You are the only one


Cerahnya langit malam membuat semua orang bergembira, termasuk gadis yang biasa di panggil Lunna. Dari luar terdengar senda gurau para tetangga, dan anak-anak kecil yang berlarian kesana kemari. Maklum hari ini adalah malam minggu, semua orang suka malam minggu.

Lunna melihat mereka sambil mendengarkan lagu-lagu dari iphone kesayangannya. Sesekali dia tertawa melihat tingkah mereka yang lucu. Sesekali mereka semua memanggil Lunna untuk turun dan bermain bersama mereka. Semua suka Lunna, di sekolah, rumah, bahkan yang baru kenalpun suka pada Lunna.  Dia anak yang baik, ramah, cantik, pintar, dan sopan.

Tapi sepertinya ada satu orang yang tidak sependapat dengan mereka semua, Aryann. Dia tidak sependapat dengan semua itu. Entah kenapa dari pertama masuk SMA, dia sudah tidak suka dengan Lunna. Tatapannya mengisyaratkan kebencian yang teramat sangat. Menurutnya, Lunna itu berisik, cerewet, ribet, suka manfaatin keadaan, dan lain lain.

Walaupun sikap Aryann tidak terlalu bersahabat dengan lingkungan sekolahnya, dia tetap digandrungi banyak anak perempuan, termasuk guru-guru, dan juga ibu kantin. Di mata mreka Aryann itu, cool, keren, pinter, tajir, ganteng pula. Tapi kenapa ya Aryann benci banget sama Lunna ? kenapa juga dia gak pernah mau buka diri tuk orang-orang di sekitarnya ?

** sedikit flashback

Ketika SMP, Aryann pernah punya pacar. Namanya Lunna Shieralia. Dia gadis yang baik  cantik, dan pintar. Mereka menjadi best couple di SMP mereka. Hubungan mereka berjalan lancar, hingga datang pengganggu, Fazha. Fazha adalah teman SD dari Lunna. Dari dulu Fazha memang suka sama Lunna. Dan ketika SMP kelas 3. Mereka di pertemukan kembali. Fazha bertekad merebut Lunna dari tangan Aryann. Dan dengan waktu singkat, Lunna pun jatuh ke tangan Fazha, hal itu membuat Aryann membenci Lunna, dan juga gadis-gadis yang tidak jelas mendekatinya. Setelah lulus SMP, fazha dan Lunna melanjutkan sekolah di luar negeri, dan meninggalkan Aryann dengan kebencian yang masih tertanam di hatinya.


Ternyata itu adalah alasan kenapa dia jadi benci dengan Lunna, karena Lunna adalah satu-satunya anak perempuan yang bernama Lunna di sekolahnya. Sebenarnya Aryann suka denagn sifat Lunna, tapi karena kebenciannya terhadap Lunna-nya yang dulu, membuat rasa itu tertutupi dengan kebenciannya. Walaupun Aryann tetap cuek, dan angkuh terhadap Lunna. Lunna tetap baik dan ramah terhadapnya. Padahal Lunna tidak tahu kenapa dari dulu Aryann menghindar darinya, dan juga anak perempuan lain yang ingin mendekatinya.

Suasana di kelas saat pelajaran matematika sangat hening, karena Pak Hasan sedang memberi instruksi tentang adaya Pendalaman Materi untuk 12 IPA-1. Kelas mereka termasuk kelas unggulan, hanya ada 30 anak yang terdapat di dalamnya, termasuk Aryann dan Lunna.

“sekarang kalian harus serius belajar ya. Saya hanya sebagai alat agar kalian dapat lulus UAN dengan nilai yang maksimal. Kalian harus perbanyak belajar ya. Tunjukkan kalian bisa!” tegas pak Hasan kepada murid-muridnya. Lalu Angga mengangkat tangan “pak, gimana kalau kita adain belajar kelompok aja. Misalnya nih, Lunna sama Aryann kan pinter banget tuh, pak. Gimana??” ternyata usul Angga di setujui oleh anak-anak yang lain, termasuk Lunna. Sedangkan Aryann, tidak mengatakan apa-apa, dia hanya cuek, dan mengangguk ketika di Tanya.

Lunna dan Aryann ada di kelompok yang sama bersama dengan 8 orang lainnya, perkelompok 10 orang. Ya, seperti biasa, Aryann hanya berbincang dengan anak lelaki, sedangkan yang perempuan di acuhkan olehnya. Lunna dan anak-anak perempuan lain sangat penasaran dengan sikapnya yang seperti itu. Lunna mencoba mengajak ngobrol Aryann, tetapi itu hanya di anggap angin oleh Aryann, dan itu membuat Lunna semangat tuk mencari tahu penyebabnya “heran, ada ya cowok yagn juteknya begini banget. Hmm, gue gak akan nyerah” ucapnya dalam hati

Ini adalah minggu kedua dimana belajar kelompok di adakan. Kali ini di adakan di rumah Aryann. Anak perempuan yang lain sangat bersemangat ketika bertemu dengan keluarga Aryann, tapi tidak termasuk aku. Mama dan Kakak Aryann menyambut kami dengan penuh kehangatan. Mama Aryann juga sudah menyiapkan banyak makanan untuk kami.

Semua mengenalkan diri mereka, dan sekarang giliran aku memperkenalkan diriku kepada keluarga Aryann “siang kak, siang tante, aku Lunna, teman sekelasnya Aryann juga. Maaf merepotkan” tanpa aku tahu penyebabnya, Tante Marisha langsung memelukku, dan memegang wajahku “nak, kamu mirip sekali. Namamu, matamu, senyummu” “iya, mirip banget. Senyum kamu manis, dek!” imbuh Kak Raisha yang membuatku tambah bingung. Dan akhirnya aku bertanya “mirip siapa ya?” tanpa mengucapkan sepatah katapun, Tante Marisha, meminta tolong padaku untuk memanggil Aryann di kamarnya, lantai dua.

Setibanya di lantai dua, aku gak kesulitan mencari kamarnya, karena di pintu ada tulisan Aryann’s Room. Lalu aku melongok ke dalam, dan aku tercengang. Kamarnya sangat rapi untuk ukuran seorang cowok. “waww, rapi banget. Bagus” gumamku pada kamar ini. Ku lihat sekeliling kamar, lalu di meja belajar ku lihat banyak photo Aryann dengan seorang gadis. Gadis itu sangat cantik “Lunna? Wih, namanya kok sama, mirip pula matanya?” Aku kaget karena nama, dan wajahnya sekilas memang mirip denganku.

Lalu suara keras nan lantang membuyarkan lamunanku tentang apa hubungan gadis itu dengan Aryann “heh, ngapain lo disini? Jangan pernah masuk kamar orang seenaknya. Kaya gak ada intelektualnya!!” tatapan matanya sangat berbeda dari biasanya “maafin gue ya, yann. Gue gak ada maksud apa-apa kok. Gue Cuma di suruh manggil lo ke bawah sama Mama lo. Just it !” pinta maafku padanya “iya,it’s ok! Asal lo gak kaya gini. Gak suka gue” Aryann pun turun tanpa memperdulikan aku sama sekali “yann, cewek itu siapa? Namanya Lunna, tapi kenapa ya kok sekilas mirip gue?” tanyaku pada Aryann tentang photo yang tadi. Lalu Aryann kembali ke atas, dan menghampiriku. Dia mendekatiku seakan-akan ingin membunuhku “lo gak mirip dia, dia juga gak mirip lo. So gak usah Tanya-tanya lagi tentang dia. Ok!!” tegasnya padaku “iya. Maaf sekali lagi” dan sekali lagi aku harus minta maaf padanya pada menit yang bersamaan yang membuatku sedikit kapok bertanya padanya. Dia ninggalin aku sendirian “huhh, bête. Payah. Galak banget. Ampun deh! Yaudinlah” gerutu ku sembari menuruni anak tangga.

* malam hari di rumah Lunna

Lunna termenung sendiri di ayunan, memikirkan kejadian tadi siang.

“Apa ya hubungan Aryann sama cewek manis itu ? terus kenapa kayaknya dia benci banget pas gue tanya tentang cewek itu ? kenapa dia harus ngebentak gue segitunya sih ! terus kenapa juga tante Marisha & Kak Raisha kaget gitu ngeliat gue ? sekeluarga aneh semua. hhahahaha”  ketawaku geli memikirkan hari ini yang anehnya begitu mendadak

* malam hari di rumah Aryann

Aryann sedang duduk di teras rumah. Berpikir kenapa dia tadi membentak Lunna yang sebenarnya tidak salah apa-apa, dan ada rasa gak enak hati pada Lunna

“ahh, bego. Ngapain coba tadi gue bentak dia. Tadi dia nangis gak sih? Jadi gak enak gue!” “lah, ngapain juga gue mikirin tuh cewek. Salah dia dong, kenapa mau tau urusan gue, dan kenapa juga main nyelonong ke kamar gue” gerutu Aryann pada dirinya sendiri

“tapi, sebernya dia bener. dia mirip sama Lunna. Nama, wajah, senyum, matanya, sopannya, ngingetin gue sama Lunna. Tapi kenapa harus dia? Kenapa juga namanya harus Lunna? Kayak gak ada nama lain aja. Heran gue” Aryann menghela napas, lalu menghembuskannya, sembari menyandarkann kepalanya di kursi

* Keesokan harinya di sekolah

Karena merasa bersalah tentang sikapnya yang kemarin, maka Lunna menghampiri Aryann yang sdang menyendiri di depan kelas, untuk meminta maaf.

“Yann, gue minta maaf ya. Gue tau gue salah. Tapi gue gak ada maksud. Dan tentang cewek itu, gue juga gag ada maksud apa-apa kok. Maaf ya !” pinta Lunna dengan tulus kepada Aryann yang terlihat tidak menanggapi omongannya sama sekali. Lalu Aryann tiba-tiba berbalik, dan memandang tajam Lunna. Dia berpikir, mungkin kemarin dia terlalu keras pada Lunna “iya, gue juga minta maaf, dah ngomong kasar banget sama lo. Mungkin gue ke bawa emosi aja kemarin. Maaf juga ya, Lunna!” ucap Aryann sambil menyodorkan tangannya tuk bersalaman dengan Lunna. Lunna pun tersenyum dan menggapai tangan Aryann”iya. Gak apa-apa!” lalu mereka tertawa bersama di depan kelas, anak-anak pun merasa aneh, dan heran kenapa seorang Aryann bisa berubah 180 derajat seperti itu. Tapi mereka senang karena Aryann sudah bisa berbaur denagn Lunna juga.

Semenjak saat itu, Aryann pun jadi mulai bergaul dengan anak-anak yang lain, termasuk anak-anak perempuan, dan juga Lunna. Mereka pergi bersama-sama, belajar kelompok bersama-sama, dan Aryann – Lunna jadi semakin dekat. Dan anak-anak yang lain menganggap bahwa mereka adalah Best Couple.

*malam hari di rumah Aryann

Semenjak Aryann dekat denga Lunna, ia pun jadi periang. Kak Raisha, dan Tante Marisha, termasuk Om Tyo pun senang karena Lunna mampu mengembalikan Aryann. Dan Aryann berpikir, ternyata Lunna yang sekarang ia kenal, tidaklah sperti yang ia bayangkan, dan ia senang mengenal Lunna.

“lo emang manja, tapi gue suka lo apa adanya. Ramah, easy going, easy listening. Hhaha. Mungkin kalau keadaan memungkinkan suatu saat nanti gue bakal milikin lo, dan hati lo” ucap Aryann sambil tersenyum memikirkan Lunna

* malam hari di rumah Lunna

Lunna duduk di bangku taman sambil memegang photo yang tadi baru di cetak, dan memandang photo Aryann “aduh, Aryann, ternyata lo tuh asyik banget ya jadi orang. Jadi sayang deh sama lo. Semoga gue gak akan kehilangan lo” ucap Lunna pada photo yang sedang ia pandangi

* beberapa minggu kemudian

Hari ini Aryann berencana untuk menyatakan cintanya pada lunna. Aryann meminta bantuan teman-teman sekelasnya. Dia menyiapkan bunga mawar merah dan juga cokelat bentuk Kucing mungil untuk rencananya ini. Sebuah cafe telah mereka siapkan, berserta dekorasinya. Sepulang sekolah nanti mareka akan mengajak Lunna ke cafe ini.

* pulang sekolah

Lunna dan kawan-kawan pun bersiap mengunjungi cafe sepulang sekolah. Tanpa ada rasa curiga, Lunna pun ikut dengan mereka. Aryann dan anak-anak yang lain memang sudah duluan denga alasan ingin mampir ke suatu tempat. Padahal mereka sibuk menyiapkan peralatan, dan beberapa dekorasi agar menarik. Setelah Lunna dan kawan-kawan sampai di cafe, terasa hening di luar. Tapi ketika ia masuk ke café, semua sudah siap sedia. Dan “surprise…….” Sorak anak-anak di depan Lunna, dan Lunna pun kaget “ada apaan nih? Hhaha. Ultah gue udah lewat loh!” canda lunna denga senyumnya yang simple.

tidak lama kemudian, Aryann mendatangi Lunna dengan seikat mawar dan cokelat di tangannya “ada apaan nih?”Tanya Lunna kepada Aryann, lalu Aryann menggenggam tangan Lunna, dan suasana sempat hening ketika Aryann berbicara “maafin gue ya, Lunna. Selama ini gue jahat sama lo. Gak pernah nanggapin lo, dan baru-baru ini gue ngerasa banget kalo lo berarti banget tuk gue” Lunna melepaskan tangannya dari Aryann, lalu bertanya lagi “terus? Maksudnya gimana?” sekali Aryann menggengam tangan Lunna “gue sayang banget sama lo, gue gak mau kehilangan lo, gue cinta sama lo. Mau gak lo jadi sahabat sekaligus cewek gue? Gue butuh jawaban lo sekarang. Bantu gue tuk jadi orang yang lebih baik, Lunna!” pinta Aryann pada Lunna, lalu Lunna berpikir cukup lama, anak-anak pun memberi semangat pada Aryann “terima..terima..terima..” tidak lama kemudian Lunna pun menghela napas, dan suasana hening kembali hadir. Satu kata yang lantang, yang mengubah segalanya “iya” hari itu adalah hari yang bahagia tuk Aryann dan Lunna, teman-teman mereka pun bahagia untuk sahabatnya. Persahabatan memang bagai kepompong J tapi, ketika Lunna mengatakan “iya” seperti ada kegaluan yang melekat di hatinya. Dia sangat menyukai Aryann, tetapi…😦

Hubungan Aryann, Lunna, dan teman-teman yang lain berjalan sangat baik dua bulan ini. Begitu juga hubungan Lunna dengan keluarga Aryann, ataupun Aryann dengan keluarga Lunna. Tante Marisha sangat senang dengan kehadiran Lunna di antara mereka. Karena Lunna adalah pengubah Aryann. Tetapi ternyata di dalam hati Lunna masih terdapat rasa yang mengganggu, seperti rasa penasaran. Rasa yang membuatnya ragu waktu menerima cinta Aryann dulu. “kenapa ya, gue ngerasa Aryann sayang sama gue karena sesuatu hal. Kenapa juga wajah cewek itu selalu kepikiran. Seolah-olah, justru karena cewek itu, Aryann jad sayang sama gue” gerutu Lunna pada mawar yang dulu manjadi pemberian Aryann padanya. Akhirnya satu-satunya jalan adalah ke rumah Aryann, “gue harus Tanya sama Tante Marisha. Mau gak mau, bagus gak bagus, gue gak peduli. Gue mau Tanya semuanya. Semoga aja Tante Marisha mau jujur semua. Penasaran gue !” ucap Lunna

* Bel pulang sekolah pun berbunyi. Aryann bergegas menghampiri bangku Lunna “Lun, aku mau ngajar basket dulu.kamu mau ikut aku apa pulang duluan bareng anak-anak?”  “emang berapa jam ngajarnya?” sahut Lunna “hmm, sekitar 2 jam lebih, soalnya ada sesi pendalaman. Apa kamu mau aku antar pulang dulu, nanti aku balik lagi deh. Aku bilang dulu sama yagn lain. Ok, gimana?” jawab Aryann “gak usah, yann. Aku pulang sendirian aja deh, mau ke gramed cari komik. Anak-anak pada mau ke café, lagi males ke café aku. Hehehe” canda Lunna pada pacanya itu  “yaudah. Tapi kamu hati-hati ya. Kalau laper cari makan dulu, inget jangan makan sembarangan. Nanti sakit. Ok!” sahut Aryann sambil membelai pipi Lunna dengan perasaan khawatir terhadap Lunna. Tapi di dalam hati Lunna mengatakan hal yang berlawanan “yes, kalo dia pulangnya sore, berarti aku bisa leluasa Tanya macem-macem sama Tante. Tentang semua yang bikin aku penasaran” “yaudah aku pulang ya. Kamu semangat ya ngajarnya, daa…” ucap Lunna sambil melambaikan tangan pada Aryann

* Di rumah Aryann

“siang tante, apa kabar” sapaku ketika aku tau Tante yang membuka pintu “siang sayang. Baik kok. Kamu gimana ? gimana sama Aryann ? pelajaran kamu baik-baik aja kan. Duh baru 1 minggu kamu gak kesini, udah kangen aja nih, tante” sapa tante Marisha sambil menyuruhku masuk dan duduk di ruang keluarga. yaa seperrti biasa, tante marisha selalu menanti-nanti Lunna datang, karena Tante Marisha sayang banget sama Lunna. Hehehe, jadi gak enak deh🙂🙂

Setelah duduk dan sedikit istirahat, Lunna pun langsung bicara dan bertanya ke Tante Marisha “tante, aku mau Tanya. Kalau gak keberatan sih, itu juga kalau tante bersedia aku tanya-tanya ” lalu tante mengangguk-angguk dan mengiyakan pertanyaanku, lalu aku langsung ke pokoknya “ini tentang Aryann, maaf ya tante kalau aku lancang bertanya hal yang kayak gini sama tante. Pertama kali aku kesini, tante nyuruh aku panggil Aryann di kamarnya, terus aku lihat bberapa photo Aryann sama perempuan, cantik banget. Nama dan matanya, maaf, mirip deh sama aku. Sekaranga sih udah gak ada. Gak tau kenapa Aku jadi kepikiran siapa dia, tante” tanyaku sambil menatap mata tante Marisha yag sedang serius mendengarkan aku dari awal.

Lalu tiba-tiba “Dia, Lunna Shieralia” suara itu adalah suara kak Raisha yang ternyata sedari tadi sudah mendengarkan semuanya “Lunna Shieralia, kak?” sahutku singkat pada kak Raisha “Iya, namanya Lunna. Dia mantannya Aryann waktu SMP. Dia cinta dan pacar pertama Aryann” belum selesai tante Marisha menjelaskan semua, aku terdiam. Aku kaget, shock. Ternyata dia hanya menganggapku sebagai duplikat dari mantannya , yaitu Lunna “tapi kenapa mereka putus kak. Sebenarnya mereka serasi benget kak” mencoba tegar dengan berkata seperti itu kepada kak Raisha dan tante Marisha “cerita sebenarnya gini, Lunna itu gadis yang baik, cantik, dan pintar. Katanya juga mereka tuh best couple gitu. Tapi ada temen mereka yang mau ngerebut Lunna dari Aryann. Yah namanya juga masih SMP, Lunna ternyata lebih milih temennya itu, namanya Fazha kalau gak salah. Gara-gara itu, Aryann jadi benci banget sama Lunna. Dia jadi males deh cari cewek lagi. Tapi kamu dateng dan merubah semuanya jadi jauh lebih baik dek !” ucap kak Raisha sambil berjalan ke arahku, dan ia kemudian memelukku “iya. Tante beruntung, kamu jadi pacarnya Aryann. Ramah, cantik, sopan, dan periang” kata-kata tante Marisha langsung membuatku tersenyum, tapi di hatiku masih ada rasa sakit ternyata.

*2 jam kemudian

Aku bener-bener senang bisa ketemu keluarga ini. Bagiku tante marisha, kak raisha, dan Om Tyo udah seperti keluargaku, dan Aryann, adalah orang yang aku cintai.

Karena udah sore, aku pamit undur diri. Dan sepertinya Aryann belum pulang, jadi aku bisa tenang. Kak Raisha, dan Tante Marisha juga udah janji tuk gak ceritain ke Aryann kalau aku tanya hal ini ke mereka. Di jalan menuju pulang, dan di rumahpun aku hanya diam, dan berpikir apa yang harus aku lakukan nanti. Jujur keadan seperti ini sangat berat bagiku. Merasa agak gak adil tuk aku.

(to be continue… 🙂 )

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s