About Us (Part 3)


“hoaah, dia mau menerimaku tidak ya, hyuna??” dia? siapa dia? bukan aku, aku penasaran siapa dia

 

“Mwo? Nugu ni?” aku mencoba tenang

 

“hmm, Park Haerin imnida, dari kelas musik. kau tau kan. itu yg selalu di sampingmu” oh ternyata bukan aku yg ia cinta, ternyata bukan aku yg ia inginkan. rasanya kecewa

 

“nee, aku tau, aku tau. woah, kenapa tak jujur padaku? kan aku bisa bantu” aku pura2 cerewet spt biasa

 

“aku malu, dia idamanku, hyuna. dia sempurna, pintar, dan baik” dia menjelaskan semua hal yg membuatnya mencintai haerin. ya ku akui, haerin sangat sempurna

 

“katakan padanya sekarang. lihat aku baru beli cincin. rencananya 1 tuk mu, dan 1 tuk ku. tapi kau lebih butuh. ini” ku sodorkan cincin cantik yg selama ini ku inginkan dengan senyumanku

 

“jeongmal?? Aigoo~, hyuna, gamsahamnida. Jebal, dangsin-eun nae chingu!” dia memelukku erat

 

“everybody knows! Babo!! ppalli, ppalli, dia masih di sekolah mungkin. belilah mawar. ppalli” aku menyuruhnya cepat pergi, karena sungguh, aku tak sanggup melihatnya, aku ingin menangis dan berteriak, hatiku sakit rasanya

 

“oke, aku pergi. bye” dia berlari meninggalkanku, aku yg menangis, 1 jam, 2 jam, dan akhirnya 3 jam kemudian aku bisa tenang. baru saja aku ingin beranjak dari dudukku. ada namja yg berdiri di depanku, aku harap dia adalah Shinhwa. ku tengadahkan kepalaku

 

“aish, ternyata kau, sunbae” ya dia adalah biang keladi semua masalah yg menimpaku di tahun pertama aku masuk, dia adalah sunbaeku. Malas meladeninya

 

“kenapa kau disini?” tanyanya halus. aku bangun, dan menatapnya dalam-dalam, lalu berbalik pergi

 

“tunggu, kenapa kau menangis, matamu merah” dia menahanku, dan menyentuh mataku, lalu ku tepis keras

 

“yaa!! jangan sentuh aku!! pergi! jangan campuri hidupku. uruslah hidupmu. Aku sedang tak ingin ribut!!” aku berlari menjauhinya. jebal, seharusnya aku tidak membentaknya begitu. ku rasakan ada yang menarikku dan memelukku dari belakang

 

“jebal!! Uljima. uljima” ia mengejarku dan memelukku erat sehingga aku tak bisa lepas, dan akhirnya aku menangis dalam pelukannya. hal yg seharusnya tak aku lakukan karena ia adalah musuhku

 

“ah, mian. sudahlah, kau pergi saja, dan gomapta, sunbae” aku duduk di pinggir sungai, tatapnku kosong. ia menghampiriku lg, dan duduk di sebelahku

 

“jujur aku tak tau mengapa kau menangis. 6 bulan yg lalu ketika kau pertama kali masuk ke dalam hidupku, kau sangat galak, semangat, dan cerewet” tutur lembutnya justru membuatku ingin menangis

 

“pergilah, oppa. ganggu yg dulu. aku ingin sendiri” aku menenggelamkan kepalaku di antara kedua kakiku menutupi air mata yang jatuh menetes pipiku. aku hanya ingin sendiri dulu, menenangkan hatiku yang kacau

 

 

To Be Continued🙂

4 responses

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s