Tiramisu (part 4)


Kyuhyun
kami semua duduk termenung, dan berdoa demi kesembuhan minhyuk. perlahan tapi, pst, aku mendengar Hyuna menyanyi “You are the one. Ojig nomani nesarang. You are the sun. Tasuhi gamsaon miso. You are my love. To na yogshi gudemane ojig dan han saram. Onjekajina gyothe issoyo” itu adalah lagu favoritnya, Hyuna selalu bilang kalo minhyuk suka bermain gitar & bernyanyi itu ketika sedang di taman “hey, gwenchana, hyuna. apa kau lapar?” “aniyo, gwenchana, kyu. aku lapar, lapar akan pelukan & suara minhyuk yg memanggilku chagi” mendengar suara hyuna yg seperti tak ada semangat, hatiku sakit. Ya Tuhan, andai bisa ku gantikan posisi minhyuk di dalam, mungkin hati Hyuna tidak akan sesakit & seperih ini. karena minhyuk tau bagaimana menenangkannya. setelah berjam-jam, akhirnya lampu UGD mati, dan dokter keluar. Hyuna pun berlari menghampiri dokter “dokter, bagaimana minhyuk. apa dia tak apa-apa” dokter tidak menjawab “yaa!! jawab, minhyuk ku selamat bukan!!” Hyuna teriak sangat keras. lalu dokter itu pun membuka pintu agar Hyuna bisa masuk
——–

Hyuna
aku duduk di samping kyu yg sedari-tadi memelukku, tiba-tiba dokter keluar dan aku bergegas menghampirinya “dokter, bagaimana minhyuk. apa dia tak apa-apa” dokter tidak menjawab pertanyaanku, dan membuatku panik “yaa!! jawab, minhyuk ku selamat bukan!!” dokter hanya membuka pintu untukku, lalu aku menggandeng kyu untuk masuk. baru bbrp langkah aku mendengar suara dokter “kau hrs tabah, aku hny bisa berbuat sejauh ini, Tuhan yg menentukan” lalu Kyu cpt2 memapahku pergi “kajja” Ya Tuhan, itukah Minhyuk? dg segalam macam peralatan? dg selang & kabel? matanya sayu memandangku. aku berjalan pelan ke arahnya & tersenyum, aku duduk di sampingnya. dia tersenyum, senyum kesukaanku. aku menangis melihatnya begini. Kyu menghampiriku “aku tinggalkan kalian sendiri, aku ingin bicara dg dokter dulu” lalu minhyuk dg suaranya yg lemah mengiyakan “gomawo, kyu” aku tetap menangis di samping minhyuk, yg sedari td mengelus-elus rambutku & menatapku sayu. Tuhan, aku hrs bagaimana??

—–

*di luar ruangan*

Dokter
“saya salut dengan minhyuk, anak itu mampu bertahan sejauh ini dg luka spt itu. seharusnya dg luka yg ia alami, dia sudah mati di tempat. tp dia bisa menunggu ambulans menjemput, dan berjuang melawan maut”

Tn. Kang

“kira-kira sampai kpn anakku bisa bertahan? setidaknya dg peralatan” istriku & lainnya hny menangis, kami disini semua tau bhw pendarahan yg di alami minhyuk membuatnya tak akan bertahan lama. kami semua pasrah.

Dokter
“jujur, sampai skg saya trs berpikir bahwa keinginan minhyuk untuk bertemu Hyuna sgt besar, sedari tadi Hyuna trs ia panggil. mungkin krn dia, minhyuk bisa bertahan sejauh ini. saya hny bisa blg, bersiaplah tuk kemungkinan terburuk dg waktu yg sgt dekat. Saya tidak bisa berargumen apa-apa lagi”

Kyuhyun
aku sangat sedih mendengar pernyataan dokter. waktu Minhyuk sakit demam, Hyuna adalah orang pertama yg panik, dia seperti orang stress. skg stlh minhyuk di diagnosis tak bisa bertahan hidup lama, aku sudah tak mampu lg membayangkan lg bgmn Hyuna tnp minhyuk, pikiranku mulai jelek “apa tidak ada jalan lain agar dia bisa sembuh? ku mohon dokter. jika kau biarkan minhyuk pergi spt ini, Hyuna akan spt apa nanti. skg saja dia sdh spt mayat hidup. td di dlm saja dia hny bisa menangis di samping minhyuk. tolong dokter” mohonku sambil menangis pada sang dokter, tp dokter itu hny diam & menunduk. yg artinya tdk ada harapan lg bagi Minhyukk hidup, dan artinya Hyuna akan menderita.

*di dalam ruangan*
Minhyuk
setelah aku menutup mata, aku tdk tau apa yg terjadi. aku lelah. tp suara Hyuna terngiang-ngiang di kepalaku “oppa oppa oppa” suara tangisannya sangat memilukan, Tuhan aku ingin bertemu Hyuna, izinkan aku menyampaikan sesuatu padanya, aku ingin menitipkan Hyuna pd Kyu, aku tau dia pst bisa menjaganya. setelah aku terbangun ku lihat pintu ruanganku terbuka, dan ku lihat Hyuna di papah Kyu menghampiriku. Tuhan, dia menangis spt apa td? matanya lebam, pucat. aku tersenyum padanya, lalu dia duduk di sampingku, & menangis sesengukkan. aku mengelus rambutnya yg basah krn hujan. lalu Kyu pamit ingin keluar, & skg hny ada aku & Hyuna di ruangan “hey, jgn nangis trs. matamu nanti sakit” lalu Hyuna mengangkat mukanya “tp kamu lbh sakit drpd mataku. km sakit dmnnya? bisa nahan gak? ayo kita bagi dua sakitnya. biar kamu gak sendiri suaranya ketika mengatakan ayo kita bagi dua sakitnya, membuat hatiku sakit. Tuhan sanggupkah dia tanpaku, Tuhan waktuku sebentar lg, tp dia membuatku tak bisa pergi “gak, udah lbh baik, kan ada kamu. skg jam brp?” “jam 11 malem. aku disini ya temenin km tidur, sini aku pegang tangan kamu” suaranya sangat lembut, dia tersenyum melihatku, ia menggenggam erat tanganku, dan aku pun tersenyum. Tangannya sangat dingin, mengigil. Aku tau dia pasti khawatir padaku, wajahnya pucat. Sudahkah dia makan?

————

 

 

——– TO BE CONTINUED ——–

Tiramisu (part 5)

One response

  1. Pingback: Tiramisu (part 3) « Ganbatte Kudasai

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s