bulan. kami sangat bahagia. maklum, usia pernikahan kami sudah 1 tahun

“kau akan jadi appa yang baik, yeobo” Yoora menggenggam tanganku dan meletakkannya di perutnya, aku merasakan ada yg bergerak

“Yoora, saranghae. gomawoyo” ku tarik dia perlahan dalam pelukanku. aku bahagia sangat bahagia

“semoga kita bisa selalu sama-sama”

“aku ingin anak kita laki-laki” aku mengelus perut Yoora

“ah, andwae, perempuan saja, biar manis, yeobo. hahaha” kami selalu bermimpi bagaimana jika anak kami kembar laki-laki & perempuan, tapi tidak mungkin, karena tidak ada sejarah kembar tapi beda gender dalam keluarga kami

“ya sudah, apa saja, asal kau dan anak kita sehat, araasso” aku menggenggam tangan mungilnya

 

Yoora

aku & seulong ke dokter kandungan, dan syukurlah, akhirnya aku hamil. Seulong sangat menginginkan hadirnya bayi di pernikahan kami. seulong menebus vitaminku, sedangkan aku masih di ruang periksa

“yoora, kandunganmu lemah sekali, kau yakin mempertahankan bayi ini? Rahimmu itu lemah. nyawamu bisa melayang. di tambah lagi rasa sakit yang kau kelak rasakan” dokter menjelaskan masalah utama kandunganku. dokter ini adalah seniorku, namanya park Jung Soo

“apa anakku tak apa??” tanyaku

“nee, anakmu tak apa2, yg jd mslh adalah kesehatanmu, bahkan nyawamu, yoora!!” tegas Jungsoo padaku

“tak apa tak masalah oppa, seulong ingin bayi ini. Aku juga senang dan sudah sangat amat menyayangi anak ini, aku tak mungkin melepasnya. ku mohon jangan katakan apa-apa. rahasiakan semua dari dia!!” pintaku memohon pada junsoo. dia hanya tersenyum dan mengangguk. tak lama kemudian Seulong datang

“chagi, sudahkah? ayo pulang, aku lapar” aku bangkit dari tempat duduk, lalu kami memberi salam kepada Jungsoo, dan menuju rumah

 

Ku lalui hari yang sangat menyiksa. 1 atau 2 minggu sekali periksa, kandungan dan kondisiku. Setiap hari minum jamu seduh agar anakku nanti sehat. Setiap hari minum vitamin agar aku bisa bertahan. Ya, setidaknya sampai anak ini lahir. Tuhan, aku tau kau baik, sangat baik, dan menyayangiku. Namun izinkan aku melahirkan anak ini. Izinkan anak ini menggantikanku menjaga seulong. Bantu aku agar bisa memberikan yang terbaik selama aku mengandung anak ini. Biarkan seulong bahagia dengan anak ini Dengan atau tanpa aku

 

** 8 bulan kemudian **

 

**di rumah sakit, ruangan Jungsoo**

 

Yoora

“aku masih sanggup bertahan hingga anak ini lahir. sebentar lagi, oppa” ku tegaskan pada JungSoo yang kebetulan keponakan dosenku di Jepang. Jungsoo oppa sangat baik seperti ahjussi-nya

“baiklah, aku akan usahakan yg terbaik” ia menulis resep untukku dg wajah yg sangat khawatir

“oppa, gomawoyo” aku membungkuk, lalu keluar, dan menuju taman

 

**di taman**

Aku janjian dengan seulong di taman. Sekalian makan siang. Kebetulan kantornya dan rumah sakit tidak jauh. Dengan mobil, pasti jauh lebih cepat sampainya. Semakin lama aku duduk, semakin lama aku berpikir. Berpikir tentang sakitku yang tambah parah, berpikir tentang hidup anak ini, dan seulong nanti

“bagaimana aku bisa meninggalkan seulong? masak saja tidak bisa. anak ini bagaimana? Tuhan biarkan Seulong & anakku merasakan kebahagiaan walau tanpaku” air mataku membasahi pipiku, aku tau penyakit ini tak bisa di sembuhkan. Akan ku relakan hidupku demi anak ini, Tuhan

“Yoora !!” panggilan itu membuat aku tertegun dari lamunanku, dan mengusap kering air mataku dengan tissue cepat-cepat

“Seulong Datang” bathinku

“kau lama sekali, aku lapar!!” aku bangkit dan memeluk Seulong. namun tubuhku terguncang, dan terjatuh. aku mendengar seulong memanggiku

“yoora, yoora, yoora, gwenchana” tapi aku merasa suara itu melambat, dan hilang

 

Seulong

hari ini yoora pergi ke dokter sendiri. dia blg ingin jalan-jalan. aku sebenarnya khawatir dengan keadaanya selama mengandung. selalu minum jamu tradisional yg bau dan rasanya sama-sama pahit luar biasa. aku sering melihatnya mimisan. dan ketika aku tanya dia kenapa, dia tak pernah jujur. dia bilang semuanya terkendali. siang ini aku ingin menjemputnya di taman. dari jauh aku lihat dia termenung, entah apa yg ia pikirkan

“YooRa !!” panggilku, ia langsung bangkit, dan memelukku, ia mengajak cepat2 makan, karena ia lapar, namun baru beberapa saat dia memelukku, dia pingsan

“yoora, yoora, yoora, gwenchana” aku terus-terusan memanggilnya agar tetap terbangun, namun nihil.

semua orang di taman menghampiri kami, dan aku langsung membopong Yoora ke rumah sakit

“Ya Tuhan tolong lindungi yoora, dan anak kami. tolong selamatkan mereka” aku terus berlari sambil memohon pada Tuhan. aku tau sesuatu telah terjadi padanya, dan aku tidak tau itu apa

 

**R.S**


Seulong

“Teuki-ssi, Teuki-ssi (panggilan akrabku pada dr. Park Jung Soo), yoora pingsan tiba2. bagaimana ini” aku berlari ke ruangan Teuki sekuat tenaga. semakin aku melihatnya, semakin sakit hatiku. hidungnya terus mengeluarkan darah segar, terus dan terus, hingga banyak kapas tuk melapnya saat di ruangan teuki

 

Jungsoo (Teuki)

“mworago??” aku kaget melihat yoora di bopong seulong, yg parahnya hidungnya mengeluarkan banyak darah. aku rasa pendarahan di mulai menjelang persalinan

“taruh dia disini, hyeonsa, Yoorin (suster) ambilkan itu, cepat cepat. kau seulong tunggu di luar. hyunnie tolong bawa dia keluar” aku merasa panik, aku tau perjuangannya melawan kanker ini, melawan penyakit yg berbahaya demi anak ini, demi seulong. meminum jamu yg aku tau saat kuliah dia benci, demi anak yg di kandungnya, dia kecil, dan kurus, tapi harus merasakan beban berat seperti ini

“harus di caesar!! anak ini harus keluar, dan ku rasa sudah saatnya” aku keluar untuk meminta persetujuan seulong, sekaligus menceritakan penyakit yoora. aku sadar penyakit ini akan semakin parah, sejak kuliah aku melihat tanda2 penyakit ini, dan sudah menyakitinya pelan-pelan

 

Seulong

aku menunggu dg sangat amat tidak sabar. aku panik dg kondisi yoora. tiba-tiba teuki keluar, aku langsung berdiri

“eottokke, teuki-ah??” tanyaku

“dia harus melahirkan anaknya. kurang 2 minggu dari perkiraan memang, tapi tak apa. kondisinya parah, seulong. kau harus cepat putuskan. ini berkasnya, tandatanganilah” ujar teuki sambil menyodorkan secarik kertas permohonan operasi caesar

“mworago?? separah apa dia? dia sakit apa?” tanyaku beruntun

“tandatanganilah dulu. akan kujelaskan satu persatu” teuki memberiku pulpen hitam tuk menandatangin surat ini

“arasso. sudah ku tandatangani. sekarang jelaskan, hyung!” aku mulai tidak sabar

“saat kalian datang tuk periksa, dan saat kau sedang keluar, aku kembali memeriksa Yoora. aku katakan kandungannya lemah, karena rahimnya kecil. perlu pengorbanan besar tuk melahirkan anak kalian. ku anjurkan tuk relakan kandungan ini. tp dia menolak, krn kau ingin pny anak darinya” kalimat perkalimat ku cerna, aku skg sedikit mengerti knp Yoora minum jamu setiap hari, tak terasa air mataku menetes

“……..” tapi aku hanya diam

“dan ketika tadi pagi dia kesini. kondisinya drop. pikiranku adalah, salah satu dari mereka yg bisa selamat. tapi Yoora menolak. dia bilang sedikit lagi dia bisa bertahan. dia seorang ibu yg tangguh, seulong. sungguh” ketika aku mendengar penjelasan ini, hal yg ku ingin lakukan adalah berlari masuk ke dalam, dan memeluk Yoora, dan aku hanya bisa diam lagi

“mengenai kenapa. dia menderita kanker rahim. kau tau kanker rahim bahaya-nya spt apa? fatal!! kondisinya sangat parah sekarang. bersiaplah dengan kemungkinan terburuk! aku masuk dulu” ah sial, mengapa dia diam saja? penyakit itu berbahaya. Kanker rahim? Ya Tuhan, lindungi Yoora dan anak kami

“yoora, mianhae. jeongmal mianhaeyo. aku suami yg jahat!! aku tidak berguna!” aku menangis sekeras-kerasnya. beberapa suster mencoba menenangkanku, tapi hasilnya aku tambah teriak. khawatir dengan mereka. ah, ani, yoora

“Yoora, aku tak apa kehilangan anak, asal tak kehilanganmu. aku tak apa tak punya anak seumur hidupku, asal aku punya kau. Aku tak apa tak bisa jalan-jalan bersama anakku suatu saat nanti, asal kau bisa terus bersamaku. yoora. saranghaeyo! ” aku menangis, aku menunggu dia di operasi di luar pintu. suster mengingatkan ruangan operasi kedap suara, tapi aku tak peduli. aku yakin dia mendengar. saranghae, yoora. Bertahanlah untukku, aku janji akan bergantian memasak dan merapikan rumah. Aku janji setiap malam sebelum tidur aku kan bernyanyi untukmu. tapi ku mohon jangan tinggalkan aku

 

** 2 jam kemudian **

Di dalam ruangan

 

Teuki (Jungsoo)

“perjuanganmu sampai disini saja ya, yoora” aku menutup matanya tuk terakhir kali, denyut nadinya tak ada. uri Yoora sudah meninggal. Hyeonsa & Yoorin menangis. Anaknya pun menangis

“oeekk oekk oeek” lihat anakmu, kembar. laki-laki & perempuan, seperti yang kau inginkan bukan.  mereka cantik sekali yoora harusnya kau jangan pergi, lihat mereka dulu. Air mataku mulai menetes

“buka pintu, dan ajak seulong kemari” aku meminta hyeorin membuka pintu. tak lama seulong berlari masuk dan berteriak melihat mata yoora yg sudah tertutup

“yoooraaaa! jangan tinggalkan aku! ku mohon! kau bercanda kan? ayo bangun, sudah sore ini, chagi” seulong shock melihat yoora, ku biarkan dia berteriak dulu sampai dia tenang. Semakin seulong teriak semakin bayi ini menangis keras

“kau harus tetap hidup, seulong” aku menyemangatinya tapi dia diam saja membelai rambut yoora

“lihat anak itu! 2 anak itu butuh ayah seulong!! lihat!!” aku mulai emosi dan membentak seulong sambil menunjuk box bayi

“mwo? bayi siapa?” tanya seulong terbata-bata

“bayi kalian selamat. kembar, laki & perempuan, seulong” aku menggandeng menuju box bayi-nya. dia menangis sambil membelai pipi mereka. aku tau seulong yg tegas, dan penyayang. aku tak tau ternyata dia juga lemah, sangat lemah tanpa yoora

“jalani hidup demi mereka, mereka butuh kau! seulong. jangan siakan pengorbanan yoora” aku menepuk pundak seulong

“gomawo hyung, gomawo yoora” dia mencium anaknya dengan kasih sayang, sekarang dia tersenyum tuk anaknya

 

Seulong

berjam-jam menunggu, dan ketika pintu di buka, aku hanya melihat Yoora menutup mata. menutup mata tuk selamanya. dia pergi meninggalkan 2 buah hati kami untukku. hilang 1 dapat 2, tapi hal itu tak akan tergantikan

“appa…appa, tto appa. geurae” aku mencoba bicara pada mereka. anak kembarku Im Na Ra dan Im Yoon Shin

“Nara dan Yoonshin” aku fokus pada tubuh mungil mereka yang menggeliat-geliat. mulai sekarang aku adalah appa dan oemma bagi mereka

“hwaiting, seulong” teuki tersenyum kepadaku, walau aku tau ini berat, teuki benar. masih ada Nara dan Yoonshin

setelah pemakaman, aku pindah ke rumah yang lebih besar. 3 kamar untuk kami. Aku mulai membeli peralatan rumah tangga, membeli baju, box bayi, makanan, danlain-lamin tuk mereka, dan juga kursus masak demi mereka

**flashback end**

 

bulan demi bulan, tahun demi tahun. Ku lewati dengan mereka.  suka dan duka kami jalani bersama. tentu ada masalah ketika mereka menanyakan dimana ibu mereka. aku hanya bisa menjawab “oemma kalian menunggu di surga” , dan semakin mereka dewasa aku harus jujur bahwa oemma mereka sudah tidak ada.mereka bisa menerima, karena memang dari awal kami sudah tanpa Yoora. aku semakin tua, dan mereka semakin dewasa. di rumah kami di pajang banyak photo. photo kami, aku, Nara, Yoonshin, dan Yoora tentu saja

“anak kita sudah remaja, yoora. aku bisa masak dan mengurus mereka lihat, tapi …” aku menyentuh pigura di ruang tamu

 

“yaa!! oppa, itu kue milikku. babo namja!” “ah, kau, aku lapar. aish, babo yeoja! aku minta! pelit kau dongsaeng” aku mendengar mereka ribut lagi di lantai 2

“tak peduli! yaa!! kembalikan! appa….” teriak Nara dengan suara setengah oktaf

 

“nah, kau dengarkan. mereka suka teriak begitu. tapi mereka kompak, dan saling menjaga, yoora” aku tersenyum lihat pigura sambil mendengar anak-anakku berteriak

 

“anak-anak, ayo kita makan di luar. cepat!” aku mengambil kunci mobil dan memanggil Nara & Yoonshin

 

**bruuk bruuk bruuk**

 

suara derap langkah yang sangat kencang

“kita mau makan apa, appa?” tanya Nara

 

“ah, Nara-ah, pizza saja bagaimana? nanti kamu boleh makan bagianku juga? nee” imbuh Yoonshin sambil mengelus2 rambut Nara

 

“jinjaa, oppa? ah, arasso. kajja” Nara menggandeng tanganku, di ikuti Yoonshin. entah kenapa gandengan tangan mereka terasa kau yg menggandeng. kau ada disini kan, mengawasi kami

 

saranghaeyo, Goo Yoo Ra” bathinku

 

Mobil kami melesat di jalan raya. Nara sibuk menyanyi dengan Yoonshin, dan aku? mendengarkan mereka. karena aku, orang tua dan sahabat mereka. aku bahagia dengan hidupku, dan terima kasih ata ssemuanya, Goo Yoore.mawoyo, Yoora, telah menghadirkan 2 anak yg ini. And I’m so happy, because, this is my choice”

 

You know, i’m not regret it anymore, because this is my choice

 

–END–

2 responses

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s